<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664</id><updated>2012-01-16T08:06:57.759-08:00</updated><title type='text'>GUDANG FILSAFAT ILMU</title><subtitle type='html'>Blog ini memposisikan operasi kerjanya pada ranah pemaparan buku-buku Filsafat Ilmu, atau artikel filsafat ilmu, artikel yang terkait secara tidak langsung dengan filsafat ilmu. Sejarah filsafat ilmu dan beberapa folsufnya akan diposting tuntas. Blog ini berkeyakinan bahwa mempelajari filsafat ilmu itu mudah, dan siapa saja bisa mempelajarinya, tanpa memandang golongan, agama, gender, ras atau lainnya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5160765273568381254</id><published>2011-08-14T13:32:00.000-07:00</published><updated>2011-08-14T14:02:37.333-07:00</updated><title type='text'>BUKU AJAR FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-YpRoz97dOLE/Tkg0cEbgaoI/AAAAAAAAEBU/4HFdu8IfuQg/s1600/bUKU%2BAJAR%2BFILSAFAT.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 223px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-YpRoz97dOLE/Tkg0cEbgaoI/AAAAAAAAEBU/4HFdu8IfuQg/s320/bUKU%2BAJAR%2BFILSAFAT.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640816190111640194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Buku yang dieditori Reza A.A Wattimena ini menarik, melihat filsafat ilmu pengetahuan didekatkan dengan realitas empirik yang terjadi di negeri ini. Oleh karenanya buku ini menempatkan dirinya sebgai buku ajar yang berdimensi kontekstual. Sungguh menarik buku ini jika cermat membacanya, dan buku ini pantas untuk pembelajaran, karena secara langsung pembaca disentuhkan dengan relaitas sesungguhnya, sehingga mudah cerna. Orang tidak terbawa ke zaman dulu kala yang cenderung melihat kebelakang cerita Athena atau Yunani Kuno, yang hanya berbicara Sokrates dan Plato. Namun pembaca diajak melihat secara aksiologi kendati tak meninggal otologi dan epistemologi. Perlu disambut dengan gembira karena buku ini belum memilki tandingan bahasan. Cocok sebagai buku ajar, utamanya dalam pembelajaran metode diskusi. Buku ini terbit dari kota Surabaya, yang dibidani oleh Universitas Widya Mandala Surabaya. Ada yang akan kami cuplik terkait dengan Pragmatisme pengetahuan, karena  segmen ini mengkritik cara pandang bangsa kita yang cenderung jadi pemakai (konsumen) dari pada produsen. Bangsa yang letih pengetahuan, seperti tiada darah keilmuan yang menyuplai ke tataran ilmu pengetahuan. Tepatnya pada halaman 86 yang perlu dipapar di gudang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5160765273568381254?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5160765273568381254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5160765273568381254' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5160765273568381254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5160765273568381254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2011/08/buku-ajar-filsafat-ilmu-pengetahuan.html' title='BUKU AJAR FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-YpRoz97dOLE/Tkg0cEbgaoI/AAAAAAAAEBU/4HFdu8IfuQg/s72-c/bUKU%2BAJAR%2BFILSAFAT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-6131564598194498072</id><published>2011-05-26T18:07:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T18:29:09.977-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT BERPIKIR ORANG TIMUR</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-leiJk0eJWOU/Td75f8kq2AI/AAAAAAAAD-w/o7cqw4sRjjM/s1600/Konrad.gif" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-leiJk0eJWOU/Td75f8kq2AI/AAAAAAAAD-w/o7cqw4sRjjM/s320/Konrad.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611196512981407746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Profesor Konrad bukunya sering mampir di blog ini, kali ini menulis tentang Filsafat Berpikir Manusia, khususnya untuk belahan dunia timur. Cara berpikir manusia untuk beberapa hal sangat dipengaruhui alam dimana ia berada. Akumulasi sebuah bertalian anatara manusia dan tempat tinggalnya atau tempat dimana dilahirkan akan memberi warna cara pandangnya. Buku ini mengangkat bagaimana jalan pikir manusia. Telaah diarakan pada wilayah pencermatan, antara lain cara berpikir manusia Indonesia, China dan India. Dalam pembahasannya buku ini sangat banyak membahas cara berpikir manusia di belahan Indiadan China, atau dengan kata lain didominasi cara pikir orang India dan China, selebihnya cara pikir manusia Indonesia. Dari paparan ini sangat bermanfaat bila kita ingin mengkaji lebih dalam filsafat pikir India dan China. Pada halaman 88 buku ini , diuraikan tentang 8 pedoman yang memperlihatkan cara-cara kita melenyapkan pelbagai macam derita manusia antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pandangan yang benar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Keinginan yang benar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kata-kata yang benar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tingkah laku yang benar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Gaya hidup yang banar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Usaha yang benar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Berpikir yang benar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;kontemplasi yang banar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Catatan: Pada pembahasan Cara Pikir Manusia Indonesia tampaknya buku ini cenderung pada arah pengajaran bagaimna manusia itu sadar berkewarganegaran, hal ini nampak pada pembahasannya mengedepankan Wasawan Nusantara. Dan sebagian kecil menggambarkan perjalanan sejarah bangsa. Menurut blog ini buku yang dikreasi Prof Konrad Kebung, terkait dengan cara berpikir manusia Indonesia masih dikupas sepintas, belum mendasar. Barangkali ini sebuha strategi Prof Konrad untuk menciptakan buku filsafat pikir bangsa Indonesia secara tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-6131564598194498072?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/6131564598194498072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=6131564598194498072' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6131564598194498072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6131564598194498072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2011/05/filsafat-berpikir-orang-timur.html' title='FILSAFAT BERPIKIR ORANG TIMUR'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-leiJk0eJWOU/Td75f8kq2AI/AAAAAAAAD-w/o7cqw4sRjjM/s72-c/Konrad.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5284905671427387593</id><published>2011-04-18T10:01:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T10:02:36.416-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="CLEAR: both; TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a style="MARGIN-LEFT: 1em; MARGIN-RIGHT: 1em" href="http://4.bp.blogspot.com/-OaNEs1-XLrU/TaxlyIGDzeI/AAAAAAAABCQ/5DAx-5_oYrk/s1600/KISS.gif" imageanchor="1"&gt;&lt;img height="251" src="http://4.bp.blogspot.com/-OaNEs1-XLrU/TaxlyIGDzeI/AAAAAAAABCQ/5DAx-5_oYrk/s320/KISS.gif" width="320" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,'Times New Roman',serif;"&gt;Kita bersahabat tak hanya datang lalu pergi, numun tertambat di hati sanubari. membangun citra-sesama perguruan tinggi. Bina jati diri untuk meningkatkan kualitas keilmuan sebagai universitas. Lama telah dirancang, akhirnya seperti tanaman. Kini berbuah lebat, lahir titian muhibah keilmuan dalam ranah Seminar Internasional.&lt;/span&gt; &lt;b style="COLOR: #8e7cc3; FONT-FAMILY: Arial,Helvetica,sans-serif"&gt;INTERNATIONAL CONFERENCE&lt;/b&gt;-" &lt;b style="COLOR: red; FONT-FAMILY: Verdana,sans-serif"&gt;&lt;i&gt;FUTURE EDUCATION IN GLOBAL CHALLENGES&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;". &lt;span style="font-family:Georgia,'Times New Roman',serif;"&gt;Tadi Senin 18 April 2011 tepat pukul 18.23 WIB, telah lahir gagasan baru, trilogi gagasan itu antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="FONT-FAMILY: Georgia,'Times New Roman',serif; TEXT-ALIGN: justify"&gt;1. Membangun Journal Bersama antara UM (Universiti Malaya) dan Universitas Adibuana Surabaya &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="FONT-FAMILY: Georgia,'Times New Roman',serif; TEXT-ALIGN: justify"&gt;2. Rencana Membuat Buku Bersama &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="FONT-FAMILY: Georgia,'Times New Roman',serif; TEXT-ALIGN: justify"&gt;3. Segera di buka Program Doktoral by Research&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="FONT-FAMILY: Georgia,'Times New Roman',serif; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Terkait dengan seminar Internasional tersebut, tak tanggung-tanggung untuk hadir ke Surabaya, Universiti Malaya mencarter pesawat yang khusus mengangkut rombongan tersebut. Puluhan mahasiswa program pascasarjana Universitas serta belasan profesor dari universitas Malaya hadir di Universitas Adi Buana Surabaya. Tadi malam dalam acara Jamuan Makan, dihibur pula dengan orkes keroncong yang dimainkan oleh karyawan dan para dosen Universitas Adibuana Surabaya. Sangat menyenangkan tentunya, karena disela jamuan makan malam rekan-rekan dari Universiti Malaya sempat melantunkan suaranya melalui lagu, "Bengawan Solo". Tak Ketinggalan Professor Madya Abdul Jalil ikut pula tarik suara. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5284905671427387593?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5284905671427387593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5284905671427387593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5284905671427387593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5284905671427387593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2011/04/kita-bersahabat-tak-hanya-datang-lalu.html' title=''/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-OaNEs1-XLrU/TaxlyIGDzeI/AAAAAAAABCQ/5DAx-5_oYrk/s72-c/KISS.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-6951482677798561550</id><published>2011-04-03T10:30:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T18:00:56.658-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ILMUN PENGETAHUAN: PROF KONRAD KEBUNG, Ph.D</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PY27eke46_A/TZivKqBjryI/AAAAAAAAD38/XmLWYmCnzsw/s1600/FILSAFAT+Ilmu+Prof+Konrad+Kebung.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591411534994845474" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 214px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-PY27eke46_A/TZivKqBjryI/AAAAAAAAD38/XmLWYmCnzsw/s320/FILSAFAT%2BIlmu%2BProf%2BKonrad%2BKebung.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebuah terobosan baru, lenngkap dan up tu date dalam mendalami Filsafat Ilmu Pengetahuan. Kata buku ini: "Filsafat bukan hanya suatu pandangan. Filsafat juga berfungsi sebagai ilmu". Sebagai ilmu, filsafat mendobrak gerbang-gerbang pemikiran segala sesuatu sampai se akar-akarnya. Kebenaran adalah fokus dan komitment sentral para filsuf. Semangat cinta akan kebijakansanaan (Philosophia) terus menerus melahirkan cahaya-caya filosofis baru dalam peradaban.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Buku FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN ini akan membantu kita untuk memasuki, mempelajari dan mendalami ranah-ranah filsafat ilmu pengetahuan karena mengupas tuntas:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hubungan filsafat dengan ilmu dan pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hubungan filsafat dengan kehidupan masyarakat, kebudayaan dan gerak peradaban&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hubungan filsafat dengan perilaku dan tindakan manuasia(Etika)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sejarah perkembangan ilmu sejak jaman klasik sampai kontemporer &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sejarah pembentukan cara berpikir manusia&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;DATA BUKU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff9900;"&gt;JUDUL : Filsafat Ilmu Pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff9900;"&gt;PENULIS : Prof. Konrad Kebung Ph.D.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff9900;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ENERBIT : Prestasi Pustaka Publisher&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-6951482677798561550?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/6951482677798561550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=6951482677798561550' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6951482677798561550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6951482677798561550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2011/04/filsafat-ilmun-pengetahuan-prof-konrad.html' title='FILSAFAT ILMUN PENGETAHUAN: PROF KONRAD KEBUNG, Ph.D'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PY27eke46_A/TZivKqBjryI/AAAAAAAAD38/XmLWYmCnzsw/s72-c/FILSAFAT%2BIlmu%2BProf%2BKonrad%2BKebung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-6584072920027578125</id><published>2011-01-10T05:48:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T07:04:04.101-08:00</updated><title type='text'>PENGANTAR LOGIKA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TSsOTtgrQfI/AAAAAAAAD1w/ukcGgleGoQ8/s1600/Pengantar%2BLogika.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 209px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TSsOTtgrQfI/AAAAAAAAD1w/ukcGgleGoQ8/s320/Pengantar%2BLogika.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560553896715960818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Titel buku ini LOGIKA, namun dari bahasan didalam terdapat beberapa  materi yang bersentuhan langsung dengan filsafat ilmu. Materi yang bersentuhan itu terkait dengan "Kerancuan Pikir" ( Fallacy). Buku ini membekali orang untuk memahami cara berpikir deduksi, yang meletakkan nalar/rasio dalam mencerna kebenaran.  Khusus yang membicarakan kerancuan pikir, buku ini meletakan bahasan di halaman 59- 67. tepatnya di bab enam tentang kerancuan berpikir.&lt;br /&gt;Merujuk dari pemikiran Irving M Copi (introduction to logic, 1959:51). Dalam buku itu diaungkap berbagai bentuk arguymen yang rancu, dan selajutnya dikelompokkan menjadi dua besar, yakni;&lt;br /&gt;1. Formal Fallacy atau Kerancuan Formal&lt;br /&gt;2. Informal Fallacy atau Kerancuan Informal.&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kerancuan Revelansi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; adalah kerancuan pada argumen yang premis-premisnya secara logikal tidak relevan. secara substansial ridak ada sangkut pautnya dengan kebenaran atau kesalahan dari kesimpulan yang mau ditegakkan oleh premis-premis yang diajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, antara premis-premis dan kesimpulan tidak terdapat hubungan logikal. Cara penyampaian mempengaruhi aspek psikologis sehingga antara premis dan kesimpulan terdapat hubungan logikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Irving M. Copi&lt;/b&gt; mengemukakan 10 jenis Kerancuan Relevansi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;b&gt;Konklusi Tidak Relevan/Irrelevant Conclusion/Ignoratio Elenchi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila 1 argumen yang seharusnya dimasukan tidak mendukung 1 kesimpulan tersebut, namun diarahkan dan digunakan untuk membenarkan 1 kesimpulan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;b&gt;Merujuk kekuatan/Argumentum ad Baculum/Appeal to Force&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila orang dengan mendasarkan diri pada kekuatan/ancaman penggunaan kekuatan memaksakan agar 1 kesimpulan diterima atau disetujui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3a. &lt;b&gt;Argumentum ad Hominem/Abusive&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila suatu argumen diarahkan untuk menyerang pribadi orangnya, dengan menunjukkan kelemahan/kejelekan orang tersebut dan tidak berusaha secara rasional membuktikan bahwa apa yang dikemukakan orang yang diserang itu salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3b&lt;b&gt;. Argumentum ad Hominem/Circumstantial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi sebuah argumen diarahkan pada pribadi orangnya dalam kaitan dengan situasi/keadaan orang itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;b&gt;Argumentum Ignorantiam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila suatu hal dinyatakan benar semata-mata karena belum dibuktikan bahwa hal tersebut salah/sebaliknya suatu dinyatakan salah karena belum dibuktikan bahwa hal itu benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;b&gt;Argumentum ad Misericordiam/Appeal to pity/Rasa Iba&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila rasa kasihan digugah untuk mendorong diterimanya /disetujuinya suatu kesimpulan. Terjadi pencampuradukan perasaan dan jalan pikiran orang sehingga terdorong untuk menyetujui/tidak menyetujui sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;b&gt;Argumen ad Populum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila orang berusaha mengemukakan dan memenangkan dukungan untuk suatu pendapat/pendirian dengan jalan menggugah perasaan/emosi; membangkitkan semangat berkobar-kobar pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&lt;b&gt; Argumentum ad Verecundiam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila usaha memperoleh kebenaran/dukungan atas suatu kesimpulan/pendapat dilakukan dengan jalan mendasarkan diri pada kewibawaan orang terkenal, namun keahlian terletak di bidang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;b&gt;False Cause/Kausa Palsu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi dengan cara menyatakan adanya hubungan kausal (sebab-akibat) antara 2 hal pada hubungan kausal itu tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;b&gt;Complex Question/Pertanyaan Majemuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bila diajukan 1 pertanyaan majemuk tapi kemajemukannya tidak diketahui/ dikaburkan dan untuk pertanyaan tersebut dituntut hanya 1 jawaban tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;b&gt;Begging the Question/ Petitio Principii&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengasumsikan kebenaran dari apa yang mau dibuktikan sebagai benar dalam upaya untuk membuktikan kebenarannya. Sering penggunaan kata-kata untuk mengungkapkan argumen ini mengaburkan fakta bahwa tersembunyi dalam salah 1 dari premis-premis yang diasumsikan tercantum kesimpulan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-6584072920027578125?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/6584072920027578125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=6584072920027578125' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6584072920027578125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6584072920027578125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2011/01/pengantar-logika.html' title='PENGANTAR LOGIKA'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TSsOTtgrQfI/AAAAAAAAD1w/ukcGgleGoQ8/s72-c/Pengantar%2BLogika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-2945513497633188714</id><published>2010-11-01T16:42:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T03:48:52.992-07:00</updated><title type='text'>KEBENARAN DALAM MATRIK</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14pt;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KEBENARAN DALAM MATRIK&lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;SUMBER&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Rangkuman Ilmu Perbandingan Agama dan Filsafat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; Dr. Ali Anwar, MSi, dan Drs. Tono TP.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNoSpacing" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable"  style="border-collapse: collapse; border: medium none;font-family:arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border: 1.5pt double red; padding: 0in 5.4pt;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;TEORI KOHERENSI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Teori kebenaran saling berhubungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perumusan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Protagoras,   dikembangkan : Hegel (abad 19)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Prinsip&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Deduksi   (Umum &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;--&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Khusus)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tingkat   Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kuat/lebih   meyakinkan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;URAIAN/CONTOH&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesuatu   itu benar jika ia mengandung yang koheren, artinya kebenaran itu konsisten   dengan kebenaran sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebenaran   ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dan pernyataan lainnya yang sudah   lebih dahulu kita ketahui dan diakui benar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suatu   kepercayaan adalah benar bukanlah karena bersesuaian dengan fakta, melainkan   karena ia bersesuaian atau berselarasan dengan binaan pengetahuan yang kita   miliki&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p  class="MsoNoSpacing" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNoSpacing" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable"  style="border-collapse: collapse; border: medium none;font-family:arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 204);"&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border: 1.5pt double red; padding: 0in 5.4pt;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;TEORI KORESPONDENSI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suatu itu benar jika ada yang   dikonsepsikan sesuai dengan obyeknya (Fakta)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perumusan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bertrand   Rusel (1872-1970), awalnya Aritoteles&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Prinsip&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Induksi   (Khusus--&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Umum)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tingkat   Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tingkat   kebenaran agak rendah karena sifat metode induksi itu sendiri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;URAIAN/CONTOH&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebenaran   dicapai setelah diadakan pengamatan dan pembuktian (Observasi dan Verifikasi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebenaran   itu berupa kesesuaian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(korespondensi)   antara apa yang dimaksud oleh suatu pendapat dan apa yang sungguh-sungguh   merupakan fakta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p  class="MsoNoSpacing" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNoSpacing" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable"  style="border-collapse: collapse; border: medium none;font-family:arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="color: rgb(255, 255, 0); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border: 1.5pt double red; padding: 0in 5.4pt;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;TEORI PRAGMATIS&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suatu itu benar jika menimbulkan akibat   positif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pencetusnya   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Charles S,   Pierce (1835-1914)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para   Ahlinya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;William   James (1842-1910), Jhon Dewey (1859-1952)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tingkat   Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239.4pt; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; border-style: none double double none;" valign="top" width="319"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lemah (ada   unsure subyektivisme)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;URAIAN/CONTOH&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 6.65in; border-width: medium 1.5pt 1.5pt; border-style: none double double;" valign="top" width="638"&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Benar   tidaknya suatu pendapat, teori, atau dalil semata-mata beragantung pada   faedah dan tidaknya pendapat tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam   penghidupannya yaitu ada nilai praktis, ada hasilnya, berguna, memuaskan   (satisfies), berlaku (work)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi   pragmatism, suatu agama bukan benar karena Tuhan yang disembah atau Tuhan itu   benar-benar ada, tetapi karena pengaruhnya yang positif dan berkat   kepercayaan itu, masyarakat jadi tertib&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-2945513497633188714?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/2945513497633188714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=2945513497633188714' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2945513497633188714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2945513497633188714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title='KEBENARAN DALAM MATRIK'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-7294116354820861419</id><published>2010-10-31T05:37:00.000-07:00</published><updated>2010-11-07T16:47:55.272-08:00</updated><title type='text'>ILMU PERBANDINGAN AGAMA DAN FILSAFAT.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TM1jJtbYIkI/AAAAAAAADrE/13KDhuvZ3Mg/s1600/Ilmu,+Perbandingan+Agama+dan+Filsafat.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 232px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TM1jJtbYIkI/AAAAAAAADrE/13KDhuvZ3Mg/s320/Ilmu,+Perbandingan+Agama+dan+Filsafat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534188535572603458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Dari buku ini ada kutipan yang bermanfaat, yakni sekitar apa ilmu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Hasil sadapan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;ILMU ( Yang dimaksud Ilmu Pengetahuan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Ilmu adalah hal-hal yang diketahui (keseluruhan dari kebenaran-kebenaran yang terkait antara satu dan lainnya secara sistematis)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Ilmu adalah hal-hal yang kita dapat mengetahui sesuatu (kemampuan untuk menarik kesimpulan dari sejumlah data tertentu dan dengan cra tertentu)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Ilmu adalah pengetahuan yang mempunyai dasar dan berlaku secara umum dan niscaya/pasti&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Ilmu merupakan akumulasi pengetahuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang disistemisasikan . Suatu pendekatan /metode pendekatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap dunia empiris, yaitu dunia yang terkait dengan ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Science empircal, rational, general and cummulative and is all four one” (Ilmu ialah empiris, rasional, umum dan bertimbun-bersusun, dan semuanya serentak) (Ralph Ross)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Ilmu adalah pengetahuan yang telah disitemisasikan, yakni disusun teratur mengenai suatu bidang tertentu yang jelas batas-batasnya mengenai sasaran, cara kerja, dan tujuannya. Ilmu diikat oleh suatu kesamaan cara kerja yang disebut metodologi (metode ilmiah), dan merupakan suatu disiplin ilmiah. Ilmu lahir Dari pengamatan yang cermat melalui mata, pencerapan indera, yakni mencerap melalui mata, telinga, hidung, otak dan lain-lain, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat-alat bantuan (mikroskop, sinar X, teleskop, radio teleskop, potret prisma, &lt;span&gt;high fidely microphone&lt;/span&gt;, dan sebagainya).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ilmu baru dikatakan ilmu kalau telah lengkap menyeluruh. Ilmu adalah pengetahuan yang telah menyempurnakan diri berdasarkan kumpulan data yang lebih lengkap dan perbaikan cara kerja terus menerus.[Halaman: 17-18]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;SIFAT-SIFAT ILMU:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Rasional&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt; : (Proses pemikiran yang berlangsung dalam ilmu itu harus dan hanya tunduk pada hokum logika)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Empiris&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt; (Kesimpulan yang didapatnya harus dapat ditundukkan pada verifikasi pancaindera manusia)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Sistematis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;: (Fakta yang relevan itu harus disusun dalam suatu kebulatan yang konsisten)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Umum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;: ( harus dapat dipelajari oleh setiap orang tidak bersifat esoteric)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Akumulatif:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt; (Kebenaran yang diperoleh selalu dapat dijadikan dasar memperoleh kebenaran)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;[halaman 19-20]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 153, 0); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;JUDUL : Rangkuman Ilmu Perbandingan Agama dan Filsafat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;PENULIS:DR. Ali Anwar Yusuf. Drs. Tono.TP&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;PENERBIT: CV Pustaka Setia. Jl. BKR-LIngkar Selatan No. 162-164. Telp:(022-5210588-5224105.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;ISBN: 979-739-585-6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;CETAKAN: I : Oktober 2005&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"  style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;TEBAL: 232 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-7294116354820861419?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/7294116354820861419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=7294116354820861419' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7294116354820861419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7294116354820861419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/10/ilmu-perbandingan-agama-dan-filsafat.html' title='ILMU PERBANDINGAN AGAMA DAN FILSAFAT.'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TM1jJtbYIkI/AAAAAAAADrE/13KDhuvZ3Mg/s72-c/Ilmu,+Perbandingan+Agama+dan+Filsafat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-6093178043372108511</id><published>2010-10-28T04:14:00.000-07:00</published><updated>2010-10-28T04:18:19.567-07:00</updated><title type='text'>TIGA INSTITUSI KEBENARAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TMlbNrz7qVI/AAAAAAAADq8/2NvctIzTe3g/s1600/ILMU+DAN+AGAMA.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 207px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TMlbNrz7qVI/AAAAAAAADq8/2NvctIzTe3g/s320/ILMU+DAN+AGAMA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5533053907858336082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mengendus dari buku Pak H. Endang Safiuddin Anshari MA.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1027"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Bauhaus 93&amp;quot;;"&gt;TIGA INSTITUT KEBENARAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(Sumber Ilmu-Filsafat &amp;amp; Agama- H.Endang Saifuddin Ashari, MA)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Manusia pada hakikatnya adalah makhluk pencari kebenaran, karena dalam dirinya selalu diliputi oleh rasa keingintahuan. Nalarnya selalu menjelajah untuk menemukan kebenaran. Daya jelajah otak kadang terbatas, dan disertai keterbatasan daya tangkap indera, memungkinkan capaian terbatas. Namun ketika rasa ingin tahu yang tak mungkin terbendung manusia selalu mencari dan mencari. Terdapat tiga jalan untuk menghapiri kebenaran itu yakni, &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Agama, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Namun ketiga jalan penemuan kebenaran itu memiliki kekhususan. Adapun kekhususan yang dimaksud adalah, adanya titik persamaan, adanya titik perbedaan namun juga ada titik singgung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="border: 1pt solid windowtext; padding: 1pt 4pt;"&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; border: medium none; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;ILMU PENGETAHUAN:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Ilmu pengehtauan itu pada hakikatnya merupakan hasil usaha manusia yang kemudian disusun dalam satu system mengenai kenyataan, sturktur, pembagian., bagian-bagian dan hukum-hukum tentang asal muasal yang pernah diselidikinya, seperti:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(alam, manusia dan juga agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran manusia yang dibantu penginderaan, yang kebenarannya diverifikasi/diuji secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;empiris, riset ataupun eksperimental.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border: 1pt solid windowtext; padding: 1pt 4pt;"&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: right; border: medium none; padding: 0in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;FILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Endang Saifuddin Anshari, MA (1979:157), mendefiniisikan filsafat sebagai hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan integral hakikat sarwa yang ada: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(a) Hakekat Tuhan; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(b) hakekat alam semesta; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(c) hakekat manusia; serta sikap manusia termasuk sebagai konsekwensi daripada faham (pemahamnnya) tersebut.Untuk itulah dalam berfikir filsafat perlu dipahami karakteristik yang menyertainya, pertama, adalah sifat menyeluruh artinya seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu sendiri, tetapi melihat hakekat ilmu dalam konstalasi pengetahuan yang lainnya, kedua, sifat mendasar, artinya bahwa seorang yang berfikirfilsafat tidak sekedar melihat ke atas, tapi juga mampu membongkar tempat berpijak secara fundamental, dan ciri ketiga, sifat spekulatif, bahwa untuk dapat mengambil suatu kebenaran kita perlu spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari perjelajahan pengetahuan (Jujun, 1990:21-22)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border: 1pt solid windowtext; padding: 1pt 4pt;"&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: right; border: medium none; padding: 0in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;AGAMA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Agama–pada umumnya– merupakan (1) satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia; (2) satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu; (3) satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan (Anshari, 1979:158).&lt;br /&gt;Agama berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada obyek yang ia sembah. Seseorang yang religius merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan.Agama tak dapat dipisahkan dari bagian-bagian lain dari kehidupan manusia, jika ia merupakan reaksi terhadap keseluruhan wujud manusia terhadap loyalitasnya yang tertinggi. Sebaiknya, agama harus dapat dirasakan dan difikirkan: ia harus diyakini, dijelaskan dalam tindakan (Titus, 1987:414).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border: 1pt solid windowtext; padding: 1pt 4pt;"&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify; border: medium none; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;PERSAMAAN DAN PERBEDAAN:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Baik ilmu, filsafat ataupun agama bertujuan–sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang–sama yaitu kebenaran. Namun titik perbedaannya terletak pada sumbernya, ilmu dan filsafat berumur pada ra’yu (akal, budi, rasio, reason, nous, vede, vertand, vernunft) manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu.Disamping itu ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri) dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Filasafat menghampiri kebenaran dengan exploirasi akal budi secara radikal (mengakar); tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci.&lt;br /&gt;Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiri, riset dan eksperimental). Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat kedua-duanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut) karena agama adalah wahyu yang diturunkan Allah.&lt;br /&gt;Baik ilmu maupun filsafat dimulai dengan sikap sanksi dan tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya atau iman (Annshari, 1996:158-160).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-6093178043372108511?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/6093178043372108511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=6093178043372108511' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6093178043372108511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6093178043372108511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/10/tiga-institusi-kebenaran.html' title='TIGA INSTITUSI KEBENARAN'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TMlbNrz7qVI/AAAAAAAADq8/2NvctIzTe3g/s72-c/ILMU+DAN+AGAMA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-1158373383457710895</id><published>2010-10-07T06:48:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T16:46:09.245-07:00</updated><title type='text'>OLAH AKAL BUDI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TK3PwUPB8HI/AAAAAAAADo0/IJqq3ZbBiMk/s1600/Olah+akal+budi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 225px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TK3PwUPB8HI/AAAAAAAADo0/IJqq3ZbBiMk/s320/Olah+akal+budi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525300746825887858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;DASAR-DASAR LOGIKA DAN FILSAFAT ILMU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Buku ini layaknya buku filsafat ilmu lainnya, membentangkan hal ikhwal kehadiran Filsafat serta rincian terminologinya.  Yang dibahas buku ini antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 102, 204);"&gt;HAKIKAT FILSAFAT&lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Ruang Lingkup dan Tujuan Kajian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Dasar-dasar Kefilsafatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hakikat Ontologi Filsafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hakikat Epistemologi Filsafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hakikat Axiologi Filsafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hakikat Manusia dan Kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 255, 153);font-family:georgia;" &gt;LOGIKA FORMAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Ruang Ligkup dan Kajian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Pengertian Logika Formal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Makna Pengertian dan Definisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Makna Keputusan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Makna Proposisi Majemuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Makna Penyimpulan dan Silogisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 102);font-family:georgia;" &gt;LOGIKA MATERIAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Ruang Lingkup dan Tujuan Kajian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Pengertian Logika Material&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Asal-Usul Pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Makna Batasan Benar dan Salah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Makna Kriterium&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Makna Metode&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 102);font-family:georgia;" &gt;HAKIKAT FILSAFAT ILMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Ruang Lingkup dan Tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Dasar-dasar Filsafat Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hakikat Ontologi Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hakikat Epistemologi Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hakikat Aksiologi Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hubungan Antara Filsafat, Ilmu, Agama dan Kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Hubungan Teori dengan penelitian Ilmiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Data buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:georgia;" &gt;JUDUL: Olah Akal Budi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:georgia;" &gt;PENULIS: Dr. Arifin MSi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:georgia;" &gt;PENERBIT:  LILIN Pogung Lor Blok C-190 Sleman Yogyakarta. Telepon: (0274) 8268461. E-mail:  redakililin@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:georgia;" &gt;ISBN: 978-602-97511-0-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:georgia;" &gt;TEBAL: 240 halaman. 14 x 21 cm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:georgia;" &gt;CETAKAN: 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;TERSARIKAN SEBUAH MANFAAT BERFILSAFAT:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:265583254; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:540179468 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;KEGUNAAN FILSAFAT:&lt;/p&gt;  &lt;ol  style="margin-top: 0in; font-style: italic; color: rgb(204, 204, 255); font-weight: bold;font-family:lucida grande;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan filsafat, seseorang akan lebih menjadi      manusia, karena terus melakukan perenungan dan menganalisa hakikat jasmani      dan hakikat rokhani manusia dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehidupan      di dunia agar bertindak bijaksana&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan berfilsafat seseorang dapat memahami makna      hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi maupun social. Dengan      berfilsafat seseorang akan mampu memberi arti terbaik, unggul dan integral      terhadap makna hidup, dan sanggup memahami keunggulan dan kelemahan diri,      sehingga dapat memperkokoh kepribadian diri &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kebiasaan menganalisa segala sesuatu dalam hidup      seperti yang diajarkan dalam metode berfilsafat, akan menjadikan seseorang      cerdas, kritis, sistematis, dan obyektif dalam melihat dan memecahkan      beragam problema kehidupan, sehingga mampu meraih kualitas, keunggulan dan      kebahagiaan hidup&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan berfilsafat manusia selalu dilatih, dididik      untuk berpikir secara universal, multidimensional, komprehensif, dan      mendalam. Dengan terlatihnya seseorang dalam melihat dan menganalisa      hakikat segala sesuatu secara komprehensif dan mendalam, maka seseorang      akan mampu meminimalisisr kecenderungan mentalitas negative, misalnya      egoistis, individualistis, parsialis, dan diskriminatif. Beragam problem      social akan bermunculan ketika mentalitas negative tersebut      mendominasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;setiap proses-proses      social sehari-hri dalam kelompok&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Belajar filsafat akan melatih seseorang untuk mampu      meningkatkan kualitas berpikir secara mandiri, mampu membangun pribadi      yang berkarakter, tidak mudah terpengaruh oleh factor eksternal, tetapi      disisi lain masih mampu mengakui harkat martabat orang lain. Karena itu,      belajar filsafat akan mendorong tumbuhnya sikap mentela kompetitif secara      sehat dan berkualitas&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Belajar filsafat akan memberikan dasar-dasar semua      bidang kajian pengetahuan, memberikan pandangan yang sintesis atau      pemahaman atas hakikat kesatuan semua pengetahuan yang baik. Karena      berfikir filsafat selalu mendorong seseorang untuk membangun keterbukaan      berpikir, ketelitian dan melakukan analisis terdalam, serta terdorong untuk      melakukan inovasi berdasarkan penemuan terbaru (invention) (Jhonstone,      H.W. 1968; Tafsir, 2004; Sudiarja, dkk.2006)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-1158373383457710895?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/1158373383457710895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=1158373383457710895' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/1158373383457710895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/1158373383457710895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/10/olah-akal-budi.html' title='OLAH AKAL BUDI'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/TK3PwUPB8HI/AAAAAAAADo0/IJqq3ZbBiMk/s72-c/Olah+akal+budi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-4302195596466538438</id><published>2010-08-21T18:45:00.000-07:00</published><updated>2010-08-21T18:52:07.969-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ILMU - DARSONO PRAWIRONEGORO</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/THCCAfx6wFI/AAAAAAAADhg/lze6gPuMScc/s1600/Filsafat+Ilmu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508045289316597842" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 210px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/THCCAfx6wFI/AAAAAAAADhg/lze6gPuMScc/s320/Filsafat+Ilmu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-4302195596466538438?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/4302195596466538438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=4302195596466538438' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/4302195596466538438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/4302195596466538438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/08/filsafat-ilmu-darsono-prawironegoro.html' title='FILSAFAT ILMU - DARSONO PRAWIRONEGORO'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/THCCAfx6wFI/AAAAAAAADhg/lze6gPuMScc/s72-c/Filsafat+Ilmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5459915904639940225</id><published>2010-05-12T08:38:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T08:42:42.603-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT JIWA DAN FILSAFAT ILMU</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S-rME7_fZsI/AAAAAAAADWg/mugDat6C0Dg/s1600/Filsafat+Jiwa+dan+Filsafat+Ilmu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470409082590422722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 218px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S-rME7_fZsI/AAAAAAAADWg/mugDat6C0Dg/s320/Filsafat+Jiwa+dan+Filsafat+Ilmu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Penulis buku ini ingin mendialogkan antara filsafat jiwa dengan filsafat ilmu kontemporer pasca reduksionis.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5459915904639940225?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5459915904639940225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5459915904639940225' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5459915904639940225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5459915904639940225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/05/filsafat-jiwa-dan-filsafat-ilmu.html' title='FILSAFAT JIWA DAN FILSAFAT ILMU'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S-rME7_fZsI/AAAAAAAADWg/mugDat6C0Dg/s72-c/Filsafat+Jiwa+dan+Filsafat+Ilmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5594931763954875973</id><published>2010-04-27T18:15:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T19:14:28.860-07:00</updated><title type='text'>ILMU USHUL FIQIH DI MATA FILSAFAT ILMU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S9eMXmiO8iI/AAAAAAAADUA/4CjdIRN6hyE/s1600/Ilmu+Fiqih+di+teropong+Filsafat+Ilmu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464991009946399266" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 216px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S9eMXmiO8iI/AAAAAAAADUA/4CjdIRN6hyE/s320/Ilmu+Fiqih+di+teropong+Filsafat+Ilmu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Buku ini ingin memaparkan dimensi epitesmologi (metodologi keilmuan) sebagai salah satu pilar keilmuan untuk meneropong atau dengan istilah cantiknya mendiskusikan jatidiri ILMU USHUL FIQIH. Filsafat ilmu telah mematok harga, bahwan suatu ilmu dikatakanOntologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui. Apa yang ingin diketahui oleh ilmu? atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telah ilmu atau disebut ilmu jika memiliki tiga kerangka dasar ilmu, (ontologi, epistemologi, dan aksiologi) .&lt;br /&gt;Ontologis meneropong:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Obyek apa yang ditelaah ilmu Ushul Fiqh ? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek ilmu Ushul Fiqh? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia [seperti berpikir, merasa dan mengindera] yang membuahkan pengetahuan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Buku ini memberikan jawaban secara ontologis Ilmu Ushul Fiqh memiliki obyek telaah bagaimana manusia menangkap hukum Allah, dan bagaimana segenap persoalan serta cara-cara memahami maksud Tuhan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dengan menitik beratkan pada kodrat dan martabat. Aksiologi adalah wilayah yang membicarakan kegunaan ilmu, dan nilai-nilai. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selanjutnya telaah diarahkan kepada teropongan aksiologi (kegunaan ilmu). Sedikitnya ada tiga pertanyaan terkait dengan aksiologi:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu Ushul Fiqh itu dipergunakan ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah moral ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Buku ini memberikan jawaban bahwa secara aksiologi ilmu ushul fiqh mengantarkan manusia agar memahami maksud Tuhan, sehingga mendapatkan kebahagiaan di dumia dam kahirat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian bagaimana pembahasan terkait dengan Epistemologi?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Landasan epistemology tercermin secara operasional dalam metode ilmiah . Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka tersebut dan&lt;br /&gt;Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud dengan menguji kebenaran pernyataan secara factual.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Buku ini telah memberikan jawabnya.(sila membaca lajut dalam buku aslinya)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catatan: [Buku semacam ini telah lahir banyak sekali, ketika dan transformasi berani dari berubahnya IAIN menjadi UIN. Tradisi keilmuan terbuka lebar dan beberapa informasi bergulat tan filter lagi. Sekarang metode Hermeneutika mendapat tepat. Tentunya hal ini penuh perdebatan seru antara setuju dan menunggu] &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;JUDUL: Ilmu Ushul Fiqh&lt;br /&gt;PENULIS: Dr. Muhyar Fanani&lt;br /&gt;PENERBIT: Walisongo Press. Jl. Walisongo No. 3-5 Semarang 50185 Telp: (024) 7615923; 081325639165&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-1596-68-8&lt;br /&gt;TEBAL: xii + 180 halaman;14 x 20 cm&lt;br /&gt;CETAKAN: Nopember 2009. Cetakan I&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;[]&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5594931763954875973?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5594931763954875973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5594931763954875973' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5594931763954875973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5594931763954875973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/04/ilmu-ushul-fiqih-di-mata-filsafat-ilmu.html' title='ILMU USHUL FIQIH DI MATA FILSAFAT ILMU'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S9eMXmiO8iI/AAAAAAAADUA/4CjdIRN6hyE/s72-c/Ilmu+Fiqih+di+teropong+Filsafat+Ilmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-6086661379776396054</id><published>2010-03-16T17:30:00.000-07:00</published><updated>2010-10-07T17:42:06.981-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ILMU: ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI, DAN LOGIKA ILMU PENGETAHUAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S6Ai_qvhVTI/AAAAAAAADPo/KTikk-C-dLk/s1600-h/Filsafat+Ilmu+Mohammad+Adib.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 207px; display: block; height: 320px;" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449394026319009074" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S6Ai_qvhVTI/AAAAAAAADPo/KTikk-C-dLk/s320/Filsafat+Ilmu+Mohammad+Adib.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sebelumnya telah diterbitkan (2007-2008) dengan judul Filsafat Ilmu dan Logika. Pada penerbitan ini, judul diubah sesuai dengan isi yang terdapat didalamnya, sehingga judul yang dipilih adalah, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan. Judul ini menurut penulisnya dianggap tepat dan lengkap karena judul menyerminkan landasan utama dalam membahas filsafat ilmu, melalui empat pilar utamanya. Terkait denganjudul bahasan berpusar pada Bab keempat, bab kelima dan bab ketujuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Bab keempat, menjelaskan tentang landasan penelaahan ilmu, dan yang dibahas meliputi ontologi, epistemologi, aksiologi, yang selanjutnya dikaitkan dengan signifikansi ilmu pengetahuan kembali ke filsafat. Selanjutnya bab empat ini juga membentangkan relevansi Ontologi, Epitemologi dan Aksiologi dengan Ilmu Politik. Relevansi Ontologi, epistemologi dan aksiologi juga dikaitkan dengan Ilmu antropologi. Gudang filsafat ini tertarik untuk membahas kedua relevansi tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Bab kelima, menjelaskan tentang struktur atau bangunan ilmu pengetahuan terdiri dari: metode ilmiah; teori; hipotesis; logika, data informasi, pembuktian, evaluasi dan paradigma&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Bab ketujuh membahas tentang logika ilmu dan metode berfikir dan metode ilmiah, engertian metode berfikirbilmiah logika, pengertian logika dan penlaran ilmiah, macam-macam logika, kegunaan logika, bahasa keilmuan, model dan kriteria motode berfikir ilmiah, metode berfikir rasional: asas dalam berpikir, serta hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode rasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;RELEVANSI ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI TERHADAP ILMU POLITIK DAN ANTROPOLOGI.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Buku ini mengangkat Relevensi pilar keilmua Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dikaitkan dengan Ilmu Politik dan Antropologi, tentunya memiliki alasan kuat mengapa hanya dikaitkan dengan Ilmu Politik dan Antropologi? &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Gudang Filsafat ini memandang bahwa buku ini sengaja dirancang untuk kebutuhan pembelajaran mahasiswa di departemen Antropologi dan Ilmu-ilmu Politik. Barangkali inilah yang mendorong diunggahnya relevansi Antropologi dan Ilmu Politik terhadap pilar keilmuan (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Selanjutnya tingkat relevansi diurai jelas sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Dasar ontologi ilmu. Pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu politik. Adapun...belum tuntas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Data buku&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;JUDUL: Filsafat Ilmu : ontologi, Epistemologi ,Aksi0ologi dan Logika Ilmu Pengethauan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;PENULIS: Drs.H. Muhammad Adib, MA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;PENERBIT: Pustaka Pelajar  Celeban Timur UH III/548 Yogyakarta 55167. tELP: (0274) 381542. E-mail&lt;/span&gt;; &lt;a href="mailto:pustakapelajar@telkom,net"&gt;pustakapelajar@telkom,net&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;ISBN: 978-602-8479-93-6&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;TEBAL: xxv + 280 halaman; 21 cm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;CETAKAN: Edisi ke 2  Cet Pertama Pebruari 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;[]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-6086661379776396054?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/6086661379776396054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=6086661379776396054' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6086661379776396054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6086661379776396054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/03/filsafat-ilmu_16.html' title='FILSAFAT ILMU: ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI, DAN LOGIKA ILMU PENGETAHUAN'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S6Ai_qvhVTI/AAAAAAAADPo/KTikk-C-dLk/s72-c/Filsafat+Ilmu+Mohammad+Adib.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-283991758876981886</id><published>2010-03-16T17:24:00.000-07:00</published><updated>2010-10-07T17:45:20.941-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ILMU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S6Ahwd-S5hI/AAAAAAAADPg/Xng7982IZWQ/s1600-h/Filsafat+Ilmu+Fuad+Hasan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 227px; display: block; height: 320px;" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449392665681651218" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S6Ahwd-S5hI/AAAAAAAADPg/Xng7982IZWQ/s320/Filsafat+Ilmu+Fuad+Hasan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Buku ini didesain sebagai wacana filsafati untuk siapa saja yang tertarik untuk mengembangkan wawasan filsafati. Tidak ada segmen khusus, namun bagi siapa saja yang sesungguhnya berminat di ranah filsafat utamanya filsafat ilmu, buku ini akan memberikan bantuan. Melalui buku maka refleksi pikir yang mendasar dan integral terkait hakikat ilmu pengetahuan akan mudah dipahami. Dengan tidak terasa akan trampil dalam menilai metode-metode pemikiran ilmiah, sekaligus juga akan memproses sikap ilmiah. Materi dalam buku ini disusun berdasarkan pendekatan/sistematika filsafat ilmu :Ontologi, Epistemologi, dan aksiologi. Adapun cakupan meteri yang dibentangkan buku ini antara lain: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: georgia;"&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejarah perkembangan ilmu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat, ilmu dan filsafat lmu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dasar-dasar pengetahuan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dimensi Keilmuan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sarana berfikir ilmiah&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu dan teknologi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu dalam strategi insani&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;[]. CATATAN RINGAN YANG MEMBANTU.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;(Manfaat mempelajari filsafat)&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: georgia;"&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berpikir lebih mendalam, kita mengalamai dan menyadari kerohkanian kita. Rahasia hidup yang kita selidiki justru memaksa kita berpikir, untuk hidup dengan sesadar-sadarnya, dan memberikan isi kepada hidup kiota sendiri.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari. Orang yang hidup secara dangkal saja, tidak mudah melihat persoalan-persoaln, apalagi melihat pemecahannya. Dalam filsafat kita dilatih melihat lalu apa yang menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat mutlak untuk memecahkannya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung akuisme dan akusentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri, hingga kita tak hanya ikut-ikutan, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, mempunyai pendapat sendiri, berdiri sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat memberikan dasatr-dasar, baik untuyk hidup kita sendiri (terutama dalam etrika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa,ilmu mendidik, dll&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;(Manfaat mempelajari filsafat ilmu)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. Maknanya seorang ilmuwan harus memilki sikap kritis terhadap bidang ilmunya sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solipistik, yakni menganggap hanya pendapatnya yang paling benar&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengritik asumsi dan metode keilmuan. Sebab kecenderungan yang terjadi di kalangan para ilmuwan menerapkan suatu metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmuu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang sesuai diperlukan di sini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai yang sesuai dengan struktur ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Data buku&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;JUDUL&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;(Belum tuntas)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-283991758876981886?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/283991758876981886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=283991758876981886' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/283991758876981886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/283991758876981886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/03/filsafat-ilmu.html' title='FILSAFAT ILMU'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S6Ahwd-S5hI/AAAAAAAADPg/Xng7982IZWQ/s72-c/Filsafat+Ilmu+Fuad+Hasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-3257410492760637963</id><published>2010-02-10T21:32:00.000-08:00</published><updated>2010-03-17T17:52:26.717-07:00</updated><title type='text'>DIALOG EPISTEMOLOGI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S3OWf3Is-4I/AAAAAAAADI4/U_Zl-XbkM9k/s1600-h/epistemologi.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 214px; DISPLAY: block; HEIGHT: 320px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436854649286884226" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S3OWf3Is-4I/AAAAAAAADI4/U_Zl-XbkM9k/s320/epistemologi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; Buku mendialogkan dua pemikir Mohammad Iqbal dan Charles S. Peice. Epistemologi adalah materi yang didialogkan. Ketajaman kedua pemikir itu memilki citarasa yang berbeda ketika melihat epistemologi dari berbagai dimensi. Dalam buku ini kedia pemikir mengritisi para filsuf terdahulu dalam memandang ilmu, sekaligus juga mempertontonkan kelemahan-kelemahan para pemikir pendahulunya. Dengan lantangnya mulai Plato, Rene Decartes hingga Imanuel Kant dikritisi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;SIAPA MOHAMMAD IQBAL DAN CHARLES S.PIERCE ?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Mohammad Iqbal (1876-1983)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lahir pada 24 Dzulhijah 1289 atau 22Pebruari 1873 di Sialkot Punjab dan meninggal pada 20 April 1938. Berasal dari keluarga kasta Brahma Kasymir. Iqbal adalah seorang agamawan yang salih dan filsuf cemerlang yang menghayati tradisi intelektual muslim dan pemikiran modern. Iqbal mendalami prinsip-prinsip dasar serta ide-ide modern fisika, biologi, dan hidup sosial. Disamping agamawan juga dikenal sebagai seorang eksitensialis karena pemikiran-pemikirannya. Epistemologi Iqbal termasuk dalam tipe modern karena epistemologinya lebih menekankan pada "Teori Ilmu Pengetahuan" dan "Sumber-sumner ilmu"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Charles S.Pierce (1839-1914)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dikenal sebagai perintis dan tokoh utama aliran filsafat pragmatisme. Pierce juga termasuk salah satu pioner dalam logika matematika abad ke-19. Secra profesional, ial adalah seorang ilmuwan praktisi: ahli geodesi, astronomi, dan kimia. Epistemologi Peirce berlatar belakang prgamatis dan ahli logika, epistemologinya banuak disampaikan melalui mlogikanya, oleh karenanya epitemologi Pierce digolongkan sebgai epistemologi kontemporer&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;PIKIRAN IQBAL:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu pengetahuan merupakan kekuatan jika disertai tindakan. Kekuatan inilah yang memberi bentuk pada lingkungannya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menemukan bahwa diri manusia itu sendiri terdapat seperangkat alat yang berfungsi untuk memperoleh ilmu pengetahuan, seperti pancaindera, akal dan intuisi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menekankan pada "asal-usul ilmu" dan daya tangkap manusia dalam memperoleh ilmu, seperti negindera, berpikir, dan merasa.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sering menggunakan istilah akal dengan kata &lt;em&gt;reason, thought, dan intelec&lt;/em&gt;t. Intellect (akal) bagi Iqbal adalah suatu keniscayaan karena dia akan memformulasi ide-ide, memegangi maknanya, mengakses manfaatnya, membuat, menguji dan melaksanakan rencana-rencana.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berusaha memadukan antara pancaindera, akal, dan intuisi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alam dalam pandangan Iqbal merupakan kosmos dari kekuatan yang saling berhubungan. Hendaknya, ilmu dinilai dengan konkret. Hanya kekuatan intelektual yang menguasai, yang konkretlah yang akan memberi kemungkinan kecerdasan manusia manusia melampaui konkret.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada era modern, pengetahuan harus bersandar pada pengalaman indera, tetapi untuk mencapai wahyu, secara langsung tidak dapat dilakukan melalui panca indera dan rasio, tetapi harus melalui pengalaman yang khususyang disebut intuisi. Melalui intuisi manusia dapat menangkap dan meamahami realitas mutlak.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify"&gt;Telah membedakan fungsi intuisi dan indera, serta akal yang melahirkan ide, bahwa yang pertma memiliki fungsi metafisik-teologis, sedangkan dua terakhir memiliki fungsi epistemologis&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sumbangan Pikiran Pierce&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebenaran trnsendental (&lt;em&gt;Trancendental Truth&lt;/em&gt;), kebenaran yang berada secara inherent dalam setiaqp setiap sesuatu "sebagai sesuatu itu sendiri"(&lt;em&gt;Think As Think&lt;/em&gt;). Kebenaran merupakan karakter real (&lt;em&gt;real character&lt;/em&gt;) yang dimiliki oleh ssesuatu obyek, baik diketahui maupun tidak.&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebenaran komplek (&lt;em&gt;Complex truth&lt;/em&gt;) yang berupa kebenaran-kebenaran proporsional. Jenis ni dapat dibagi menjadi jenis-jenis yang lebih rinci, seperti kebenaran etik (&lt;em&gt;ethical truth&lt;/em&gt;) atau Veracity yang berdasar pada kesesuaian sebuah proposisi denga keyakinan seorang pembicara (atau penulis). serta kebenaran logis (logical truth) yang kriterianya adalah kesesuaian sebuah proposisi terhadap realitas.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu pengetahuan digambarkan sebagai pencarian manusia yang memiliki karakter khusus, ketika kejujuran terus menerus menampakkan diri, seperti metabolisme dalam tubuh dan tumbuh: &lt;em&gt;Science as pursuit of living men, and that its most marked characteristic is that when it is guine, it is in an incessant state of matebolishm and growth"&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmuwan harus m,enjadi orang tulus, baik terhadap diri sendiri maupun ornag lain. sementara cintanya terhadap kebenaran lambat laun menjadi satu hingga ia menjadi orang jujur dan terbuka: A&lt;em&gt; Scientific man must be singgle minded and cincere with himself. Otherwise, his love of truth will melt away, at once. He can therefore, hardly be otherwise than an honest, fair-minded man&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemajuan nyata dari ilmu pengetahuan bergantung, baik pada praksis ilmiah maupun pada ide-ide spekulatif. Idealisme tidak menjadikan teorinya sebagai pokok kemajuan ilmiah, sedangkan materialisme tidak meningkatkan praksisnya dengan teori-teori yang berarti.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teori yang baik harus mengarah pada penemuan-penemuan fakta-fakta baru dan konsekuensi pemikiran yang sungguh-sungguh logis dan terbuka untuk pengujian dalam rangka konsekuensi-konsekuensi yang dapat diramalkan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Konstruksi logika Peirce bertumpu pada tiga macam argumen, yaitu ninduksi, deduksi, dan abduksi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebenaran sebuah teori betapa pun baiknya harus tetap diterima secara tentative, dalam arti kebenarannya dapat diterima sepanjang belum ditemukan teori lain yang lebih powerful. Prinsip bahwa sebuah teori tidak boleh diperlakukan mutlak, a priori dan hanya bersifat tentative, dikenal dengan prinsip Fallibilism&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bahwa pengetahuan ilmiah bukabnlah sesuatu yang pasti sempurna dan melampui pencaian obyeknya. Ilmu pengtahuan tidak pernah mencapai formulasi yang final absolut mengenai alam semesta.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fallibilism bukan rasa tidak percaya terhadap pengetahuan ilmiah, tetapi diwataki oleh keyakinan argumentasi, bahwa pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang terbaik yang kita miliki, dan bahwa metode ilmiah, hanyalah metode yang dapat dipercaya untuk menetapkan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;PEIRCE filsafat dan ilmu pengetahuan:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: metode itu akan memberiarti pada ide-ide filosofis dalam rangka ekperimen&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: menyusun dan memperluas ide-ide dan kesimpulan sampai mencakup fakta-fakta baru. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Data buku&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;JUDUL: Dialog Epistemologi Mohammad Iqbal dan Charles S. Pierce&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENULIS: Dr. Rodliyah Khuza'i M.Ag&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENERBIT: PT Refika aditama. Jl. Mengger Girang No. 98. Bandung 40254. Telp: [022-5205985. E-mail: &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:refika@rad.net.id"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;refika@rad.net.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;CETAKAN: Pertama; Januari 2007&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;ISBN: 979-1073-30-9&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;TEBAL:&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#ff9900;"&gt;xvii + 176 halaman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bab yang dibahas:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Epistemologi Modern dan Kontemporer&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Latar Belakang Sosial Politik Intelektual di India dan Amerika Abad ke 19&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Konstruksi Pemikiran Epistemologi M. Iqbal dan Charles S. Pierce&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Logika Intuitif Versus Logika Ilmiah&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-3257410492760637963?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/3257410492760637963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=3257410492760637963' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3257410492760637963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3257410492760637963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/02/dialog-epistemologi.html' title='DIALOG EPISTEMOLOGI'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S3OWf3Is-4I/AAAAAAAADI4/U_Zl-XbkM9k/s72-c/epistemologi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-2882975762128133560</id><published>2010-02-04T04:27:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T16:53:12.281-08:00</updated><title type='text'>INTEGRASI ILMU DAN AGAMA</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S2q9qE38IjI/AAAAAAAADH4/IJpwgIE_TaU/s1600-h/ilmuy+dan+agama.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 232px; DISPLAY: block; HEIGHT: 320px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434364430936449586" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S2q9qE38IjI/AAAAAAAADH4/IJpwgIE_TaU/s320/ilmuy+dan+agama.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic; COLOR: rgb(51,102,255); FONT-WEIGHT: bold"&gt;"Hubungan ilmu dan agama, baik dalam ranah ontologis, epistemologis maupun aksiologis selalu menyisakan persolan yang tidak pernah selesai dibicarakan"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Buku ini berusaha menjawab hubungan ilmu dan agama melalui pendekatan filosofis, karena menurut pendapat [penulis buku ini, filsafatlah yang secara netral dan proporsional dapat menjembatani sekaligus mempertemukan dua domain ini. Buku ini akan menjawab dua pertanyaan pokok: 1). Bagaimana konsep hubungan ilmu dan agama ini dibicarakan secar5a akademik, dan 2). bagaimana ahkikat integrasi ilmu dan agama baik dalam ranah ontologis, epistemologis dan aksiologis.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dalam mengekplorasi hubungan ilmu dan agama ini, penulis menggunakan pandangan-pandangan seorang pemikir Islam kelahiran Persia, Yaitu Mulla Sadra (1572-1641).&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;pemikiran Mulla Sadra, sebagai bagian dari fragmentasi perkembangan pemikiran Islam, secara cerdas dan jernih menempatkan kedudukan ilmu dan agama pada posisi yang sangat harmonis. Tidak salah tentunya apabila ada ungkapan bahwa kemajuan pemikiran Islam terjadi manakala agama secara mutualis menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu. Agama bukan perkembangan ilmu sebagaimana terjadi di Barat tetapi justru merupakan pendorong sekaligus ruh bagi karakteristik keilmuan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,51,204)"&gt;ILMU DAN AGAMA SALING SAPA: &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ilmu dan Agama, tidak ada yang dapat diperbandingkan satu dengan yang lain dan keduanya tidak dapat ditempatkan pada posisi bersaing atau konflik.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Pendukung pendekatan ini menekankan bahwa permainan yang dimainkan ilmu menguji dunia natural, sedangkan permainan agama ialah mengungkapkan makna melampaui dunia nautral. Ilmu memusatkan perhatian &lt;em&gt;bagaimana&lt;/em&gt; segala sesuatu terjadi di alam ini, sedangkan agama pada &lt;em&gt;mengapa&lt;/em&gt; sesuatu itu terjadi dan ada (eksis). Ilmu berurusan dengan sebab-sebab, sedangkan agama makna. Ilmu berurusan dengan berbagai masalah yang dapat dipecahkan, sedangkan agama berurusan dengan misteri yang tidak mudah dipecahkan. Ilmu berusaha menjawab berbagai persoalan menyangkut cara kerja alam, sedangkan agama berurusan dengan landasan akhir alam. Ilmu memberi perhatian kepada kebenaran partikular sedang agama tertarik untuk menjelaskan kebenaran universal.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Ilmu dan agama mempunyai bahasa sendiri karena melayani fungsi yang berbeda dalam kehidupan manusia, agama berurusan dengan nilai dan makna tertinggi, sedangkan ilmu menelusuri cara benda-benda dan berurusan dengan fakta obyektif, agama rentan dengan perubahan karena sifatnya yang deduktif, sedangkan ilmu setiap saat bisa berubah karena sifatnya yang lebih induktif. Ilmu dan agama adalah dua domain independen yang dapat hidup bersama sepanjang mempertahankan "jarak aman" satu sama lain. Ilmu dan agama berada pada posisi sejajar dan tidak saling mengintervensi satu dengan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,51,204)"&gt;KACAMATA PANDANG MULLA SADRA:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dalam menyelami antara ilmu dan agama, membedakan dalam dua ranah pencermatan, pertama dilihat dari sisi wacana akademik, dan sisi lainnya dari hakikat hubungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;[Wacana Akademik]&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dalam wacana akademik secara umum, hubungan ilmu dan agama dapat dibedakan dalam empat tipologi yaitu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;konflik, independen&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dialog &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;dan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;integrasi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Dalam tipologi &lt;strong&gt;&lt;em&gt;konflik&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; digambarkan bahwa oilmu dan agama sebagai dua entitas yang tidak dapat dipertemukan bahkan saling berlawanan. Kebenaran ilmu menegasikan kebenaran agama, demikian pula sebaliknya. Dalam tipologi independensi digambarkan bahwa ilmu dan agama meskipun tidak dapat dipertemukannamun keduanya tidak saling berlawanan. Tipologi ini dipandang sebagai tipologi yang cukup aman, karena masing-masing menghormati otoritas kebenaran masing-masing, sehingga tidak terjadi konflik. Namun, bagi ilmuwan yang religius, tipe ini membingungkan dan menimbulkan keputusasaan karena dalam saat yang sama ia harus menerima dua kebenaran yang berbeda/berlawanan, yaitu kebenran ilmiah yang dipahami akal dan kebenaran agama yang dipahami oleh iman.Dalam tipologi dialog digambarkan bahwa ilmu dan agama memiliki bahasa metode dan ukuran kebenaran yang masing-masing berbeda, namun tidak saling berlawanan bahkan saling mengisi dan menjelaskan satu sama lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;REFLEKSI MULLA SADRA( KONSEP INTEGRASI ILMU DAN AGAMA)&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dalam merefleksikan integrasi ilmu dan agama, Mulla Sadra menggunakan pendekatan Otologis, Epistemologis dan Axiologis.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Konsep Ontologis: &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Konsep Epistemologis&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Konsep Exiologis [Belum tuntas]&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Data buku&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;JUDUL:Integrasi Ilmu dan Agama Perspektif Filsafat Mulla Sadra&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENULIS: DR.Arqom Kuswanjono&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENERBIT: Badan Penerbit Filsafat UGM d/a Gedung Unit C, Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jl. Olahraga Bulaksumu Yogyakart. Telp. 0274-901193. E-mail&lt;/span&gt;: &lt;a href="mailto:BPFU@Filsafat.ugm.ac.id"&gt;BPFU@Filsafat.ugm.ac.id&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Dan Penerbit Lima d/a RT08/40 KD II Jaranan, Bangun Tapan Bantul, Yogyakarta 55981 Telpon +628121588233 E-mail: &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:Lima_bookmaker@yahoo.co.id"&gt;Lima_bookmaker@yahoo.co.id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;ISBN: 978-979-25-3687-4&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;TEBAL: vii + 184.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;[]&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;CETAKAN: I Januari 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-2882975762128133560?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/2882975762128133560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=2882975762128133560' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2882975762128133560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2882975762128133560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2010/02/integrasi-ilmu-dan-agama.html' title='INTEGRASI ILMU DAN AGAMA'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/S2q9qE38IjI/AAAAAAAADH4/IJpwgIE_TaU/s72-c/ilmuy+dan+agama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-2930129137139999871</id><published>2009-12-25T05:13:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T17:43:15.112-08:00</updated><title type='text'>ISLAM DIHADAPKAN KEPADA ILMU-SENI-FILSAFAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SzVnwTlXqYI/AAAAAAAADAw/QO5IpuLe6XA/s1600-h/nhk.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 239px; FLOAT: left; HEIGHT: 320px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419351806198655362" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SzVnwTlXqYI/AAAAAAAADAw/QO5IpuLe6XA/s320/nhk.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:'Times New Roman','serif';"&gt;Pemahaman Filsafat dikais dari buku yang cukup tua. Buku ini terbit tahun 1965 yang disusun oleh Drs. Sidi Gazalba. Judul buku “Islam dihadapkan kepada ilmu-seni-filsafat. Hal-hal yang bahas dalam buku ini antara lain:&lt;br /&gt;Kebudayaan&lt;br /&gt;Islam&lt;br /&gt;Kebudayaan dan Islam&lt;br /&gt;Ilmu dan Islam&lt;br /&gt;Filsafat dan Islam&lt;br /&gt;Kesimpulan.&lt;br /&gt;Dari buku ini dapat dimabil catatan-catatan kecil terkait filsafat, dan dari catatan kecil inilah dapat difungsikan sebagai pendukung pemahaman filsafat.&lt;br /&gt;Catatan kecil pada pengantar buku.&lt;br /&gt;MENGAPA ILMU DIAMBIL SEBAGAI KRITERIUM.&lt;br /&gt;Dalam abab ke XVIII dunia Barat telah memasuki kurun ilmiah [Aufklarung]. Dan bagi bangsa Indonesia kurun itu baru mulai dalam abad ke XX ini. Kecenderungan zaman dalam menjawab tentangan itu menutut kepda kita semua untuk setiap melihat fenomena didasarkan kepada tataran ilmiah. Karena ilmulah yang menetukan kepastian dan kebenaran [Kendati kepastian dan kebenaran adalah bersifat nisbi]&lt;br /&gt;APA FILSAFAT ?&lt;br /&gt;Filsafat merupakan penjelmaan kegiatan fikiran mencari kebenaran dari kebenaran demi kebenaran. Filsafat adalah system kebenaran sebagai hasil dari berfikir selangkah demi selangkah secara asadar, bebas, sitematik, radikal, dan universal..&lt;br /&gt;ILMU ?&lt;br /&gt;Ilmu digariskan sebagai cabang kebudayaan.Ilmu menyusun pengetahuan yang pasti dan benar, yang diserahkannya kepada teknologi untuk direalisasikan. Dalam kenyataan bahwa kebenaran ilmu dapat ditolak, direvisi, diperbarui dan disempurnakan. [misalnya: kedudukan bumi dalam stelsel matahari sebelum dan susudah Copernicus, kedudukan manusia dalam dunia biologi sebelum dan sesudah Lamrck-Darwin. Pembelahqn atom sebelum dan sesudah Eisntein)&lt;br /&gt;ILMU DAN FILSAFAT&lt;br /&gt;Ilmu membatasi medannya hingga alam yang dapat diteliti secara empiris. Filsafat menentang fikiran sejauh-jauhnya. Ilmu berhenti , manakala ia sampai diujung batas pengalaman. Dimana ilmu berhenti, disitu filsafat mulai. Esensi pertanyaan ilmu hanya dua, yakni: Bagaimana? Dan Apa Sebabnya?. Sedangkan pertanyaan filsafat terumus dalam dalam tiga pokok yakni: Apa itu?, Dari Mana? Kemana?&lt;br /&gt;METODE ILMU:&lt;br /&gt;Metode Ilmu untuk mendapatkan pengetahuan yang pasti dan benar adalah dengan:&lt;br /&gt;[].Membebaskan fikiran dari segala ikatan (kepercayaan, tradisi, agama, anggapan-anggapan umum)&lt;br /&gt;[].Melakukan penelitian ilmiah (research). Kedua unsure itu merupakan unsur ciri dari ilmu modern.&lt;br /&gt;[].Eksperimen untuk memaksa alam meberikan hukun dan kaidahnya.&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Ilmu menyatakan kepastian dan kebenaran itu melalui/berdasarkan hukum dan kaidah. Jadi yang dicari ilmu sesungguhnya adalah kausalitas[hubungan kausal dari peristiwa]. Jika kausalitas itu bersifat tetap,selanjutnya dirumuskan sebagai hukum.&lt;br /&gt;Data buku&lt;br /&gt;J&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;UDUL: Islam Dihadapkan kepada Ilmu-Seni-Filsafat&lt;br /&gt;PENULIS: Sidi Gazalba&lt;br /&gt;PENERBIT: Tinta Mas Jakarta&lt;br /&gt;TAHUN PENERBITAN: 1965&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Catatan: Buku ini dikais dari komunitas buku lama Velodroom Sawojajar Malang, ditelusur dari stempel yang terdapat pada sampul buku. Buku ini milik dari Rustam Library. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-2930129137139999871?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/2930129137139999871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=2930129137139999871' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2930129137139999871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2930129137139999871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2009/12/islam-hihadapkan-kepada-ilmu-seni.html' title='ISLAM DIHADAPKAN KEPADA ILMU-SENI-FILSAFAT'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SzVnwTlXqYI/AAAAAAAADAw/QO5IpuLe6XA/s72-c/nhk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-6475676303013618565</id><published>2009-11-15T02:01:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T02:09:50.808-08:00</updated><title type='text'>90 MENIT BERSAMA DESCARTES</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/Sv_R9rEDv1I/AAAAAAAAC9Q/lA-j4Hs_ofc/s1600-h/paul+stra.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 226px; DISPLAY: block; HEIGHT: 320px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404268935329857362" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/Sv_R9rEDv1I/AAAAAAAAC9Q/lA-j4Hs_ofc/s320/paul+stra.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Descartes in 90 minutes, adalah judul asli buku ini, selanjutnya diterjemahkan oleh Frans Kowa. Ternyata memahami filsafat itu mudah, jika kita mengenal lebih dekat kehidupan dan karya para filsuf. Lebih menyanangkan jika ditulis dengan bahasa yang santai, sehingga mudah cerna. Buku ini sengaja membentangkan siapa Rene Descartes itu, ulai sejak masih usia belia hingga dewasa. Lugas dikupas tuntas, serasa tidak ditutupi "kelakukan" filsuf yang satu ini. Ternyata Descartes itu lumayan "nakal",  membujang dan kawin layaknya "kumpul kebo" dilakukan. Semasa kecilnya pemalas, suka tidur alias ngantukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-6475676303013618565?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/6475676303013618565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=6475676303013618565' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6475676303013618565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6475676303013618565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2009/11/90-menit-bersama-descartes.html' title='90 MENIT BERSAMA DESCARTES'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/Sv_R9rEDv1I/AAAAAAAAC9Q/lA-j4Hs_ofc/s72-c/paul+stra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-7365717454116038847</id><published>2009-11-12T22:49:00.000-08:00</published><updated>2010-05-12T18:26:10.891-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT DAN SAINS SEBUAH PENGANTAR.</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/Sv9Nu2M2TsI/AAAAAAAAC9A/HSF5jGJxI3E/s1600-h/filsafat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404123545086611138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 213px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/Sv9Nu2M2TsI/AAAAAAAAC9A/HSF5jGJxI3E/s320/filsafat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;Dianjurkan kepada mahasiswa pascasarjana membaca buku ini, menurut pencermatan "Gudang Filsafat" buku ini sangat cerdas dalam membentangkan pengertian filsafat. Mudah dicerna, dan disetiap bab bahasan disediakan ruang latihan, oleh buku ini dinamai "pertanyaan pemandu". Sisi lain yang menarik dari buku ini adalah ringkasan yang terpapar dalam setiap bab, dan ringkasan ini merupakan simpulan singkat. Berikut contoh ringkasan yang termuat pada halaman 10.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setidaknya, ada dua jawaban mudah untuk menjawab pertanyaan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;apa filsafat itu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Yang pertama adalah filsafat sebagai sebuah aktivitas berpikir tentang realitas sebagai keseluruhan secara mendalam. sementara, yang kedua adalah filsafat sebagai sebuah analisis konseptual tentang tindak berpikir manusia, atau aktivitas berpikir tentang pikiran itu sendiri&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat itu sendiri setidaknya dapat dibagi menjadi tiga cabang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;Yang pertama&lt;/span&gt;, adalah metafisika. Metafisika adalah cabang filsafat yang merefleksikan hakekat dari realitas pada levelnya yang paling abstrak. &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Yang kedua&lt;/span&gt;. adalah epistemologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang merefleksikan tentang kapasitas pengetahuan manusia, hakikat pengetahuan manusia, dan genesis dari pengetahuan manusia. &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Yang&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;terakhir&lt;/span&gt;, adalah etika. Etika adalah cabang filsafat yang merefleksikan tentang hakikat tindakan, dan bagaimana manusia harus bertindak di dalam dunia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Data buku&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;JUDUL BUKU: Filsafat Sains : sebuah Pengantar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENULIS: Reza A.A. Wattimena SS&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENERBIT: PT Grasindo, Jalan Palmnerah Selatan 22-28 Jakarta 10270. Telepon [021] 53696545.&lt;/span&gt; &lt;a href="http://www.grasindo.co.id/"&gt;http://www.grasindo.co.id/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;ISBN:978-979-0251-18-0&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;TEBAL: 322&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;CETAKAN: 2008 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagian yang dibahas:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Bagian I :MENGETUK PINTU GERBANG FILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Serba-serbi Filsafat&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ciri Filsafat&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Membaca dan Memahami Tulisan Filsafat&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa Cabang Umum Filsafat&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Bagian II : ILMU PENGETAHUAN DALAM BINGKAI FILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejarah Ilmu Pengatahuan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Metode Saintifik&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hukum dan Teori di Dalam Ilmu Pengetahuan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu Sosial&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu Pengetahuan dan Nilai [Value]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat-filsafat Ilmu Sosial&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat Pengetahuan dan &amp;amp; Umat Manusia&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Epilog &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify"&gt;[]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-7365717454116038847?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/7365717454116038847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=7365717454116038847' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7365717454116038847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7365717454116038847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2009/11/filsafat-dan-sains-sebuah-pengantar.html' title='FILSAFAT DAN SAINS SEBUAH PENGANTAR.'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/Sv9Nu2M2TsI/AAAAAAAAC9A/HSF5jGJxI3E/s72-c/filsafat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-9127567451659455553</id><published>2009-11-08T07:14:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T23:17:32.524-08:00</updated><title type='text'>RENE DESCARTES - DISKURSUS METODE</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SvbgompDVXI/AAAAAAAAC8I/qfshECLHNgU/s1600-h/rene.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401751791249610098" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 226px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SvbgompDVXI/AAAAAAAAC8I/qfshECLHNgU/s320/rene.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; René Descartes (IPA: ʀəˈne deˈkaʀt; lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun), juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).Buku ini merupakan terjemahan dari buku " Discourse on Method", Hackkerr Publishing Company Inc, Indian Polish/Cambrige, 1993. Dengan cermat buku ini oleh Ahmad Faridl Ma'aruf, dan judul disesuaikan menjadi DISKURSUs METODE.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.&lt;br /&gt;Descartes adalah salah satu representasi dari semangat manusia modern yang telah mengalami kelahiran kembali. sebuah semangat yang telah demikian tua sekarang semakin tampak mulai lelah. Sebab,kita semakin bisa maklum akan apa yang dimaksud Descartes dengan (ilmu)pengetahuan. Dengan pengetahuan jenis ini , ia menawari kita menjadi &lt;strong&gt;le maitres et pressure de la nature&lt;/strong&gt;, pangeran yang gilang gemilang dengan cahaya ilmu dan menjadi penguasa dunia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-9127567451659455553?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/9127567451659455553/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=9127567451659455553' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/9127567451659455553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/9127567451659455553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2009/11/descartes-adalah-salah-satu.html' title='RENE DESCARTES - DISKURSUS METODE'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SvbgompDVXI/AAAAAAAAC8I/qfshECLHNgU/s72-c/rene.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-2267760143359228412</id><published>2009-05-12T23:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T23:58:44.387-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ILMU - Kontemplasi Filosofis tentang Seluk-Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SgppmtGs94I/AAAAAAAACig/SMHsGWpJ_i4/s1600-h/ngilmu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335192822237427586" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 209px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SgppmtGs94I/AAAAAAAACig/SMHsGWpJ_i4/s320/ngilmu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt; Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Sedang berfilsafat dimulai dengan kedua-duanya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ffcc66;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;erfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berati mengoreksi diri, semacam keberanian berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah terjangkau.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang-orang ilmuwan tidak lekas puas mengenai ilmu yang hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral dan kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan bagi dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karakter berfikir filsafat yang kedua adalah mendasar, artinya setiap ilmu yang ada tak lagi dipercaya sebagai kebenaran. Kebenarannya dipertanyakan, mengapa ilmu itu bisa benar, dan apa yang dimaksud dengan kebenaran di sini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menikmati Filsafat yang mengasyikkan, memburu pengetahuan dengan meragukan setiap pengetahuan dan meyakini keraguan tas segala hal melalui berbagai pertanyaan yang dijawabnya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;ISTIMEWA BUKU INI&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buku ini termasuk kategori istimewa, karena merupakan buku filsafat ilmu yang memberikan ringkasan dari apa yang dibahas. Tepatnya pada halaman 231 - 242, buku ini meringkas sajian serta menyederhanakan. Sangat cocok untuk mahasiswa yang sedang mengulang, karena tidak lulus ujian.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Data BuKu&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;JUDUL: Filsafat Ilmu: kontemplasi Filosofis tentang Seluk Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENULIS: Drs. Beni Ahmad Saebani, MSi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENERBIT: CV. Pustaka Setia. Jl. BKR [Lingkar Selatan] No. 162-164. Telp: 022-5210588. Bandung 40253.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;CETAKAN: Pertama Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;TEBAL: 264 halaman ; 16,5 x 23,5 cm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;ISBN: 978-979-730-941-1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-2267760143359228412?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/2267760143359228412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=2267760143359228412' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2267760143359228412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2267760143359228412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2009/05/filsafat-ilmu-kontemplasi-filosofis.html' title='FILSAFAT ILMU - Kontemplasi Filosofis tentang Seluk-Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SgppmtGs94I/AAAAAAAACig/SMHsGWpJ_i4/s72-c/ngilmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-2907876451129579288</id><published>2009-02-08T18:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T18:55:32.197-08:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ITU INDAH</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SY-Rug6i2RI/AAAAAAAACSs/UzwN0SVxk8k/s1600-h/Filsat+itu+memang+indah+buk+kol+djoko+aw.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300615514733861138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 137px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 200px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SY-Rug6i2RI/AAAAAAAACSs/UzwN0SVxk8k/s200/Filsat+itu+memang+indah+buk+kol+djoko+aw.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;MITOS BAHWA FILSAFAT ITU SULIT BERGENTAYANGAN DI KAMPUS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Beberapa mahasiswa saya mengeluh, ketika saya baru pertama memasuki ruangannya, karena mendengar saya akan mengajarkan filsafat ilmu. Usut punya usut ternyata dibenak mereka sudah punya preferen negatif, dan kita dinina bobokan oleh mitos yang acapkali bergentayangan di kampus. Mitos itu mensuarakan bahwa filsafat adalah sebuah mata kulaih yang sulit, dan tidak memiliki manfaat di dunia kehidupan. Secara pragmatis juga dikatakan bahwa filasafat tidak berguna di dunia kerja, dan dunia kehidupan sehari-hari. Agar kita mencitai sekaligus bersemangat mempelajari filsafat, gudang filsafat akan mensadap beberapa pengertian yang mudah cerna, selengkapnya sebagai berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;PATOKAN-PATOKAN DASAR/CIRI-CIRI BERFIKIR FILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Berpikir sampai ke akar-akar permasalahan atau berpikir secara radikal&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Ini berarti kita berpikir samapai ke inti atau hakikat dari obyek pemikiran kita, yaitu permasalahan yang kita hadapi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Berpikir universal&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Filsafat mencerminkan pengalaman umum manusia. Oele karena itu ciri pemikiran kita haruslah bersifat universal dan bukannya parsial atau bagian-bagian, sebagaimana yang terjadi dalam ilmu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Koheren dan runtut atau konsisten&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: berpikir koheren berarti sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir. Runtut atau konsisten berarti tidak mengandung pertentangan atau kontradiksi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sistematik&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: berpikir sistematik bearti semua pandangan yang dianalisis selalu berhubungan secara teratur dengan maksud tertentu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Komprehensif yang berarti menyeluruh&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.Filsafat merupakan keterbukaan total terhadap realitas atau totalitas&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bebas:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; pemikiran filosofis adalah hasil pemikiran yang bebas dari prasangka-prasangka sosial historis, kultural dan religius&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bertanggung jawab&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: kita berpikir dan bertanggung jawab atas hasil pemikiran kita dan paling tidak bertanggung jawab terhadap hati nurani kita sediri&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;DARI PANDANGAN HIDUP MENJADI ILMU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Filsafat dapat kita pandang dari dua sisi, dari perpektif pandangan hidup dan perpektif Ilmu. Kemudian proses-proses yang membawa filsafat dari pandangan hidup menuju ilmu yang bersifat akademis, dipaparkan buku ini sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Filsafat berkembang menjadi disiplin khusus karena dirinya mampu mengerahkan segenap segala usaha kepada kebijaksanaan, dan selalu memperbanyak refleksi dan berupaya menemukan akar atau kriteria untuk membedakan secara ekstrem antara kebenaran dan kesalahan, keburukan dan kebaikan, atau bagaimana membedakan hal yang bersifat ilusif dan riil. Dengan itu semua filsafat membuka banyak refleksi tentang pengalaman dalam kehidupan sehari-hari&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Lewat berbagai refleksi, filsafat juga memahami dirinya sebagai bentuk dari cinta [philia]. Filsafat juga memahami dirinya dalam berbagai keadaan untuk bergerak maju dan selalu mencari pengetahauan yang tidak atau belum diketahui.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;FUNGSI DAN TUGAS FILSAFAT DALAM HUBUNGANNYA DENGAN ILMU&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Fungsi dan tugas filsafat dalam hubungannya dengan ilmu, buku ini membentangkan pemikiran sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Secara tradisonal-historis, filsafat dilihat sebagai ratu segala ilmu, kendati ketika ilmu-ilmu mulai memisahkan diri dari filsafat, fungsi seperti ini semakin diakui.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Terdapat beberapa fungsi penting filsafat dalam dunia ilmu, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;[]Filsafat merangsang hipotesis-hipotesis baru bagi ilmu lain atau teori ilmu pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;[]Sebagai pendasar filsafat menyelidiki mekanisme mencari pengetahuan dari ilmu tertentu, yakni secara kritis menyelidiki anggapan, pengertian dan metodenya sendiri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;[]Fungsi sintesis:Membuat sintesis dari hasil dan pandangan dunia ilmu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;[]Fungsi Kritis: mengeritik ajaran-ajaran ideologis dan filosofis, teknik, ekonomi, dan lain-lain [kritik ideologi]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:100%;"&gt;[]Fungsi sosial-konstruktif: kritik terhadap situasi masyarakat demi kebaikkan dan kemanusiaan. Kritik ini tidak didasarkan pada intuisi melainkan berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman, relasi antar manusia&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;,&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:100%;"&gt;antropologi, sosiologi dan etnologi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;[]Fungsi pedagogis:pendidikan untuk berpikir kelas [logis-filosofis], disiplin berpikir dan berbicara&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;LIMA PRINSIP DALAM DALAM BERFILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Buku ini juga mengadopsi pemikiran The liang Gie terkait dengan prinsip-prinsip berfilsafat:&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Filsafat menghalau kecongkakan dan kesombongan intelektual yang selalu berprinsip bahwa kita sudah tahu segala sesuatu. Halangan paling utama dalam proses pembelajaran ialah pandangan kita sudah tahu segala sesuatu. Dengan ini kita kehilangan rasa ingin tahu dan kemampuan untuk belajar lebih banyak lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Kesetiaan kepada kebenran dan keberanian untuk mempertahankan kebenaran itu. Ini sudah diperlihatkan oleh bapak filsafat, Sokrates, yang dengan berani menerima hukuman mati secara tidak adil dengan siap menelan pil beracun dan mematikan&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Memahami secara sungguh-sungguh pelbagai persoalan filsafat dan berusaha menemukan jawabannya. Dengannya kita terlibat dalam latihan berpikir yang terus menerus [&lt;em&gt;intellectual exercises]&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Latihan-latihan intelektual untuk menilai masalah secara kritis dan memecahkannya dapat kita lakukan secara lisan tetapi juga secara terulis. Karena itu latihan untuk berbicara dan mengungkapkan diri dalam dialog dan komunikasi dengan orang lain sangat penting. Juga latihan inteltual terus menerus kita buat melalui karya tulis menulis dalam bentk apa saja&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Keterbukaan diri terhadap pelbagai persoalan dan konteks hidup kita. Kita berusaha menghindarkan pelbagai pandangan sempit atau hanya berpihak pada satu pandangan tertentu saja. &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Data buku&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;JUDUL:Filsafat itu Indah&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;PENULIS:Dr. Konrad Kebung.SVD&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;PENERBIT:Prestasi Pustakaraya&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-2907876451129579288?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/2907876451129579288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=2907876451129579288' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2907876451129579288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2907876451129579288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2009/02/filsafat-itu-indah.html' title='FILSAFAT ITU INDAH'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SY-Rug6i2RI/AAAAAAAACSs/UzwN0SVxk8k/s72-c/Filsat+itu+memang+indah+buk+kol+djoko+aw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-9091296997577506263</id><published>2009-02-05T00:04:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T23:26:20.371-08:00</updated><title type='text'>REKONSTRUKSI ILMU-CECEP SUMARNA</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SYqeBgYU8iI/AAAAAAAACRU/MdZXlAbBe88/s1600-h/Rekonstruksi+Ilmu+buk+kol+djoko+aw.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299221660263838242" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 130px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SYqeBgYU8iI/AAAAAAAACRU/MdZXlAbBe88/s200/Rekonstruksi+Ilmu+buk+kol+djoko+aw.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt; EMPIRIK-RASIONAL ATEISTIK KE EMPIRIK-RASIONAL TEISTIK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ffcc00;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;egelisahaan sang filsof selalu membuta energi menjadi cahaya, bahkan kekuatan berpikir refketifnya memberikan pencerahan kepada kehidupan. Mungkin hal ini sama dengan kegelisahan yang dihadapi oleh seorang-orang bernama Cecep Sumarna, yakni seorang Dosen yang juga Ketua Program Studi Tadris Ilmu Pengethauan Sosial ekonomi Koperasi STAIN Cirebon. Kegelisahan itu memicu lahirnya sebuah buku yang berjudul "Rekosntruksi Ilmu"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurutnya saat ini para saintis telah memasuki wilayah mutlak Tuhan, saintis telah berhasil mengubah&lt;em&gt; ilahiyah&lt;/em&gt; yang &lt;em&gt;permanen&lt;/em&gt; kepada &lt;em&gt;insaniyah&lt;/em&gt; yang&lt;em&gt; immanen&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan penuh semangat buku ini membongkar/mendekonstruksi bangunan filsafat dan Sains Barat Modern yang dainggap sudah tertata rapi, final, dan baku, namun sesungguhnya "kosong melompong" dari makna dan nilai-nilai kemanusiaan. Inilah penggaran axiologi yang amat kentara. Buku ini sangat istimewa ketika pengantar diberikan oleh Dr.Jaih Mubarok yang membentangkan Filsafat Ilmu sangat mendasar sekali, bahkan dengan bahsa yang mudah cerna, melalui garapan yang sistematis. Dengan membaca tulisan Dr. Jaih Mubarok ini, maka orang akan mudah menangkap makna filsasat ilmu, sehingga sangat disarankan para pembaca yang baru saja masuk wilayah Filsafat ilmu membaca buku ini.Hadirnya buku ini tidak lepas dari perenungan dan perhatian penulis melihat fenomena dan fakta empirik yang terjadi. Buku ini mjuga merupakan bagian penting dari literatur yang membicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang termasuk Tradisi Besar [Great Tradition; karena telah berupaya menggambarkan pemikiran modernisme yang diagungkan dan kemudian dinilai gagal. Penilaian gagal ini ditunjukkan oleh kecenderungan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan tuhan yang tidak harmonis. Dan hubungan uitu justru menanggalkan nilai-nilai [filsafat nilai], yang kerap pula kita sebut dengan axiologi. Olah karenanya faham, modernisme harus dan layak didekonstruksi kewilayah yang tetap mengedepankan nilai-nilai. [maaf belum tuntas]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Data buku&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;JUDUL: Rekonstruksi Ilmu; Dari Empirik-Rasional Ateistik Ke empirik-Rasional Teistik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENULIS: Drs. Cecep Sumarna, Mag&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENERBIT: Benang Merah Press. Komp. Bumi penyileukan, B-8 No. 1. Cibiru, Bandung 40614. Telp. 081320781073. E-mail&lt;/span&gt;: &lt;a href="mailto:benangmerah_bdg@plasa.com"&gt;benangmerah_bdg@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="mailto:marketing_bmp@plasa.com"&gt;marketing_bmp@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;ISBN: 979-98351-6-X&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;TEBAL: 188 halaman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;CETAKAN:  Oktober 2005&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-9091296997577506263?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/9091296997577506263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=9091296997577506263' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/9091296997577506263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/9091296997577506263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2009/02/rekonstruksi-ilmu-cecep-sumarna.html' title='REKONSTRUKSI ILMU-CECEP SUMARNA'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SYqeBgYU8iI/AAAAAAAACRU/MdZXlAbBe88/s72-c/Rekonstruksi+Ilmu+buk+kol+djoko+aw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-3125639663287878590</id><published>2009-01-21T18:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T23:20:09.759-08:00</updated><title type='text'>BERPIKIR SEPERTI FILOSOF</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SXfZigPnaYI/AAAAAAAACJo/PexyOV0WQBE/s1600-h/Berpikir+seperti+filosof+buk+kol+djoko+aw.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293939073791519106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 132px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SXfZigPnaYI/AAAAAAAACJo/PexyOV0WQBE/s200/Berpikir+seperti+filosof+buk+kol+djoko+aw.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;BUKU INI INGIN MEMOTIVASI ORANG BAHWA FILSAFAT ITU MUDAH&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;endra Halomon Sipayung, penulis buku ini, punya niatan mengubah paradigma yang salah dalam mempelajarai filsafat, sekaligus juga ingin menjebol belenggu yang kerap keliru, ketika orang beranggapan bahwa mempelajari filsafat itu sulit. sisi lain ada seorang orang yang membikin sebuah mitos bahwa mempelajari filsafat itu hanya untuk orang-orang tertentu, bahakan tidak semua orang dapat memahami filsafat. Kenyataan itu membuat barier yang kuat sehingga orang memvonis filsafat itu adalah sulit. Sisi lain ada anggapan yang keliru, bahwa mempelajari filsafat akan menjauhkan seorang-oreang dari ranah agama, dan kecederung masuk kedomain atheis, serta sekularis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buku ini ini menghapus stigma buruk itu, dan dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang itu berfilsafat, setiap orang melakukan kajain filsafati, kendati tidak disadari.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rupanya buku ini memotivasi siapapun untuk belajar filsafat dengan mudah, bahkan buku ini terkesan menuntun orang sekaligus memotivasi. Data buku&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;JUDUL: Berpikir Seperti Filosof&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENULIS: Hendra Halomoan Sipayung&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PENERBIT: Ar-Ruzz Media. Modinan Sambilegi No. 194 Manguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Telp: 0274-4332223. E-mail&lt;/span&gt;: &lt;a href="mailto:arruzzwacana@Yahoo.com"&gt;arruzzwacana@Yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;ISBN: 978-979-25-4528-9&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;CETAKAN: Januari 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;TEBAL: 144 hlm; 12 x 19 cm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sadapan Ringkas:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;SYARAT BERPIKIR ALA FILOSOF&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, Anda harus berani mempertanyakan segala sesuatu termasuk hal-hal yang Anda yakini dan seterusnya&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, Anda harus mampu menjawab segala pertanyaan dan keraguan Anda untuk mendapatkan penjelasan yang holistik. Karena filsafat berupaya untuk mendapatkan kebenaran universal tentang realitas.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;TIPS MENGGALI IDE DARI BUKU-BUKU FILSAFAT:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bacalah keseluruhan sebuah buku filsafat secara sistematis. Cobalah membuat ulasan tentang bukuntersebut, apakah yang sedang dibahas dan gaya penuilisnnya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian baca dengan lebih berkonsentrasi untuk mengetahuai mana maslah yang sedang dibahas, pandangan-pandangan penulis dan argumen-argumennya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kajilah setiap bagian yang relevan, coba analisis argumen yang disampaikan. Kemudian buat kerangka tulisan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cobalah membaca secara akatif. Sewaktu Anda membaca, tanyakan pada diri Anda sendiri: apakah masalah yang sedang dibicarakan? didasarkan pada asumsi apa argumen itu dibangun? apakah argumen valid dan masuk akal? Bagaimana argumen tersebut membentuk karya secara keseluruhan? Jika ada, apakah kesalahan itu instruktif? Mengapa kesalahan itu dibuat dan bagaimnan memperbaikinya?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika Anda mempunyai waktu, bacalah kembali keseluruhan karya itu untuk memperoleh pengertian tentang kesimpulan dan tujuan keseluruhannya, lalu berikan evaluasi terhadap keutuhan dan konsistensinya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;TIPS MEMBACA BUKU-BUKU FILSAFAT SECARA POSITIF&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;strong&gt;Hukum pertama&lt;/strong&gt;: bacalah buku-buku filsafat secara kritis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;strong&gt;Hukum Kedua&lt;/strong&gt;: Jangan pernah membaca buku filsafat sekali&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;strong&gt;Hukum Ketiga&lt;/strong&gt;: Tulisakan apa yang di benak Anda saat membaca karya filsafat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;strong&gt;Hukum Keempat&lt;/strong&gt;: Tetap jaga jarak pribadi dengan buku yang Anda baca&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-3125639663287878590?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/3125639663287878590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=3125639663287878590' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3125639663287878590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3125639663287878590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2009/01/berpikir-seperti-filosof.html' title='BERPIKIR SEPERTI FILOSOF'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SXfZigPnaYI/AAAAAAAACJo/PexyOV0WQBE/s72-c/Berpikir+seperti+filosof+buk+kol+djoko+aw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-4936745775652497819</id><published>2008-11-18T05:21:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T23:18:47.975-08:00</updated><title type='text'>RISALAH FILSAFAT EMPIRISME DAVID HUME</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SSLErcbllwI/AAAAAAAAB5E/kOKDgJABSvk/s1600-h/empiris.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269990764622223106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 134px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 200px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SSLErcbllwI/AAAAAAAAB5E/kOKDgJABSvk/s200/empiris.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;eri Petualangan Filsafat, karya T.Z. Lavine&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Kita jadi diingatkan kembali tentang APOSTERIORI, bahwa sebuah ilmu lahir setalah pengamatan. "Post" berarti "setelah" artinya setelah melewati penginderaan sebuah ilmu lahir, pengalaman empiri itu faktual, dengan ekstrem dikatakan bahwa orang yang mengunggul-unggulkan rasio adalah seorang-orang yang hidup di awang-awang. Platonis katanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;David Hume, adalah orang yang membangkitkan citarasa keilmuan melalui ranah kekuatan pengamatan indrawi.&lt;br /&gt;Empirisme memandang pengamatan pancaindera sebagai satu-satunya sumber pengetahuan terpercaya. Empirisme muncul pada awal tahun-tahun abad XVII.&lt;br /&gt;Kendati buku ini nampaknya membentangkan sepak terjang Filsut David Hume, namun isi buku ini adalah sebuah esensi filsafat empirisme.&lt;br /&gt;Data buku&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;JUDUL: David Hume--Risalah Filsafat Empirisme&lt;br /&gt;PENULIS: T.Z. LAvine&lt;br /&gt;PENERBIT: Jendela. Jl. Gejayan Gg. Buntu II/5A Yogyakarta 55281./ Telp. 0274-518886.&lt;br /&gt;ISBN: 979-95978-126-3&lt;br /&gt;TEBAL: xii + 87, 12 x 18 cm&lt;br /&gt;Catatan: Diterjemahkan dari: From Socrates to Satre: The Philosophic Quest. New York: Bantam Books, Inc, 1984]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;KEBANGKITAN EMPIRISME INGGRIS&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Buku ini membentangkan bahwa empirisme berkembang di Inggris. Nama-nama besar filsuf yang mencermati empirisme sebagian besar berkebangsaan Inggris. Inilah yang mengindikasikan bahwa titik tertinggi kemajuan empirisme berada di Inggris dan sekitarnya. Skotlandia, dan Irlandia disebut juga sebagai temapt berkembangkan empirisme, yakni ketika abad XVII dan XVIII. Penganut empirisme Inggris klasik dan karya utamanya dalam teori pengetahuan antara lain:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;John Locke [1632-1704]--&lt;em&gt;Essay Concerning Human Understanding&lt;/em&gt; [Esai yang berkenaan dengan pemahaman manusia]--1690&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;George Berkeley [1685-1753] dalam A Treatise Concerning the Principle of Human Knowledge [Risalah mengenai Prinsip-prinsip Pengetahuan Manusia]--1710&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;David Hume[1711-1776]--A Traetise of Human Nature [Risalaqh Mengenai Sifat Alami Manusia] --1738-1740, selanjutnya direvisi menjadi Enquiry Concerning Human Understanding [Penelitian atas pemahaman Manusia]--1751&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;[Catatan buku ini menohok penganut Rane Descartes, dan selanjutnya menanamkan kebencian dalam bentuk "Anti Cartesianisme. Buku ini juga menyediakan Glosarium untuk memudahkan khalayak bacanya. Hume dalam buku ini menegasdi Gagasan Jiwa dan Diri, bahkan terungkap secara jelas filosofi Hume mengenai agama. Kritik tajam Hume yang keras juga diungkap jelas, seperti:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kritik Keras Hume atas Bukti Rasional Mengenai Tuhan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kritik Keras Hume atas Deisme&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kritik Keras Hume atas Keyakinan pada Mujizat]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-4936745775652497819?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/4936745775652497819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=4936745775652497819' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/4936745775652497819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/4936745775652497819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/11/risalah-filsafat-empirisme-david-home.html' title='RISALAH FILSAFAT EMPIRISME DAVID HUME'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SSLErcbllwI/AAAAAAAAB5E/kOKDgJABSvk/s72-c/empiris.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-7194413036215320758</id><published>2008-11-17T22:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T23:45:07.152-08:00</updated><title type='text'>APAKAH FILSAFAT DAN FILSAFAT ILMU ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SSJqQ4_h7JI/AAAAAAAAB40/K2b4eImdoKs/s1600-h/B+Arief.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SSJqQ4_h7JI/AAAAAAAAB40/K2b4eImdoKs/s200/B+Arief.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269891352386202770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Arief Sidharta membuat manfaat dalam kehidupannya, serta mengisi keunikan diri dengan aktivitas yang jarang dilakukan orang lain pada umumnya. Selalu dalam kehidupnya dijalani dengan penuh pemikiran yang reflektif, sebagai bukti ketika memperingati ulang tahunnya yang ke 70, tetap membuat pancaran yang bermanfaat kepada sesamanya. Ulang tahunnya ditandai dengan meluncurnya sebuah buku filsafat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Buku yang dinganu dari kempulan tulisan ini berkutak dengan masalah filsafat, dari empat tulisan, terdapat tiga tulisan yang mengkhususkan pada filsafat ilmu. Tiga tulisan itu ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apakah filsafat ilmu itu?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat Ilmu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konsep Ilmu&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Apakah filsafat ilmu itu ?&lt;br /&gt;Filsafat ilmu dikupas dengan tahapan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tujuan Ilmu [The goal of science]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penjelasan ilmiah [Scientific exolanation]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori dan hukum ilmiah [ Scientific theories and law]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori observasi [Theory and observasion]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penilaian dan demarkasi [Assessment and demarcation]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesatuan ilmu [The unity of Science]&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;FILSAFAT ILMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apakah ilmu itu?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode ilmu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sikaplmiah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Klasifikasi ilmu pengetahuan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masalah bebas nilai dan ilmu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertanggungjawaban ilmu dan etika&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;KONSEP ILMU:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Konsep ilmu dalam filsafat ilmu dewasa ini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konstruksi ilmu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jenis-jenis ilmu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedudukan ilmu hukum.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Data Buku&lt;br /&gt;JUDUL : Apakah Filsafat  dan Filsafat Ilmu&lt;br /&gt;PENULIS : B.Arief Sidharta [Editor]&lt;br /&gt;PENERBIT: Pustaka Sutra.&lt;br /&gt;ISBN-13: 978-979-16086-4-0&lt;br /&gt;CETAKAN: I- April 2008&lt;br /&gt;TEBAL: 114 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SADAPAN RINGKAS:&lt;br /&gt;[halaman 80]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebera ciri pokok yang terdapat dari pengertian ilmu yakni:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ilmu itu bersifat rasional, artinya proses pemikiran yang berlangsung dalam ilmu itu harus dan hanya tunduk pada hukum-hukum logika&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Ilmu itu bersifat empirikal, artinya kesimpulan-kesimpulan yang ditariknya dapat ditundukkan pada pemeriksaan atau verivikasi pencaindera manusia. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan, bahwa ilmu harus menerima prasuposisi-prasuposisi atau kebenaran-kebenaran tertentu, sebagai titik tolak atau dasar, yang dapat atau tidak perlu diverifikasikan oleh pancaindera manusia. Prasuposisi-prasuposisi ini diperoleh dari filsafat, misalnya kaidah-kaidah hukum logika dan hukum kausalitas&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Ilmu bersifat sistematikal, yakni cara kerjanya runtut berdasarkan patokan tertentu [metodikal] yang secara rasional dapat dipertanggungjawabkan, dan hasilnya berupa fakta-fakta yang relevan dalam bidang yang ditelaahnya harus disusun dalam suatu kebulatan yang konsisten&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ilmu bersifat umum dan terbuka, artinya harus dapat dipelajari oleh tiap orang; jadi tidak bersifat esoterik [terbatas hanya bagi sekolompok orang tertentu]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ilmu bersifat akumulatif, yakni kebenaran diperoleh selalu dapat dijadikan dasar untuk memperoleh kebenaran baru.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Tiga perangkat Kriteria:&lt;br /&gt;[Halaman 105]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Harold Berman, keberadaan ilmu harus memenuhi tiga perangkat kreteria, antara lain yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kriteria Metodologikal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kriteria Nilai&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kriteria Sosiologikal&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Kriteria Metodologika:&lt;br /&gt;Dalam peritilah metodologi, ilmu dalam arti modern dapat didefiniskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;seperangkat pengethuan yang terintegrasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;yang di dalamnya kejadian-kejadian atau gejala khusu secara sistematis dijelaskan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;dalam peristilahan asas-asas dan kebenaran umum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pengetahuan tentang gejala, asas dan kebenaran umum [hukum] itu diproleh sebagai kombinasi:&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hipotesis-verifiksi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sejauh dimunkinkan : eksperimen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;metode ilmiah penelitian dan sistematisasi, emskipun memiliki ciri-ciri umum yang sama, anmun tidak sama untuk semua ilmu, melainkan harus disesuaikan pada jenis-jenis khas kejadian atau gejala yang menjadi pokok telaah ilmu yang bersangkutan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;KRITERIA NILAI:&lt;br /&gt;Ilmu dalam kegaitannya harus mengacu primis-primis nilai :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;obyektivitas ilmiah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bebas pamrih [disinterestedness]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;skeptisisme terorganisasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;toleransi terhadap kekeliruan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;keterbukaan terhadap kebenaran ilmiah baru&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;KRITERIA SOSIOLOGIKAL:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pembentukan komunitas ilmuwan, dalam rangka tanggung jawab kolektif berkenaan dengan pelaksanaan penelitian, pelatihan/pendidikan anggota baru, berbagi pengetahuan ilmiah [publikasi], dan otensitas pencapaian ilmiah di dalam dan di luar disiplin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penautan berbagai disiplin ilmiah dalam komuniats penstudi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Status sosial yang menyandang hak istimewa komuniats para ilmuawan, misalnya kebebasab pengajaran dan penelitian, dan tanggung njawab memberikan pelayanan demi ilmu itu sendiri, metodenya, nilai-nilai dan fungsi sosialnya&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[disadap hanya sebagian]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-7194413036215320758?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/7194413036215320758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=7194413036215320758' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7194413036215320758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7194413036215320758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/11/apakah-filsafat-dan-filsafat-ilmu.html' title='APAKAH FILSAFAT DAN FILSAFAT ILMU ?'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SSJqQ4_h7JI/AAAAAAAAB40/K2b4eImdoKs/s72-c/B+Arief.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-2332333999795966182</id><published>2008-11-11T23:04:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T22:38:52.037-08:00</updated><title type='text'>PINTU MASUK DUNIA FILSAFAT: Dr. HARRY HAMERSA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SRqEGITDUiI/AAAAAAAAB24/iokvlEV68Ms/s1600-h/Dunia+Filsafat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 132px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SRqEGITDUiI/AAAAAAAAB24/iokvlEV68Ms/s200/Dunia+Filsafat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267667955004690978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);font-size:180%;" &gt;M&lt;/span&gt;empelajari filsafat orang mengatakan susah, mendengar kata filsafat gudah gelisah, kini tentunya berbeda. Banyak kunci masuk filsafat dengan mudah. Studi filsafat seakan berangkat wisata ke sebuah pantai indah yang belum terjamah, orang boleh memberikan makna apa saja. Tidak ada batas yang hitam dan putih, yang ada hanya tajamnya sebuah refleksi. Memang filsafat sering dimitoskan sebagai materi kuliah yang sangat sulit, dan setiap orang harus memiliki talenta belajar yang khusus. Itu semua tidak selalu benar. Siapa saja tanpa mengenal perbedaan, apakah bertalenta, atau bukan, mempelajarai filsafat itu mudah. Karl popper pernah memotivasi kita melalui kata-kata. Semua orang adalah filsuf, termasuk kita semua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Data Buku&lt;br /&gt;JUDUL: Pintu Masuk Dunia Filsafat&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENULIS: Dr. Harry Hamersma&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENERBIT: KANISIUS. Jl. Cempaka 9 Deresan, Yogyakarta 55281 Kotak Pos 1125/YK. Yogyakarta 55281. Website: www.kanisiusmedia.com. E-mail: office@kanisiusmedia.com&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-413-188-6&lt;br /&gt;CETAKAN: Edisi pertama terbit tahun 1981 [hingga cetakan ke - 23]&lt;br /&gt;                Edisi kedua tahun 2008&lt;br /&gt;TEBAL : 80 halaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sampul belakang buku bertutur. Jika Anda ingin mencicipi dan berkenalan sejenak dengan ilmu pengetahuan yang disebut filsafat, yang kon adalah "ibu segala ilmu", buku ini adalah pintu masuk yang tepat. Dengan cara bertutur yang padat dan enak dibaca. Harry Hamersma akan menutun Anda dalam sebuah wista singkat intelektual yang penuh daya pikat.&lt;br /&gt;Yang dibahas buku ini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Filsafat dan ilmu pengetahuan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ikhtisar sejara filsafat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cabang-cabang filsafat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengapa belajar filsafat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tugas filsafat menurut filsuf-filsuf&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Petunjuk-petunjuk studi filsafat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Buku ini membedakan antara filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai berikut&lt;br /&gt;FILSAFAT:&lt;br /&gt;Filsafat adalah pengethuan metodis , sistematis, dan koheren tentang &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;seluruh kenyataan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ILMU PENGETAHUAN:&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan adalah pengethuan metodis, sistematis, dan koheren [bertalian] tentang suatu &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;bidang tertentu dari kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;MENGAPA ORANG BERFILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat: &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;keharanan, kesangsian dan kesadaran keterbatasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keheranan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak filsuf menunjuk rasa heran [Yunani : thaumasia] sebagai asal filsafat. Plato, misalnya, mengatakan: "MAta kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat."Pada kuburan Immanuel Kant [1725-1824] tertulis "c&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oelum stellum suora me, lex moralis intra me&lt;/span&gt;". Kedua gejala yang paling mengherankan, menurut Kant, adalah "langit berbintang di atasnya" dan "hukum moral dalam hatinya"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesangsian&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Filsuf-filsuf lain seperti Augustinus [354-430] dan Descartes [1596-1650], menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran kemudian ia ragu-ragu. Apakah ia tidak ditipu oleh pancainderanya kalau ia heran? Apakah kita tidak hanya melihat yang ingin kita lihat? Di mana dapat di temukan kepastian, karena dunia ini penuh macam-macam pendapat, keyakinan dan intepretasi? Sikap ini, sikap skeptis[Yunani: penyelidikan], sangat berguna untuk menemukan suatu titik pangkal yang tidak da pat diragukan lagi. Titik pangkal ini dapat berfungsi sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesadaran akan keterbatasan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Filsuf-filsuf lainnya lagi mengatakan bahwa manusia mulai berfilsafat ketika ia menyadari betapa kecil dan lemah dirinya bila dibandingkan dengan alam semesta sekelilingnya. Semakin manusia terpukau oleh keterhinggaan sekelilingnya, semakin ia heran akan eksistensinya. Dengan keterbatasan itu manusia terdorong untuk berupaya mengatasi segenap kegagalan, kelemahan atau problema lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Cabang Filsafat:&lt;br /&gt;Cabang-cabang filsafat menurut buku ini terbagi atas empat kelompok yakni:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Filsafat tentang pengetahuan yang terdiri dari[ epistemologi, logika, dan kritik ilmu-ilmu]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, yang terdiri dari metafisika umum [ ontologi] dan metafisika khusu [teologi metafisik, antropologi, kosmologi]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat tentang tindakan, yang terdiri dari etika dan etestika;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sejarah filsatat&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Buku ini juga membentangkan ikhtisar sejarah filsafat, juga meneropong bagaimana implementasi filsafat dalam praktik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-2332333999795966182?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/2332333999795966182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=2332333999795966182' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2332333999795966182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2332333999795966182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/11/pintu-masuk-dunia-filsafat-dr-harry.html' title='PINTU MASUK DUNIA FILSAFAT: Dr. HARRY HAMERSA'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SRqEGITDUiI/AAAAAAAAB24/iokvlEV68Ms/s72-c/Dunia+Filsafat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5199684548398579405</id><published>2008-11-02T23:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T22:44:21.691-08:00</updated><title type='text'>HAKIKAT TEKNOLOGI</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SQ6wXiHHGCI/AAAAAAAAB0Q/jUKb4yazYa4/s1600-h/Etika.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264338932782798882" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 144px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SQ6wXiHHGCI/AAAAAAAAB0Q/jUKb4yazYa4/s200/Etika.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;alam mengkaji Filsafat Ilmu, dapat dipastikan akan terhubung dengan teknologi, maknanya ketika seorang-orang melakukan perenungan lebih mendalam, maka akan menemukan bahwa teknologi adalah anak kandung dari filsafat ilmu.&lt;br /&gt;Gudang ini merasa perlu mengangkat hakikat teknologi, karena masih banyak ditemui pemahaman yang masih karut marut. Gudang telah mempersiapkan SARING-Sadapan Ringkas,. Terkait dengan hakikat teknologi, namun untuk kali ini, tidak diambil dari buku filsafat. Materi dari buku ”Etika dan Teknologi”. Urgensi pengambilanitu, karena keinginan mendekatkan teknologi dengan value-valuenya. Tetapi jika dicermati lebih mendalam maka buku ini dapat juga diketegorikan sebagai buku filsafat ilmu, karena dalam kaidah filsafat ilmu itu, pilar ketiganya adalah pencermatan terhadap nilai-nilai [value]—”Axiologi”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketika etika difungsikan untuk meneropong sebuah teknologi, mulai dari aplikasi dan dampak yang ditimbulkannya, maka kita telah masuk kubangan filsafat ilmu. Di sinilah teknologi sebagai anak kandung disentuhkan dengan ibunya, yakni filsafat ilmu.&lt;br /&gt;[&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;catatan : pada bulan Oktober yang lalu seorang kawan menginginkan pembahasan terkait dengan ranah teknologi, mudah-mudahan bahasan ini cukup mengobati]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Data Buku:&lt;br /&gt;JUDUL : Etika dan Teknologi&lt;br /&gt;PENULIS: Ir. Herus Santosa, M.Hum&lt;br /&gt;PENERBIT : Tiara Wacana. Jalan Kaliurang Km. 78, Banteng , Sleman Yogyakarta. Telp./Fax. 880683. &lt;a href="http://www.tiarawacana.co.id/"&gt;http://www.tiarawacana.co.id/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:yogya@tiarawacana.co.id"&gt;yogya@tiarawacana.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ISBN: 979-1262-04-7&lt;br /&gt;TEBAL : xviii+189 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SARING—SADAPAN RINGKAS&lt;br /&gt;Hakikat Teknologi:&lt;br /&gt;Teknologi bukanlah sekedar produk ilmu pengetahuan beserta temuan-temuannya yang berupa mesin, pesawat, reaktor, ataupun fasilitas fisik lainnya yang serba canggih, melainkan juga termasuk sistem organisasi, struktur sosial beserta kekuasaan yang terlintas padanya.&lt;br /&gt;Menurut Kunto Wibisono:&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Merupakan hasil penerapan secara sistematik ilmu pengetahuan, sebagai suatu himpunan rasionalistik empirik dari berbagai komponen pendukungnya, dengan maksud hendak mengusai atau mengendalikan gejala-gejala yang dihadapinya melalui proses produktif secara ekonomis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Karakter Teknologi:&lt;br /&gt;Ada beberapa karakter teknologi :&lt;br /&gt;Pertama: teknologi pada hakikatnya adalah ”tangan” untuk melaksanakan kekuasaan yang dimiliki ilmu, hal ini harus disadari oleh manusia. Teknologi dihasilkan dari penerapan ilmu yang sudah mengalami penelitian dan pengembangan lebih lanjut hingga manfaatnya menjadi jelas bagi kehidupan manusia/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: teknologi bersifat dialektik, artinya teknologi dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia, akan tetapi pemecahan masalah tersebut menimbulkan permasalahan yang baru , dan permasalah yang baru ini harus dipecahkan dengan teknologi yang baru pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, teknologi memerlukan energi yang sangat besar. Pada umumnya, di negara-negara industri maju, konsumsi energi perkapita sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara yang laju konsumsinya rendah. Sehingga tampak adanya korelasi antara pendapatan nasional bruto [GNP] dengan konsumsi energi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FILSAFAT TEKNOLOGI?&lt;br /&gt;Filsafat teknologi adalah salah satu cabang filsafat khusus yang melakukan analisis filsafat tentang teknologi dan berbagai unsur serta seginya.&lt;br /&gt;Menurut salah seorag tokoh pelopor filsafat teknologi Carl Mitcham [1980:305], persoalan-persoalan filsafat tentang teknologi ada dua jenis, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Pertama:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; ”menyangkut soal-soal teoritis tentang sifat dasar teknologi, hubungannya dengan ilmu, struktur tindakan teknologi, intisari mesin, dan perbedaan mesin dengan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Kedua:&lt;br /&gt;”bersifat praktis, menyangkut persolan-persoalan etis mengenai keterasingan dalam masyarakat industri, senjata nuklir, pencemaran dam parktik keinsinyuran yang profesional &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Filsafat teknologi Menurut Mario Bunge&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat teknologi dapat dipandang sebagai gabungan dari lima cabang filsafat yang masih merupakan kuncup bunga yang hampir mekr,--Mario Bunge [1979:72] menjelaskan: &lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;technoepistemology &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;technometaphysic&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;technoaxiology &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;technoethics &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;technopraaxiology &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Technoepistemology&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Adalah telaah filsafat tentang pengetahuan teknis. Persoalan yang dibebaskan, antara lain adalah membedakan pengetahuan teknologi dan pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah, atau metode teknologi yang sejajar dengan metode ilmiah serta aturan-aturannya&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Technometaphysic:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adalah telaah filsafat tentang sifat dasar sistem-sistem buatan dari mesin-mesin sederhana sampai sistem-sistem barnag manusiawiyang rumit. Persoalan yang dibahasnya antara lain adalah prasyarat-prasyarat ontologis dari teknologi atau kekhasan dari semua barang teknologi yang membedakannya dari benda-benda alamiah&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Technoaxiologi:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Adalah telaah filsafat tentang penilaian yang dilakukan oleh para ahli teknologi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan teknologi mereka. Persoalan yang dibahasnya, antara lain adalah, nilai-nilai yang dipegang oleh para ahli teknologi kognitif, moral, ekonomi, sosial atau politis dan petunjuk-petunjuk niali nilai teknologi yang paling dapat dipercaya; Perbandingan kemanfaatan atau biaya, pemasaran kebutuhan sosial atau lainnya&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tecnoethics&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adalah cabang etika yang menyelidiki pokok-pokok pertikaian moral yang dihadapi oleh para ahli teknologi dan masyarakat umum dalam hubungannya dengan dampak sosial dari proyek-proyek teknologi yang berskala besar&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Technopraxiologi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adalah telaah filsafat tentang tindakan manusia yang dibimbing oleh teknologi. Persoalan yang dibahasnya, antara lain mengenai konsep tindakan rasional yang dapat diwujudkan secara pasti ata bagaimana seorang dapat ,erumuskan dalam istilah istilah umum, derajat efisiensi dari suatu sasaran terhadap suatu tujuan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5199684548398579405?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5199684548398579405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5199684548398579405' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5199684548398579405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5199684548398579405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/11/hakikat-teknologi.html' title='HAKIKAT TEKNOLOGI'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SQ6wXiHHGCI/AAAAAAAAB0Q/jUKb4yazYa4/s72-c/Etika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5302702575844222918</id><published>2008-10-22T00:36:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T03:47:39.333-07:00</updated><title type='text'>PERSOALAN EKSISTENSI DAN HAKIKAT ILMU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SP7fVHdR9YI/AAAAAAAABd4/qZpGFvF34RQ/s1600-h/Hakikat+Ilmu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259886968687424898" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SP7fVHdR9YI/AAAAAAAABd4/qZpGFvF34RQ/s200/Hakikat+Ilmu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suparlan Suhartono, Ph.D, adalah nama seorang-orang yang selalu akrab ditelinga siapa dsaja yang gandrung dengan filsafat ilmu.&lt;br /&gt;Tulisannya telah berjimbun, dan diterbitkan oleh bebera penerbit. Gudang ini, beberapa bulan yang lalu juga telah menghadirkan tulisan Suprlan Suharto, Ph.D, Buku yang membentangkan Hakikat Ilmu, lewat buku Filsafat Ilmu Pengetahuan terbitan: Ar. Ruzz Jl. Anggrek No.97 A Sambilegi Lor RT 04. RW.57 Mangunharjo, Depok Sleman, Yogyakarta Telp. [0274] 7482086. HP. 081.642.72234. E-mail: &lt;a href="mailto:arruzzwacana@yahoo.com"&gt;arruzzwacana@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kini Gudang kembali mengundang kehadiran buku-buku karyanya., utamanya yang bersinggungan dengan filsafat ilmu.&lt;br /&gt;Data Buku&lt;br /&gt;JUDUL: Filsafat Ilmu Pengetahuan [Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan]&lt;br /&gt;PENULIS: uparlan Suhartono, Ph.D&lt;br /&gt;PENERBIT: Ar-Ruzz Madia. Modinan Sambilegi 194 Manguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Telp. [0274] 4332223. E-mail: &lt;a href="mailto:marketingarruzz@yahoo.co.id"&gt;marketingarruzz@yahoo.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ISBN: 979-25-4484-4&lt;br /&gt;CETAKAN: I Juni 2008 [Cetakan lama telah diposting di gudang ini]&lt;br /&gt;TEBAL: 180 hlm, 13,5 x 19 cm&lt;br /&gt;SARING[Sadapan Ringkas]&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Obyek Ilmu Pengetahuan&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Obyek studi Ilmu Pengetahuan selalu berada di dalam sepuluh kategori. Kesemuanya itu dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu &lt;em&gt;subtansi &lt;/em&gt;atau diri, &lt;em&gt;aksidensia mutlak&lt;/em&gt; berupa kuantitas dan klualitas, &lt;em&gt;aksidensia relative&lt;/em&gt; berupa hubungan [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;relation&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;], tindakan [&lt;em&gt;&lt;strong&gt;action&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;], derita [&lt;em&gt;&lt;strong&gt;passion&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;], ruang [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;space&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;], waktu [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;time&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;], keadaan [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;situation&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;], dan kebiasaan [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;habit&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Filsafat Ilmu Pengetahuan di tengah-tengah pluralitas ilmu pengetahuan dan teknologi ini menuntut suatu pengembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi secara &lt;strong&gt;&lt;em&gt;interdisipliner &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;atau &lt;em&gt;&lt;strong&gt;multidisipliner&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, dan diamalkan secara etis dan tidak bebas nilai. Upaya pengembangan dan pengamalan ilmu pengetahuan dan teknologi demikian itu terarah kepada dua sasaran pokok, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan sumber daya alamnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Melihat "yang ada':&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buku ini membentangkan tentang yang ada sebagai berikut.&lt;br /&gt;Dengan mengambil pemikiran bapak metafisika yang menyatakan bahwa setiap “yang ada” berada dalam suatu cara disebut 10 [sepuluh] kategori. Adapun kesepuluh kategori itu dapat dijelaskan kembali secara beba sebaga berikut:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam “&lt;em&gt;substance&lt;/em&gt;” au dirinya sendiri. Artinya, setiap hal pasti berada sebagai dirinya sendiri, bukan yang lain. Seorang pasti berada sebagai manusia, bukan mahklukm lain.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam “&lt;em&gt;&lt;strong&gt;quality&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;” atau sifatnya sendiri. Keberadaan seorang sebagai manusia ditentukan oleh sifat khas kejiwaan cipta, rasa dan karsa kemanusiannya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam “&lt;em&gt;&lt;strong&gt;quantity&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;” atau bentuknya sendiri. Keberadaan seseorang sebagai manusia ditentukan oleh bentuk keragaman khas manusia.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam “&lt;em&gt;&lt;strong&gt;relation&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;” atau hubungan dengan hal lain. Artinya, setiap hal tidak bisa berada dengan sendirinya. Keberadaannya serba terhubungkan dengan yang lain secara fungsional. Keberadaan manusia selalu ditentukan sepenuhnya oleh hubungan dengan sesama manusia dan alam&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam “&lt;em&gt;&lt;strong&gt;action&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;” atau tindakan tertentu. Artinya, terhadap yang lain sesuatu hal memerankan diri dalam predikat tertentu. “air” sebagai sumber kehidupan. “manusia” memerankan diri sebagai pemelihara kelangsungan hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam suatu “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;” atau derita tertentu atas tindakannya. Karena sebagai sumber kehidupan, air menajdi 0byek kehidupan. Atas perannya sebagai pemelihara kelangsungan kehidupan, maka manusia harus bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam suatu “&lt;em&gt;&lt;strong&gt;space&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;” atau ruang tertentu. Dalam hubungannya dengan yang lain menurut peran masing-masing, pasti berjalan di dalam tempat tertentu. Menurut tempatnya, air bisa menjadi air sumur, air sungai, air selokan, dan sebagainya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam suatu “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;tempo&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;” atau waktu tertentu. Dengan keberadaannya di dalam ruang tertentu, maka sesuatu pasti juga berlangsung dalam waktu tertentu. Dalam waktu lain, air sumur menjadi air minum, dan sebagainya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal pasti berada di dalam “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;situs&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;” atau keadaan tertentu, Kelangsungan keberadaan dalam tempat dan waktu tertentu itu berarti sesuatu hal berada dalam keadaan tertentu. Air bisa berarti sesuatu hal berada dalam keadaan tertentu. Air bisa dalam keadaan bersih pada sumbernya, lalu mendi kotor di muara sungai&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap hal poasti berada di dalam “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;habitus&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;” atau kebiasaan tertentu. Artinya, setiap jenis sesuatu selalu berada dalam habiutatnya sendiri-sendiri. Habitat air adalah tatanan lingkunagn yang seimbang, habitat “ikan” ada;ah air, habitat manusia adalah kreativitas untuk menyesuaikan diri, begitu seterusnya. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;[ Catatan khusus, untuk pemanfaatan bagi pemikiran epistemic sebagai landasan studi filsafat pengetahuan]&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;: Pentingnya pengetahuan, Yaitu mengetahui secara benar tentang batas-batas pengetahuan, agar tidak melakukan penyelidikan dan pemikiran-pemikiran mengenai sesuatu hal yang pada akhirnya menjadi sia-sia karena tidak akan bisa diketahui. Tetapi, apakah pengehatuan hanya terbatas pada kemampuan pengalaman indra dan pemikiran saja?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; makna pengetahuan. Jika dikatakan bahwa seorang mempunyai pengetahuan, berarti ia mempunyai kepastian tentang sesuatu hal, dan bahwa apa yang dipikirkan di dalam pernyataan-pernyataan adalah sungguh-sungguh merupakan halnya sendiri. Tetapi, kenyataan membuktikan bahwa hamper tidak ada yang dapat dipastikan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ketiga,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; metode memperoleh pengetahuan, menentukan sifat kebenaran pengetahuan, yang terdiri Dari:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengathaun empiric [&lt;em&gt;empirism&lt;/em&gt;]. Mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman indrawi. Sedangkan akal pikiran dipandang sebagai penampung segala hal yang dialami&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Metode Rasional [&lt;em&gt;rationalism&lt;/em&gt;]. Pengetahuan bersumber dari akal pikiran. Pengalaman dipandang sebagai perangsang bagi akal pikiran. Kebenaran bukan pada diri sesuatu, malainkan pada idea.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Metode fenomenologik [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fenomenologism&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; I.Kant). Bahwa apa yang dapat diketahui tentang sesuatu hal itu hanyalah gejala-gejala saja, bukan halnya sendiri. Adapun gejala-gejala itu ada pada hubungan yang niscaya [pasti] antara sebab akibat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Metdode ilmiah, Memperoleh pengetahuan yang benar dan obyektif melalui cara ini, seperti ,melakukan pendekatan [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;approach&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] untuk menentukan lingkupan studi [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;scope&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] yang sering disebut obyek forma, untuk menetukan metode [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;method]&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang cocok, apakah analisis ataukah sintesis, dan menetukan system kerja yang tepat, apakah terbuka ataukah tertutup, semuanya menjadi penting.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5302702575844222918?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5302702575844222918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5302702575844222918' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5302702575844222918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5302702575844222918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/10/persoalan-eksistensi-dan-hakikat-ilmu.html' title='PERSOALAN EKSISTENSI DAN HAKIKAT ILMU'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SP7fVHdR9YI/AAAAAAAABd4/qZpGFvF34RQ/s72-c/Hakikat+Ilmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-850892935545123555</id><published>2008-10-08T00:53:00.000-07:00</published><updated>2008-10-08T01:24:38.091-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN : Mikhael Dua</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SOxrlLUTVXI/AAAAAAAABao/uJPSKos10fQ/s1600-h/filsa.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254693151671801202" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SOxrlLUTVXI/AAAAAAAABao/uJPSKos10fQ/s200/filsa.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Buku ini dahsyatnya menyamai Buku "Ilmu Dalam Perspektif" Karya Yuyun Suriasumantri", bahasanya mudah dicerna, mengalir sehingga tak perlu menguras pikir. Lahirnya buku ini sebagian atas perunungan penulis, bahwa saat ini kurikulum pembelajaran di tanah air acapkali ditebas libas oleh kepentingan pasar. Ilmu seakan tereduksi untuk kepentingan yang pragmatis. Hadirnya filsaf ilmu tentunya ingin membuat barrier terhadap kepentingan-kepentingan semu, menuju kepentingan yang realistis berpandangan ke depan. Tangan dingin penulis, Mikhael Dua ingin berkontribusi atas masalah-masalah tersebut, bahkan telah diawali dengan menulis sebuah buku dengan judul Ilmu Pengetahuan,Sebuah Tinjauan Filosofis, yang ditulis bersama Sonny Keraf.&lt;br /&gt;Intinya menyentuh persoalan plus minusnya padangan para filsuf, seperti Karl Raimund Popper, Carl Gustav Hempel, bahkan paradigma Ilmu Pengetahuan buah kreativitas Thomas S. Kuhn dibahas tuntas.&lt;br /&gt;Data Buku :&lt;br /&gt;JUDUL : Filsafat Ilmu Pengetahuan-Telaah analitis, Dinamis, dan Dialetis&lt;br /&gt;PENULIS: Mikhael Dua&lt;/div&gt;PENERBIT: Ledalero--Seminari Tinggi LedaleroMaumere 86152. Tel. [0382]--22898. E-mail: &lt;a href="mailto:penerbitledalero@yahoo.com"&gt;penerbitledalero@yahoo.com&lt;/a&gt;. website: &lt;a href="http://www.penerbitledalero.org/"&gt;http://www.penerbitledalero.org/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ISBN: 979-9447-26-7&lt;br /&gt;CETAKAN: I--2007.&lt;br /&gt;TEBAL: xvi + 248 hlm, 140 x 210 mm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-850892935545123555?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/850892935545123555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=850892935545123555' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/850892935545123555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/850892935545123555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/10/filsafat-ilmu-pengetahuan-mikhael-dua.html' title='FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN : Mikhael Dua'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SOxrlLUTVXI/AAAAAAAABao/uJPSKos10fQ/s72-c/filsa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-7017332848373599062</id><published>2008-09-13T22:29:00.001-07:00</published><updated>2008-09-13T23:23:50.624-07:00</updated><title type='text'>EPISTEMOLOGI  DALAM FILSAFAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMyiV8ZaotI/AAAAAAAABWQ/1TxcnPlsolc/s1600-h/Mudlor+Achmad.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245746163853468370" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMyiV8ZaotI/AAAAAAAABWQ/1TxcnPlsolc/s200/Mudlor+Achmad.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#33ccff;"&gt;ILMU DAN KEINGINAN TAHU&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salah satu bagian filsafat yang membahas pengetahuan iala epistemology. Epistemologi itu membicarakan pengartuhan dari pangkal sampai ujung. Melalui epistemology akan menyadarkan kita tentang berbagai hal yang menyangkut masalah sendi pengetahuan, wilayah bahasan, proses, bobot, sehingga memperoleh pengetahua yang sejati. Untuk maksu tersebut”Gudang Filsafat” akan menyadap buku yang membahasa Epistemologi dalam filsafat, berkisar pada Ilmu dan Keinginan Tahu.&lt;br /&gt;Data Buku:&lt;br /&gt;JUDUL: Ilmu dan Keinginan Tahu—[Epistemologi dalam Filsafat]&lt;br /&gt;PENULIS: Drs. Mudlor Achmad&lt;br /&gt;PENERBIT: Trigenda Karya. Koipo Plaza B-19. Jl.Peta—Lingkar Selatan Bandung –40265&lt;br /&gt;ISBN: 979-8422-38-4&lt;br /&gt;CETAKAN: I—1994&lt;br /&gt;TEBAL: 109 hlm: 2,8 cm&lt;br /&gt;Sandapan Ringkas: &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sasaran Pengetahuan:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Alam—yang dikaji &lt;strong&gt;kosmologi&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manusia—yang dibahas &lt;strong&gt;antropologi&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tuhan—yang dibicarakan &lt;strong&gt;theodicea&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Jenis sasaran pengetahuan, dilihat dari arah Obyek [yang dimati]:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Objek material&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, ialah sesuatu yang diamati secara menyeluruh [integral]. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Objek forma&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, ialah bagian tertentu yang diamati dari sesuatu [parsial]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Jenis sasaran pengetahuan, dilihat dari subyek (yang mengamati) :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Objek empiris&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; [obyek rasa], yaitu sasaran yang pada dasrnya ada dan dapat ditangkap oleh indera lahir [pancaindra]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Objek ideal&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; [objek bukan rasa], yaitu sasaran yang pada dasarnya tiada dan menjadi ada berkat kegiatan sukma atau akal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Objek transenden&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; [objek luar rasa], yaitu sasaran yang pada dasarnya ada, tetapi berada di luar jangkauan pikiran dan perasaan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Sasaran secra global—(dua lingkup sasaran):&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;alam, dobicarakan dalam kosmologi –[filsafat alam]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;manusia, dibahas dalam antropologi—[filsafat manusia]&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sepuluh lingkup sasaran secara detil:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hakikat [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;essence&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] ialah hal yang menjadikan sesuatu sebagai sesuatu hal tertantu [sebagai demikian]. Esensi adalah istilah yang berhubungan dengan hal yang pokok, tapi khusus&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Zat [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;substance&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;], ialah sesuatu yang mengandung kualitas serta sifat kebetulan dan mendasari atau dipunyai sesuatu [barang jadi]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;being&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] ialah pengertian yang mencakup segala sesuatu, baik yang alami [pengalami] maupun yang akali [pikiran]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kenyataan [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;reality&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] ialah sesuatu yang ditangkap dalam tangkapan yang dapat dipercaya, yaitu tangkapan yang tidak mengandung kesalahan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keberadaan [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;existence&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] ialah keadaan tertentu yang lebih khsus dari sesuatu. Apa yang bereksistensi, tentu nyata ada, bukan sebaliknya, dan bersifat public [artinya objek itu sendiri harus ata dapat dialami olehbanyak orang yang melakukan pengamatan]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bahan [&lt;em&gt;&lt;strong&gt;mater&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;] ialah sesuatuyang menjadio sala barang sesuatu [barang jadi] dibuat. Materi menunjuk nama jenis substansi yang khusus dan mendasar dari alam fisik, yaitu lingkungan yang menimbulkan pengalaman indrawi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bentuk [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;form&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] ialah susunan [struktur] yang membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain. Yang dimaksud bukan bangunnya. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perubahan [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;change&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] ialah apa yang terjadi pada saat sesuatu hal menjadi hal yang lain. Dengan kata lain, perubahan adalah peralihan sesuatu dari keadaan tertentu menjadi keadaan yang berbeda dengan keadaannya semula.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebab [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;casuality&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] ialah sesuatu yang mendorong atau amenceghah sesuatu perubahan. Sebab—akibat merupakan keadaan berhubungan. Jadi, kasualitas serentak berkaitan dengan perhubungan dan perubahan sekaligus&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hubungan [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;relation&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;] ialah sesuatu kaitan atau ikatan [koneksi] antara dua hal atau beberapa hal. Relasi terdapat pada berbagai hal, berdasarkan ruang, waktu, kualitas, kuantitas, asal-usul, dll.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-7017332848373599062?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/7017332848373599062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=7017332848373599062' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7017332848373599062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7017332848373599062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/09/epistemologi-dalam-filsafat.html' title='EPISTEMOLOGI  DALAM FILSAFAT'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMyiV8ZaotI/AAAAAAAABWQ/1TxcnPlsolc/s72-c/Mudlor+Achmad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-4910382515455977152</id><published>2008-09-10T01:08:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T01:22:29.508-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ILMU DITAMPILKAN SETENGAH KOMIK</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mendengar kata filsafat ilmu identik dengan sebuah sajian yang perlu kegiatan mengkerutkan dahi, ditambih harus berpusing-pusing. Sudah menjadi perbincangan umum bahwa mempelajari filsafat itu harus ekstra cermat dan masih ditambah lagi kemampuan memeras otak. Kadang juga dimitoskan bahwa tidak setiap orang memilki kemampuan untuk mencerna pembelajaran filsafat, dan hanya harus khusus yang memilki kepandaian tertentu. Itu semua tidak benar. Dan mitos itu harus ditanggalkan.&lt;br /&gt;Seorang-orang dokter bernama Djohanjah Marzoeki ingin menghapus stigma negative, jika mempelajari filsafat itu tidak sulit. Kini pak dokter bersolusi, membuat buku filsafat ilmu dibuat mudah, dengan punuh visualisasi, sehingga lahir buku “setengah komik”&lt;br /&gt;Siapa saja yang ingin mudah, silakan membaca.&lt;br /&gt;Data buku&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMeCoTXY5PI/AAAAAAAABUw/sjJKNiG5VAQ/s1600-h/Johansah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244303920000984306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMeCoTXY5PI/AAAAAAAABUw/sjJKNiG5VAQ/s200/Johansah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;JUDUL: Budaya Ilmiah dan Filsafat Ilmu&lt;br /&gt;PENULIS: Djohanjah Marzoeki&lt;br /&gt;PENERBIT: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jl. Palmerah Selatan 22-28, Jakarta 10270&lt;br /&gt;ISBN: 979-669-808-0&lt;br /&gt;CETAKAN : I—2000&lt;br /&gt;[buku ini di editori oleh—R.Masri Sareb Putra, seorang-orang yang piawai dalam bidang penerbitan] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-4910382515455977152?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/4910382515455977152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=4910382515455977152' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/4910382515455977152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/4910382515455977152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/09/filsafat-ilmu-ditampilkan-setengah.html' title='FILSAFAT ILMU DITAMPILKAN SETENGAH KOMIK'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMeCoTXY5PI/AAAAAAAABUw/sjJKNiG5VAQ/s72-c/Johansah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5471823613775828744</id><published>2008-09-09T00:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T00:32:35.311-07:00</updated><title type='text'>THOMAS KHUN: THE STRUCTUR OF SCIENTIFIC REVOLUTION</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMYmMIkRNmI/AAAAAAAABUQ/kgs0n-f0q9w/s1600-h/Thom+as.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243920806019413602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMYmMIkRNmI/AAAAAAAABUQ/kgs0n-f0q9w/s200/Thom+as.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SADAPAN BUKU THOMAS KUHN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUDUL: Thomas Kuhn dan Perang Ilmu&lt;br /&gt;PENULIS: Zianuddin Sardar&lt;br /&gt;PENERBIT: Jendela. Jl. Gejayan Gg. Buntu II No. 5A . Mrican Yoguakarta 55281 Telp. 0274-518886. E-mail: jendela_press@kompascyber.com&lt;br /&gt;ISBN: 979-95978-99-3&lt;br /&gt;CETAKAN: I—Oktober 2002&lt;br /&gt;Tebal : vii + 80; 11 x 175 cm&lt;br /&gt;[Judul Asli Thomas Kuhn and the Science Wars. UK: Icon Books dan USA: Totem Books, 2000—penerjemah : Sigit Djatmiko]&lt;br /&gt;-------:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Munculnya sebuah buku “Structure of Scientific Revolutions” pada tahun 1962, yang dikreasi oleh seorang-orang yang dilahirkan di Cincinnati, Ohaio. Dia adalah Thomas Kuhn. Pada tahun 1922 Kuhn belajar Fisika di Havard University, kemudian melanjutkan studinya di pascasarjana, dan memutuskan pindah ke bidang sejarah ilmu.&lt;br /&gt;“Structure of Scientific Revolutions”, banyak mengubah persepsi orang terhadap apa yang dinamakan ilmu. Jika sebagian orang mengatakan bahwa pergerakan ilmu itu bersifat linier-akumulatif, maka tidak demikian halnya dalam penglihatan Kuhn.&lt;br /&gt;Menurut kuhn, ilmu bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada kondisi normal dan kemudian “membusuk” karena telah digantikan oleh ilmu atau paradigma baru. Demikian selanjutnya. Paradigma baru mengancam paradigma lama yang sebelumnya juga menjadi paradigma baru.&lt;/div&gt;Perspektif Kuhn:&lt;br /&gt;Kuhn memandang ilmu dari perspektif sejarawan profesonal tertentu. Ia mengekplorasi tema-tema yang lebih besar, misalnya seperti apakah sesungguhnya ilmu itu di dalam pratiknya yang nyata, dengan analisis konkret dan empiris. Di dalam Structure ia menyatakan bahwa ilmuwan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang menemukan kebenaran-kebenaran baru. Mereka lebih mirip para pemecah teka-teki yang bekerja di dalam pandangan dunia yang sudah mapan. Kuhn memakai istilah “paradigma”  untuk menggambarkan system keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu.&lt;br /&gt;Menurut Kuhn, ilmu berkembang melalui siklus-siklus; ilmu normal diikuti oleh revolusi yang diikuti lagi oleh ilmu normal dan kemudian diikuti lagi oleh revolusi.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5471823613775828744?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5471823613775828744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5471823613775828744' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5471823613775828744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5471823613775828744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/09/thomas-khun-structur-of-scientific.html' title='THOMAS KHUN: THE STRUCTUR OF SCIENTIFIC REVOLUTION'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMYmMIkRNmI/AAAAAAAABUQ/kgs0n-f0q9w/s72-c/Thom+as.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-1894044271711554005</id><published>2008-09-06T02:11:00.000-07:00</published><updated>2008-09-06T23:57:55.143-07:00</updated><title type='text'>SADAPAN SINGKAT TENTANG EPISTEMOLOGI  DASAR</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMN7KJ3Nm3I/AAAAAAAABTA/Gg7GZ0KTpDc/s1600-h/J.+Sudarminta.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243169805565795186" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMN7KJ3Nm3I/AAAAAAAABTA/Gg7GZ0KTpDc/s200/J.+Sudarminta.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SADAPAN SINGKAT TENTANG EPISTEMOLOGI DASAR&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;[Pengantar Dilsafat Ilmu Pengetahuan ]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Data Buku&lt;br /&gt;JUDUL: Epistemologi dasar [Pengantar Filsafat Pengetahuan]&lt;br /&gt;PENULIS: J.Sudarminta&lt;br /&gt;PENERBIT : Kanisius. Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281. Kotak Pos 1125/Yk Telp. [0274] 588783, 565996. Website: &lt;a href="http://www.kanisiusmedia.com/"&gt;http://www.kanisiusmedia.com/&lt;/a&gt;. E-mail : &lt;a href="mailto:office@kanisiusmedia.com"&gt;office@kanisiusmedia.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;CETAKAN : I—2002&lt;br /&gt;ISBN: 979-21-0181-0&lt;br /&gt;TEBAL: 196 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERMINOLOGI:&lt;br /&gt;Cabang ilmu filsafat yang secara khusus menggeluti pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyeluruh dan mendasar tentang pengetahuan disebut Epistemologi. Istilah “epistemologis” sendiri berasal dari kata Yunani episteme=pengetahuan dan logis=perkataan, pikiran, ilmu. Kata”episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya mendudukan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, harfiah episteme bearti pengetahuan sebaya upaya intelektual untuk “menempatkan sesuatu dalam kedudukan seteptnya.” Selain kata “episteme”, untuk kata “pengetahuan” dalam bahasa Yunani juga dipakai kata “gnosis”, maka istilah epistemologi’ dalam sejarah pernah juga dipakai kata”gnosis”, maka istilah “epistemology” dalam sejarah pernah juga disebut “gnoseologi”. Sebagai kajian kritis filosofis yang membuat telaah kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan, epistemology kadang juga disebut teori pengetahuan [theory of knowledge; erkentnistheorie]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKSUD KAJIAN&lt;br /&gt;Epistemologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengetahuan manusia. Bagaimana pengetahuan itu pada dasarnya diperoleh dan diuji kebenarnnya?Manakah ruang lingkup atau batas-batas kemampuan manusia untuk mengetahui ?&lt;br /&gt;Epistemologi juga bermaksud mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan itu. Epistemologi juga mencoba memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan obyektivitasnya.&lt;br /&gt;Dari maksud itu, maka Epistemologi dapat dinyatakan suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normative, dan kritis. Evaluatif berarti bersifat menilai. Epsitemologi menilai apakah keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengatahuan dapat dibenarkan, diajamin kebenarannya, atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RASIONAL MENGAPA MEMPELAJARI EPISTEMOLOGI&lt;br /&gt;Sekurang-kurangnya ada tiga alas an yang dapat dikemukakan mengapa epistemology perlu dipelajari. &lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alasan pertama: berangkat dari pertimbangan strategis &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alasan kedua; dari pertimbangan kebudayaan &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alasan ketiga: berangkatdari pertimbangan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertimbangan Strategis: Pengetahuan adalah kekuasaan [Knoledge is power. Pengetahuan mempunyai daya kekuatan untuk mengubah keadaan. “Apabila pengetahuan adalah suatu kekuatan yang telah dan akan terus membentuk kebudayaan, menggerakan dan mengubah dunia, sudah semestinyalah apabila kita berusaha memahami apa itu pengethauan, apa sifat dan hakikatnya , apa daya dan ketebatasnnya, apa kemungkinan permasalahannya.&lt;br /&gt;Pertimbangan Kebudayaan: Mempelajari epistemology diperlukan pertama-tama untuk mengungkap pandangan epistemologis yang sesungguhnya ada dan terkandung dalam setiap kebudayaan. Setiap kebudayaan, entah secara implicit ataupun ekplisit, entah hanya lisan atau tulisan , entah secara sistematis ataupun tidak, selalu memuat pandangan tentang pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan pendidikan: berdasarkan pertimbangan pendidikan epistemology perlu dipelajarai karena manfaatnya untuk bidang pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar untuk membantu peserta didik mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup, tidak dapat lepas dari penguasaan pengetahuan. Proses Belajar Mengajar dalam konteks pendidikan selalau memuat unsure penyampaian pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-1894044271711554005?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/1894044271711554005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=1894044271711554005' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/1894044271711554005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/1894044271711554005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/09/sadapan-singkat-tentang-epistemologi.html' title='SADAPAN SINGKAT TENTANG EPISTEMOLOGI  DASAR'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SMN7KJ3Nm3I/AAAAAAAABTA/Gg7GZ0KTpDc/s72-c/J.+Sudarminta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-416053071072366534</id><published>2008-06-15T21:12:00.000-07:00</published><updated>2008-12-08T19:30:00.109-08:00</updated><title type='text'>PERSAMAAN DAN PERBEDAAN FILSAFAT DAN ILMU</title><content type='html'>CUPLIK BUKU:&lt;br /&gt;[buku ini memiliki kekuatan ketika menjelaskan perbedaan dan persamaan antara filsafat dan ilmu]&lt;br /&gt;Detil Buku:&lt;br /&gt;JUDUL : Filsafat Ilmu&lt;br /&gt;PENULIS : Dr. Amsal Baktiar, MA&lt;br /&gt;PENERBIT: PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. Jl. Pelepah hijau IV TN. I No. 14-15 Kelapa Gading Permai. Jakarta 14240. Telp. 4520051. E-mail: &lt;a href="mailto:rajapers@indo.net.id"&gt;rajapers@indo.net.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.rajawalipers.com/"&gt;http://www.rajawalipers.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ISBN: 979-421-993-2&lt;br /&gt;CETAKAN: Maret 2004&lt;br /&gt;HALAMAN: 240 hlm; 12 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212329478563197362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SFXqC24OcbI/AAAAAAAAAys/cz0sh5QXwEI/s200/Amsal+bahtiar.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;CIRI UTAMA ILMU:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur, dan dibuktikan. Berbeda dengan iman, yaitu pengetahuan didasarkan atas keyakinan kepada yang gaib dan penghayatan serta pengalaman pribadi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusan tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek [atau alam obyek] yang sama dan saling berkaitan secara logis. Karena itu, koherensi sistematik adalajh hakikat ilmu. Prinsip-prinsip obyek dan hubungan-hubungannya yang tercermin dalam kaitan-kaiatan logis yang dapat dilihat dengan jelas. Bahwa prinsip-prinsip logis yang dapat dilihat dengan jelas. Bahwa prinsip-prinsip metafisis obyek menyingkapkan dirinya sendiri kepada kita dalam prosedur ilmu secara lamban, didasarkan pada sifat khusus intelek kita yang tidak dapat dicarikan oleh visi ruhani terhadap realitas tetapi oleh berpikir&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapan &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ciri hakiki lainnya dari ilmu ialah metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan ide yang terpisah-pisah. Sebaliknya, ilmu menuntut pengamatan dan berpikir metodis, tertata rapi. Alat Bantu metodologis yang penting adalah terminology ilmiah. Yang disebut belakangan ini mencoba konsep-konsep ilmu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;DIFINISI ILMU MENURUT PARA AHLI&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mohammad Hatta, mendifinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kdudukannya tampak dari luar, amupun menurut hubungannya dari dalam&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ashely Montagu, Guru Besar Antropolo di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disususn dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menetukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harsojo, Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran, menerangkan bahwa ilmu adalah:&lt;br /&gt;Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan&lt;br /&gt;-------Suatu pendekatan atau mmetode pendekatan terhadap seluruh dunia empirisyaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia&lt;br /&gt;-------Suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Afanasyef, seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapnnya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;PERSAMAAN DAN PERBEDAAN FILSAFAT DAN ILMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSAMAAN:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki obyek selengkap-lengkapnya sampai ke-akar-akarnya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-akibatnya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keduanya hendak memberikan sistesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keduanya mempunyai metode dan sistem&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia [obyektivitas], akan pengetahuan yang lebih mendasar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;PERBEDAAN:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Obyek material [lapangan] filsafat itu bersifat universal [umum], yaitu segala sesuatu yang ada [realita] sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu&lt;br /&gt;Obyek formal [sudut pandangan] filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifatv teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainnya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat memberikan penjelasan yang terakhri, yang mutlak, dan mendalam sampai mendasar [primary cause] sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang sekunder [secondary cause]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-416053071072366534?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/416053071072366534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=416053071072366534' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/416053071072366534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/416053071072366534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/06/persamaan-dan-perbedaan-filsafat-dan.html' title='PERSAMAAN DAN PERBEDAAN FILSAFAT DAN ILMU'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/SFXqC24OcbI/AAAAAAAAAys/cz0sh5QXwEI/s72-c/Amsal+bahtiar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-7486179950846928370</id><published>2008-04-11T04:00:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T04:01:45.614-07:00</updated><title type='text'>BONGKAR BUKU TENTANG EPISTEMOLOGI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3366ff;"&gt;E&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;pistemologi selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji, karena disinilah dasar-dasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan. Konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat –dalam hal ini filsafat modern – terpecah berbagai aliran yang cukup banyak, seperti rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun eksistensialisme&lt;br /&gt;Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan, sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan demikian epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Webster Third New International Dictionary mengartikan epistemologi sebagai "The Study of method and ground of knowledge, especially with reference to its limits and validity"&lt;br /&gt;Gudang kami memiliki koleksi berbagai buku yang sengaja membahahas Epistemologi, dan akan kami bongkar buku per buku  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-7486179950846928370?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/7486179950846928370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=7486179950846928370' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7486179950846928370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/7486179950846928370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/04/bongkar-buku-tentang-epistemologi.html' title='BONGKAR BUKU TENTANG EPISTEMOLOGI'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5355425210184714148</id><published>2008-04-01T18:42:00.000-07:00</published><updated>2008-12-08T19:30:00.342-08:00</updated><title type='text'>FILSAFAT ILMU CITARASA ISLAMI</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R_Lm7SivzyI/AAAAAAAAAfU/NVsOMRUBaFc/s1600-h/Ilmu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184460027321110306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R_Lm7SivzyI/AAAAAAAAAfU/NVsOMRUBaFc/s200/Ilmu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Citarasa Islamic nampak pada buku “Filsafat Ilmu” [dari hakikat menuju nilai], karya Drs.Cecep Sumarna, M.Ag.&lt;br /&gt;Dalam buku dihadirkan pemikirdan filosof muslin. Seperti Ibnu Rusyd [1198 M] yang di Barat lebih kenal dengan Averoes, Al Farabi [950M], Ibnu Sina [1037M] yang familiar disebut Avicenna, serta Al Raji [1209M].&lt;br /&gt;Menurut penulis buku ini, para filosof Muslim telah mampu menyusun kerangka epistemology ilmu dan filsafat ilmu dalam tiga bingkai yang sangat luar biasa perkembangannya.&lt;br /&gt;Kelompok ini menawarkan tiga metodologi yang mendasari lahirnya epistemology ilmu pengetahuan. Tentunya memiliki perbedaan dengan epistemology Yunani, yang cenderung membatasi pengetahuan hanya pada ranah empirisme dan rasionalisme.&lt;br /&gt;Para filosof muslim melihat bahwa epistemology penngetahuan terdiri dari tiga yakni:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bayani&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Irfani&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Burhani.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bayani:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Bayani adalah sebuah model metodologi berfikir yang didasarkan atas teks kitab sufi. Teks suci menurut metodologi ini dianggap memiliki otoritas penuh untuk memberikan arah dan makna terhadap kebenaran. Rasio hanya digunakan sebagai pengawal sekaligus memberikan pengamanan otoritas teks&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Irfani:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Irfani adalah model metodologi berfikir yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung [direct experience] atas realitas spiritual keagamaan. Oleh karena sasaran bidiknya adalah esoteric atau bagian batin teks. Rasio dimanfaatkan untuk menjelaskan pengalaman spititual.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Burhani:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Burhani adalah kerangka berfikir yang tidak didasarkan atas teks suci, maupun pengalaman. Sasaran bidiknya eksoteris, sehingga cara kerjanya atas dasar keruntutan logika. Pada tahap tertentu, keberadaan teks suci dan pengalaman spiritual dapat diterima jika sesuai dengan aturan logis. [Hlm 13] &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam memaparka makna filsafat ilmu citarasa hakikat nilai-nilai selalau dikedepankan, hal ini sangat bertautan dengan judul buku ini. “Filsafat Ilmu dari Hakikat menuju nilai”&lt;br /&gt;Makna Filasafat Ilmu:&lt;br /&gt;Dilihat dari obyek kajiannya, filsafat ilmu mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat ilmu memfokuskan pembahasan dalam metodologi pengetahuan. Ilmu merupakan salah satu cara untuk mengerti bagaimana budi manusia bekerja. Ilmu pengetahuan merupakan karya budi yang logis dan imajinatif. Ilmu bersifat empiris, sistematis, observatif dan obyektif.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat ilmu bertugas membuka pikiran manusia agar mempelajari dengan serius proses logic dan imajinatif dalam cara kerja ilmu pengetahuan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat ilmu berbicara tentang metode ilmu pengetahuan, bagaimana pengembangannya dan bagaimana prinsip-prinsip penerapannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat ilmu menjadi bagian dari epistemology [filsafat pengetahuan]. Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat ilmu merupakan telaah secara filsafati yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu: [hlm:40]&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Ditilik dari Judul Buku, penulisnya Drs. Cecep Sumarna, M.Ag ingin mengedepankan filsafat ilmu dalam ranah hakikat nilai. Oleh karenya buku ini menorehkan pentingnya ilmu dari pilar nilai dan kegunaannya, yang sering disebut dengan “Aksiologi”.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sorotan Hakikat nilai&lt;/strong&gt;:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;M&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;enurut buku ini Archie J. Bahm disebut sebagai salah satu figure kunci ilmuwan yang menghendaki adanya nilai dalam ilmu pengetahuan. Melalui bukunya what is Science yang ditulis pada tahun 1980, menggambarkan kegelisahan Archie J.Bahm terhadap perkembangan ilmu di dunia Barat kontemporer yang hampir sama sekali mengabaikan nilai. Dalam bukunya, ia menghendaki adanya pengakuan akan pentingnya aksiologi dan nilai-nilai bagi ilmu. [Hlm: 117]&lt;br /&gt;Menurutnya, masalah yang amat kental adalah adanya dampak negative teknologi sebagi akibat ilmu dan teknologi tidak dilengkapi dengan aksiologi, etika, religiousitas dan sosiologi. Ilmu telah ditempatkan seolah sama sekali bebas nilai.&lt;br /&gt;Fenomena hancurnya Kota Hiroshima dan Nagasaki Jepang yang dibom sekutu [1945] dan telah meluluh lantakan dua Kota besar Jepang itu, menggugah para ilmuwan untuk merefleksikan kejadian tersebut.&lt;br /&gt;Muncullah pertanyaan-pertanyaan dari hasil refleksi antara lain:&lt;br /&gt;Apakah pengeboman tersebut bersifat susila?, apakah penggunaan bom yang demikian dahsyat itu dapat dibenarkan?&lt;br /&gt;Kondisi lain juga dipaparkan sebagai wujud pengabaikan “aksiologi”, yakni pencemaran lingkungan di mega-mega politan dan eksploitasi berlebihan terhadap sumber alam.&lt;br /&gt;Hasil seni juga disoroti, seperti film-film yang semakin jauh meninggal nilai-nilai susila. [Hlm: 119].&lt;br /&gt;Sebenarnya perkembangan nilai-nilai dalam ilmu pengetahuan, telah lama berlangung. Zaman Yunani kuno, khususnya ketika plato menyatakan:”Sumum Bonum ‘ [kebaikan tertinggi]. Telah tergambarkan bahwa ilmu pengetahuan lahir dengan sah ketika memberikan kontribusi pada kemaslahatan manusia. Apabila ilmu telah mengantongi nilai-nilai itu, maka dapat diindikasikan telah memasuki domain kebaikan tertinggi.&lt;br /&gt;Di Zaman pertengahan , Thoma Aquinas membangun pemikiran tentang pentingnya nilai tertinggi sebagai penyebab final [causa prima] dalam diri Tuhan sebagai keberadaann kehidupan, keabadian dan kebaikan tertinggi.&lt;br /&gt;Immanuel Kant tokoh penting aufklarung juga memperlihatkan hubungan natara pengetahuan dengan moral, estetika dan religius. [Hlm: 121]&lt;br /&gt;Wusana kata :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jadi buku ini titik beratnya pada “aksiologi”. Buku ini menyatakan bahwa ilmu pengetahun dalam melihat keberadaan [ontology], dan capaiannya dengan metodologi [epistemology] tidaklah cukup. “Aksiologi” memberikan bintang pengarah, bahawa ilmu pngetahuan harus berada pada koridor nilai-nilai. Mulai dari manfaatnya hari ini dan hari esok. Eksplotasi sumber daya alam, yang mengabaikan nilai-nilai, adalah suatu upaya pemusnahan hakikat keberadaan manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Ilmu pengetahaun yang melahirkan teknologi harus dibingkai dengan nilai-nilai, etika, estetika, dan religiousitas. Tanpa bingkai tersebut kehancuran dunia tidak terlalu lama menunggu waktu. Fenomena hancurnya dua kota di Jepang 1945 akibat bom atom, membangun pikiran-pikiran jernih dan menanyakan secara mendalam apakah keguanaan ilmu itu sendiri]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;DETAIL BUKU:&lt;br /&gt;JUDUL : Filsafat Ilmu dari Hakikat menuju nilai.&lt;br /&gt;PENGARANG : Drs. Cecep Sumarna, M.Ag.&lt;br /&gt;PENERBIT: Pustaka Bani Quraisy. Jl. Sukanegara No. 7. Ters. Indramayu, Antapani Bandung 40291. Phone, Fax : [022-7200538]. E-mail : &lt;a href="mailto:pbq_bandung@yahoo.com"&gt;pbq_bandung@yahoo.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Dan &lt;a href="mailto:pbq_bdg@hotmail,com"&gt;pbq_bdg@hotmail,com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ISBN : 979-3576-31-6&lt;br /&gt;CETAKAN : 2004&lt;br /&gt;JUMLAH HALAMAN: 172.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5355425210184714148?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5355425210184714148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5355425210184714148' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5355425210184714148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5355425210184714148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/04/filsafat-ilmu-citarasa-islami.html' title='FILSAFAT ILMU CITARASA ISLAMI'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R_Lm7SivzyI/AAAAAAAAAfU/NVsOMRUBaFc/s72-c/Ilmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-3909376578754460208</id><published>2008-02-20T22:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T19:30:00.511-08:00</updated><title type='text'>CUPLIKAN BUKU : FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R70mixWMlrI/AAAAAAAAAUo/d9QM3MtDMdg/s1600-h/ilmpeg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169330326095042226" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R70mixWMlrI/AAAAAAAAAUo/d9QM3MtDMdg/s200/ilmpeg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;CUPLIKAN BUKU FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;[Buku ini ditulis oleh: Suparlan Suhartono, PhD]&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;JUDUL : &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Filsafat Ilmu Pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PENGARANG : Suparlan Suhartono, Ph.D&lt;br /&gt;PENERBIT : Ar. Ruzz Jl. Anggrek No.97 A Sambilegi Lor RT 04. RW.57 Mangunharjo, Depok Sleman, Yogyakarta Telp. [0274] 7482086. HP. 081.642.72234. E-mail: &lt;a href="mailto:arruzzwacana@yahoo.com"&gt;arruzzwacana@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;CETAKAN : I Agustus 2005&lt;br /&gt;ISBN : 979-9417-94-5&lt;br /&gt;JUMLAH HALAMAN: 208&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Apakah Maksud Filsafat Ilmu Pengetahuan itu?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang obeyk materinya berpa ilmu pengetahuan dalam berbagai jenis, betuyk dan sifatnya. Jadi meliputi pluralitas ilmu pengetahuan. Adapun obyek formanya berupa hakikat ilmu pengetahuan. Adapun jenis-jenis llmu pengetahuan menurut obyeknya dapat diklasifikasikan ke dalam ilmu pengetahuan :&lt;br /&gt;Ø Ilmu pengetahuan humaniora dengan obyek materi manusia;&lt;br /&gt;Ø Ilmu pengetahuan social dengan obyek materi Sosiologi&lt;br /&gt;Apakah manfaat mempelajari Ilmu Pengetahuan?&lt;br /&gt;Mengembangkan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai otologis. Dengan paradigma ontologis, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan spiritual keilmuan yang mampu mengatasi bahaya sekularisme nilmu pengetahuan&lt;br /&gt;Mengembangkan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasn nialai epistemologis. Dengan paradigma epistemologis, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan intelektual keilmuan yang mampu membentuk sikap ilmiah&lt;br /&gt;Mengembangkan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai etis. Dengan paradigma etis, diharapkan dapat ,mendorong pertumbuhan perilaku adil yang mampu membentuk moral tanggung jawab, sehingga pemberdayaan ilmu poengethuan, teknologi dan perindusytrian semata-mata hanya untyuk kelangsungan kehidupan yang adil dan berkebdayaan. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipertanggung jawabkan bukan hanya bagi kepentingan subyek manusia saja, melainkan lebih daripada itu, demi kepentingan obyekl alam sebagai sumber kehidupan.&lt;br /&gt;Sebagai konsekuensi kehadiran filsafat ilmu pengetahuan dalam peran fungsionalnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian seperti itu, mendorong Perguruan Tinggi untuk kembali ke basis akademik Tri Dharmanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Catatan Khusus Petingnya, Makna dan Metode&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Dari bahasan masalah pengetahuan, terdapat ha-hal mendasar yang perlu diangkat menjadi catatan khusus, yaitu:&lt;br /&gt;Pertama: Pentingnya pengetahuan , yakni mengetahui secara benar tentang batas-batas pengetahuan, agar tidak melakukan penyelidikan dan pemikiran-pemikiran mengenai sesuatu hal yang pada akhirnya menjadi sia-sia karena tidak akan diketahui. Tetapi, apakah pengetahuan hanya terbatas pada kemampuan pengalaman idra dan pemikiran saja?&lt;br /&gt;Kedua: Makna pengetahuan, jika dikatakan bahwa seserorang mempunyai pengetahuan, berarti ia mempunyai kepastian tentang sesuatu hal, dan bahwa apa yang dipikirkan di dalam pernyataan-pernyataan adalah sungguh-sungguh merupakan halnya sendiri. Tetapi, kenyataan membuktikan bahwa hampir tidak ada yang dapat dipastikan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Ketiga, metode memperoleh pengetahuan, menentukan sifat kebenaran pengetahuan yang terdiri dari :&lt;br /&gt;Ø Metode empirik [empirism]&lt;br /&gt;Ø Metode rasional [rasionalism&lt;br /&gt;Ø Metode fenomenologi [fenomenologism]&lt;br /&gt;Ø Medote ilmia [menggabungkan metode empiris dan rasional] [hlm 81]&lt;br /&gt;„&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ilmu Pengetahuan“ ataukah „ilmu“&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Terminologi ilmu pengetahuan dicermati secara jeli oleh buku ini, karena pemaknaan yang yang keliru dan kadang membias, disamping sulit untuk dicerna, seringkali pula memberikan pemahaman yang tidak utuh.&lt;br /&gt;Beberapa referensi yang dipandang relevan diketengahkan dalam buku ini:&lt;br /&gt;Dalam Webster’s New Collegiate Dictionary, tertulis dua istilah: „knowledge“ dan „Science“.&lt;br /&gt;Knowledge diartikan:&lt;br /&gt;the fact or condition of knowing something with familiarity gained through experience or association&lt;br /&gt;the fact or condition of being aware of something&lt;br /&gt;the fact or condition of having information or being learned&lt;br /&gt;the sum of what is know the body of truth, information, and principles acquired by mankind&lt;br /&gt;Sedangkan Science [latin :’scire’], diartikan:&lt;br /&gt;possession of knowledge as distinguished from ignorance or misunderstanding; knowledge attain through study or practice&lt;br /&gt;a department of systematized knowledge as object of study [the science of technology ]&lt;br /&gt;knowledge covering general truths or he operation of general laws esp. As obtained and tested through scientific method; such knowledge concerned with the physical world and phenomena [natural Science)&lt;br /&gt;a system or method based of purporting to be based on scientific priciples&lt;br /&gt;Dari Webster tersebut dapat disarikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Knowledge, menjelaskan tentang adanya sesuatu hal yang diperoleh secara biasa atau sehari-hari [regulary] melalui pengalaman kesadaran, informasi. Sedangkan Science didalamnya terkandung adanya pengetahuan yang pasti, lebih praktis, sistematik, metodik, ilmiah dan mencakup kebenaran umum mengenai obyek studi yang&lt;br /&gt;lebih bersifat fisis [natural].&lt;br /&gt;Jadi, “knowledge” dapat dipahami sebagai pengetahuan yang mempunyai cakupan lebih luas dan umum, sedangkan “science” dapat dipahami sebagi ilmu yang mempunyai cakupan yang lebih sempit dan khusus dalam arti metodis, sistematis, dan ilmiah.&lt;br /&gt;Jika ilmu dipilih sebagai nama dikhawatirkan bias terjebak pada sekitar pengetahuan yang fisis, dank arena itu praktis, pragmatis dan positivistis. Pagdahal realitas yang harus diketahuai adalah bukan saja yang demikian itu, melainkan juga meliputi”pengetahuan” yang non fisis, kualitatif, dan spekulatif. “Ilmu” membentuk daya intelegensia yang melahirkan adanya skill atau ketrampilan yang bias mengkonsumsi masalah-masalah atau kebutuhan keseharian. Sedangkan “pengetahuan” membentuk daya moralitas keilmuan yang kemudian melahirkan tingkah laku dan perbuatan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang tercakup di dalam tujuan akhir kehidupan. Maka secara filosofis, tidaklah berlebihan jika dipilih nama” ilmu-pengetahuan”&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan diharapkan dapat membuka pandangan dan wawasan yang luas, dalam, arti tidak terbatas hanya kepada obyek-obyek yang ada diluar diri manusia, yaitu kenyataan obyektif, atau hal-hal yang bersifat empiric dan positif saja. Melainkan dapat membentuk kesadaran dan sikap ilmiah [scientific attitude]. [hlm:86]&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Cara kerja Ilmiah:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Diadopsi penulis dari tulisan Titus Dkk, dan diselaraskan dengan pokok-pokok pikiran Jujun Suriasumantri. [1987] [hlm100]&lt;br /&gt;Cara kerja ilmiah ditempuh dengan memperhatikan enam langkah metode, yakni:&lt;br /&gt;1. Keinsafan tentang adanya problem&lt;br /&gt;2. data yang relevan dan data yang tersedia&lt;br /&gt;3. penertiban data&lt;br /&gt;4. hipotesis dibentuk [diformulasikan]&lt;br /&gt;5. deduksi dapat ditarik dari hipotesis&lt;br /&gt;6. verifikasi setelah analisis secara deduktif.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kecenderungan kesatuan pluralitas ilmu pengetahuan:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Kecenderungan kesatuan pluralitas ilmu pengetahuan dapat juga disebuat sebagai kecenderungan etis. Ketertarikan etika sebenarnya adalah perwujuidan tanggung jawab pendukung ilmu pengetahuan jenis apapun agar tetap diarahkan pada orientasi yang sama, yaitu bagi terwujudnya ‘kebahagian hidup dan kehidupan seluruh umat manusia dan masyarakatnya di dalam ekosistem alam yang utuh”&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Karakter Onotologis :[Adopsi pemikiran Lorens Bagus: 2000]&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Pandangan penulis terhadap hakikat leimuan, utamanya terkait dalam karakteristik ontologis.&lt;br /&gt;Beberapa karakteristik ontologis, dapat disederhanakan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ontologi adalah studi tentang arti „ada“ dan „berada“, tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunkan ketegori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualitas, potensial, nyata atau merupakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan dan sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ontologi adalah cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat terakhir yang ada, yaitu Yang Satu8, Yang Absolut, Bentuk Abadi, Sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang mutlak kepada-Nya&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya. [hlm:150]&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tanggung Jawab Pendidikan Tinggi.&lt;br /&gt;Dalam simpulan buku ini, tertera sebuah harapan kepada Pendidikan Tinggi terkait dengan masalah Ilmu Pengetahuan. Oleh karena itu pendidikan tinggi harus mendukung pembaharu hidup dan kehidupan masyarakat dalam rangka menjcapai tujuan keilmuan, sehingga harus memerankan:&lt;br /&gt;lembaga yang melakukan pembinaan daya inteletual&lt;br /&gt;Pembinaan daya moral kearah tanggung jawab [ tentunya tanggungjawab keilmuan]&lt;br /&gt;Kemudian berdasarkan tugas dan tujuan pendidikan tinggi menurut hakikat ilmu pengetahuan, maka hal-hal berikut ini kiranya wajar untuk dipertimbangkan dan dilaksanakan sebagai jalan menuju reorientasi:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengembangkan kampus yang bebas dan otonom, dalam membangun sikap ilmiah tanpa pengaruh apapun. Inilah yang mejadikan dasar pembentukan sikap ilmiah yang mandiri &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam penyusunan model kurikulum harus tetap mengaci pada sikap keilmuan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-3909376578754460208?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/3909376578754460208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=3909376578754460208' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3909376578754460208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3909376578754460208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/02/cuplikan-buku-filsafat-ilmu-pengetahuan.html' title='CUPLIKAN BUKU : FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R70mixWMlrI/AAAAAAAAAUo/d9QM3MtDMdg/s72-c/ilmpeg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-1389647690015144106</id><published>2008-01-30T21:12:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T23:54:51.212-08:00</updated><title type='text'>APOSTERIORI&amp; APRIORI</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;[TALAAH ATAS CARA KERJA ILMU-ILMU]&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Proses pikir yang dikembangkan manusia semakin memberikan pemahaman dan pengertian, apa yang merupakan obyek pengetahuan ilmiah. Pendalaman dilakukan sebagai upaya mencapai musabab pertama [&lt;em&gt;the first causes&lt;/em&gt;], ataupun sebab terakhir [&lt;em&gt;the last causes&lt;/em&gt;]. Dari pengembaraan pikir inilah ditemukan dua model yang mewakili kelompok ilmu.&lt;br /&gt;Pertama adalah yang mewakili kelompok ilmu yang mementingkan pengamatan dan penelitian, yang disebut empiris &lt;em&gt;[“empirical’&lt;/em&gt; dari kata Yunani yang maknanya “meraba-raba”], atau aposteriori kata latin.&lt;br /&gt;Kedua adalah yang mewakili kelompok ilmu yang seakan-akan ingin menangkap susunan kenicayaan secara apriori, dengan mengandalkan penalaran/rasio.&lt;br /&gt;TERMINOLOGI&lt;br /&gt;Aposteriori berasal dari kata latin “post” yang maknanya “sesudah”, oleh karenanya segala ungkapan ilmu baru terjadi ketika seorang-orang melakukan pengamatan melalui inderanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;CARA KERJA&lt;br /&gt;Aposteriori cara kerjanya berada pada ruang lingkup ilmu-ilmu empiris yang sering disebut dengan cara “induksi”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;EMPIRISME:&lt;br /&gt;Empirisme merupakan aliran yang megakui bahwa pengetahuan itu pada ahkikatnya berdasarkan pengalam atau empiris melalui alat indera. Empirisme menolak pengetahuan yang semata-mata berdasarkan akal karena dipandang sebagai spekulasi belaka yang tidak berdasarkan realitas, sehingga berisiko tidak sesuai dengan kenyataan. Pengetahuan sejati harus dan seharusnya berdasarkan kenyataan sejati yakni realitas.&lt;br /&gt;Tiga tokoh terkenal dalam kelompok yang mewakili wilayah empiris ini antara lain :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;John Locke&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;George Berckeley&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;David Hume&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;SEKILAS TOKOH EMPIRISME:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;John Locke [1632-1704]&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;adalah seorang dokter yang berasal dari Inggris yang juga menjadi salah satu penasihat raja Inggris. Dalam berbicara sangat rigit dan berhati-hati, dan ungkapannya yang dikenal hingga saat “ Tidak ada sesuatu pada akal yang sebelumnya tidak ada pada indera kita”. Jadi, indera sebagai sesuatu hal yang primer, sedangkan akal sebagai hal yang sekunder yang fungsinya hanya sebagai penerima”&lt;br /&gt;Dari ungkapanya menunjukkan bahwa John Lock menolak doktrin Rene Descartes “Doktrine of innate ideas”&lt;br /&gt;Karya:&lt;br /&gt;Essay Concerning Human Understanding. Esai yang berkenaan dengan pemahaman manusia [1690]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;George Berckeley&lt;/strong&gt; [1685-1753]&lt;br /&gt;Adalah seorang pendeta, dilahirkan di Irlandia di wilayah Kilkeni. Kakek moyangnya berasal dari Inggris Protestan. Pada tahun 1707 diangkat menjadi wakil uskup Derry, kemudian setelah sepuluh tahun menjadi uskup Coloin, kemudian meninggal pada tahun 1753. Pikirannya lebih radical dibanding dengan John Locke, ucapannya sangat tegas à Esse est percipi”à ada karena diamati”&lt;br /&gt;Karya:&lt;br /&gt;A Treatise Concerning the participle of Human Knowledge.&lt;br /&gt;Risalah mengenai Prinsip-prinsip Pengetahuan manusia [1790]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;David Hume [1711-1776]&lt;br /&gt;Hume mengatakan sesuai dengan ucapan Berckeley yakni “Esse est percipi”, mata saya menatap pada apa yang saya amati, kalimat inilah yang menunjukkan bahwa David saya terguh pendirianya, bahwa indera yang menuntun manusia menemukan pengetahuan.&lt;br /&gt;Karya:&lt;br /&gt;A Treatise Of Human Nature&lt;br /&gt;Risalah Mengenai sifat Manusia selanjutnya direvisi pada tahun 1740 menjadi:&lt;br /&gt;Enquiry Concerning Human Understanding.&lt;br /&gt;Penelitian pemahaman atas manusia&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;INDUKSI:&lt;br /&gt;Adalah penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih luas daripada premisnya, sehingga merupakan cara berpikir dengan menarik simpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yangt bersifat individual. Keuntungan dari cara berpikir ini adalah mengkondisi berlanjutnya penalaran, dan sangat ekonomis.&lt;br /&gt;Contok induksi&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jika seorang-orang akan melakukan penelitian dengan menggunkan metode induksi, maka harus melalui tahapan-tahapan berikut:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;perumusana masalah: masalah yang hendak dicarikan penjelasan ilmiahnya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;pengajuan hipotesis:mengajukan penjelasan yang masih bersifat sementara untuk diuji lebih lanjut melalui verifikasi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;pengambilan sample:pengumpulan data dari beberapa fakta particular yang dianggap bisa mewakili keseluruhan untuk keperluan penelitian lebih lanjut]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Verifikasi:pengamatan disertai pengukuran statistic untuk memberi landasan bagai hipotesa &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;tesis: hipotesis yang telah terbukti kebenarannya.&lt;br /&gt;INGIN BAHAN TAYANG TOKOH-TOKOH KLIK [&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/39492941/6adfe6b4/Tokoh_Empirisme__Rasionalisme.html"&gt;TOKOH EMPIRISME &amp;amp; RASIONALISME&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;APRIORI :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;TERMINOLOGI:&lt;br /&gt;Dari kata latin “prius Sebelum, karena itu ilmu-ilmu ini ingin menentukan apa kiranya yang mendahului adanya kenyataan itu.&lt;br /&gt;CARA KERJA:&lt;br /&gt;Apriori cara kerjanya berada ruang lingkup ilmu-ilmu pasti yang biasanya disebut dengan cara “deduksi”, karena lingkup mendahului adanya kenyataan itu [prius], maka sangat mengandalkan “rasio” rasionalisme&lt;br /&gt;RASIONALISME:&lt;br /&gt;Merupakan aliran yang mengakui bahwa pengetahuan itu pada hakikatnya berdasar pada akal [rasio]. Akal merupakan penggerak dari sebuah kesanggupan untuk berpikir. Tanpa pikiran, tentu tidak ada sesuatu yang dipikirkan , dan tidak ada yang diketahuinya.&lt;br /&gt;Rasionalisme menolak pengetahuan yang hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman.&lt;br /&gt;Tiga tokoh terkenal dalam kelompok yang mewakili wilayah rasionalisme ini antara lain:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rene Descartes&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Leibnitz&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wolff&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SEKILAS TOKOH &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Rene Descartes&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah seorang-orang yang berasal dari Perancis, mendapatkan ajaran pada biara katholik. Descartes membangun system filsafati yang melibatkan metode penelitian, metafisika, fisika, dan biologi mekanistik.&lt;br /&gt;Menurutnya, jika akan memulai harus ada pangkalmnyaà titik archimides. Pangkal yang yang dimaksud adalah pangkal pikir yang menyatakan “ Cogito ergo sum”, karena aku berpikir, jadi akau ada. Dengan demikian akal [berpikir] menjadi pangkal filsafatnya, oleh karenanya aliran ini dikenal rasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Leibnitz&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Seorang Jerman yang pada usia 17 tahun telah menjadi sarjana, Teorinya menyatakan bahwa segala sesuatu itu terjadi dari monode, tidak ada hubungannya dengan luar, dan tidak mempunyai hubungan apa pun. Pengetahuan tidak berpangkal di luar diri kita, tetapi berpangkal pada diri kita sendiri, yaitu akal. Gagagasan cemerlangnya melahirkan doktrin “Doctrine of innate idea” [innate = dibawa sejak lahir]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Wolff.&lt;br /&gt;Adalah seorang warga Jerman yang merupakan eksoponen dari aliran rasionalisme. Ia adalah seorang guru besar yang menyebarkan pokok-pokok pikiran rasionalis. Kita dapat memperoleh pengetahuan atas dasar rasio, terlepas dari pengalaman. Apa yang dikatakan rasio itulah yang benar. Dengan tegas menyatakan bahwa pengetahuan kita senantiasa berdasarkan innate ideas yang bersumber pada diri kita dan berpangkal dari rasio kita.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;DEDUKSI Deduksi diberi batasan sebagai penalaran dengan simpulan yang lebih sempit daripada wilayah premisnya. Cara kerja deduksi berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. SILOGISMUS&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Simpulan :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya Aristoteles menggabungkan antara Aprori dan Aposteriori.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Munculnya faham fenomenalisme ajaran Immanuel Kant [1724-1804] yang mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Faham ini menjelaskan bahwa pengetahuan manusia merupakan paduan atau sintesa antara unsure-unsur apriori dan aposteriori. Dari sintesa tersebut dapat dirumuskan secara holistic baik secara empiris yang juga dilandasai penalaran logis.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;RUJUKAN YANG DIGUNAKAN&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Donny Gahral Adian [2002] Menyoal Obyektivisme Ilmu Pengetahuan: Penerbit Teraju Jakarta 38 :43 :48:&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ismali Asy-Syarata [2005] Ensilkopedia Filsafat : Penerbit PT Kahlifa Jakartaà 43 :68 :82:188:205&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jujun Suriasmantri [2004] Ilmu Dalam Perpektif [Sebuah kumpulan karangan tentang hakikat ilmu] : Yayasan Obor Indonesia Jakarta Bab IV 61:70&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mohammad Muslih [2006] Filsafat Ilmu [Kajian atas dasar asumsi dasar paradigma dan kerangka Teori Ilmu pengetahuan]: Penerbit Belukar Yogyakarta Bab III 48 :52&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lavine. T.Z [1984] David Hume [Risalah filsafat empirisme] : Penerbit Jendela Yogyakarta &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rene Descartes [2003] Discourse Method [terjemahan Diskursus Metode] : Penerbit IRCiSoD Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sonny Keraf [2001] Ilmu Pengetahuan [Sebuah Tinjauan Filosofis]: Penerbit Kanisius Yogyakarta Bab III, 43:62&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sutardjo.A. Wiraatmaja [2006] Pengantar Filsafat: PT Refika Aditama Bandung Grafindo Bab IV 93:98&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Thoyibi M [1994] Filsafat Ilmu dan Pengembangannya: Penerbit Universitas Muhhadiyah Surakarta, Surakarta 65 : 70Verhaak [2004] &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Donny Gahral Adian [2002] Menyoal Obyektivisme Ilmu Pengetahuan: Penerbit Teraju Jakartaà 38 :43 :48:&lt;br /&gt;Ismali Asy-Syarata [2005] Ensilkopedia Filsafat : Penerbit PT Kahlifa Jakartaà 43 :68 :82:188:205&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Verhaak [2004] Filsafat ilmu Pengertahuan [Seri Filsafat Driyarkara1. Telaah atas cara kerja ilmu-ilmu]: PT Gramedia Jakarta Bab III. 27-66, Bab IV, 81-87&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Anda dapat download power point &lt;a href="http://www.4shared.com/file/38067786/daf83f50/PERANAN_TEORI_DALAM_PENELITIAN.html"&gt;"peranan teori dalam penelitian"&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-1389647690015144106?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/1389647690015144106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=1389647690015144106' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/1389647690015144106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/1389647690015144106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/aposteriori-apriori.html' title='APOSTERIORI&amp; APRIORI'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-751968524588228014</id><published>2008-01-30T20:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T19:30:00.667-08:00</updated><title type='text'>CATATAN RINGKASAN FILSAFAT ILMU, BUKU THOYIBI</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R6FP-WAYo4I/AAAAAAAAASs/dP3Y640vXhY/s1600-h/Thoyibi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161494580420977538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R6FP-WAYo4I/AAAAAAAAASs/dP3Y640vXhY/s320/Thoyibi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div align="center"&gt;CARING II&lt;br /&gt;[Catatan – Ringan ]&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[Editor : M Thoyibi]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Gudang kami sengaja untuk memilih karya yang dieditori oleh, M Thoyibi karena disamping kaya akan catatan yang mudah dicerna, buku ini merupakan kumpulan tulisan pakar filsafat ilmu. Namun kurang bijak rasanya kalau dikupas secara tuntas, karena akan melanggar karya cipta intelektual, juga akan mencundangi penerbit. Oleh karenanya akan dibahas terbatas, dengan gaya mencuplik sana-sani. Secara keseluruhan buku ini merupakan kumpulan tulisan dari sembilan orang penulis, masing-masing:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hakikat Dasar Keilmuan [ Jujun. S. Suriasumantri]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat Ilmu, Sejarah Kelahiran, Serta Perkembangannya [Koento Wibisono Siswomihardjo]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teori Pengetahuan dan Perannya dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan [Charles M.Stanton]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat Yunani Batu Pertama untuk Kultur Modern [Muchlis Hamidy]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu Pengetahuan, kelahiran dan Perkembangannya, Klasifikasi, Sserta Strategi Pengembangannya [Koento Wibisono Siswomihardjo]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Metode Mencari Ilmu Pengetahuan : Rasionalisme dan Empirisme [H.B.Sutopo]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pragmatisme dan Realisme Modern [D.Edi Subroto]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Konteks Masa Kini dan Masa Mendatang&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengembangan Metode Keilmuan di Perguruan Tinggi dalam kecenderungan IPTEK Dewasa ini [S. Farid Ruskanda]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selanjutnya dicuplik beberapa tulisan, antara lain tulisan : &lt;em&gt;Jujun. S. Suriasumantri, Koento Wibisono Siswomihardjo dan H.B.Sutopo&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Cuplikan-cuplikan&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;[Jujun. S. Suriasumantri]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Apakah Ilmu?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ilmu merupakan suatu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Penjelasan ini akan memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi. Dengan demikian, penjelasan ini memungkinkan kita untuk mengontrol gejala tersebut. Untuk itu, ilmu membatasi ruang jelajah kegiatan pada daerah pengalaman manusia. Artinya, obyek penjelajahan keilmuan meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia lewat pancaideranya.&lt;br /&gt;Secara epistemology, ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam, yakni pikiran dan indera. Epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara pikiran secara rasional dan berpikir secara empiris. Kedua cara berpikir tersebut digabungkan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah Kebenaran?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ilmu, dalam menemukan kebenaran, mensandarkan dirinya kepada beberapa criteria kebenaran, yakni:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Koherensi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Korespondensi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pragmatisme.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Apa Koherensi?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Koherensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria konsistensi suatu argumentasi&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa Korespondensi?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Korespondensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria tentang kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan obyek yang dikenai pernyataan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa Pragmatisme?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pragmatisme merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kreteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang, dan waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa Metode Ilmiah?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Metode ilmiah merupakan langkah-langkah dalam memproses pengetahuan ilmiah dengan menggabungkan cara berpikir rasional dan empiris dengan jalan membangun jembatan penghubung yang berupa pengajuan hipotesis.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa Hipotesis ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik secara rasional dalam sebuah kerangka berpikir yang bersifat koheren dengan pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa langkah-langkah Metode Ilmiah?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Langkah metode ilmiah adalah langkah yang berporoskan “troika”&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penyusunan kerangka berpikir berdasarkan logika deduktif&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengajuan hipotesis sebagai kesimpulan dari kerangka berpikir tersebut&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengujian [verifikasi] hipotesis.&lt;br /&gt;Berdasarkan troika ini maka metode ilmiah dikenal sebagai proses: &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;“Logiko-Hipotetiko-Verifikatif atau Dedukto-hipotetiko-verifikatif”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Proses Kegiatan Ilmiah?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Proses kegiatan ilmiah pada hakikatnya adalah kegiatan berpikir yang bersifat analitis. Logika merupakan alur jalan pikiran yang dilalui dalam kegiatan analisis agar kegiatan berpikir tersebut membuahkan kesimpulan yang sahih. Kegiatan ilmiah pada pokoknya mempergunakan dua jenis logika yakni :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Logika deduktif&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Logika Induktif&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Apa Logika Deduktif?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat umum kepada pernyataan yang bersifat khas.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa Logika Induktif?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Merupakan cara penalaraan kesimpulan dari penyataan yang bersifat individual [khas] kepada pernyataan yang bersifat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;H.B.Sutopo:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Apa Rasionalisme ?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Faham rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal [ratio]. Kebenaran dan kesesatan pada dasarnya terletak di dalam gagasan manusia, bukan di dalam diri barang sesuatu. Kebenaran hanya ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja. Pengalaman tidak dingkari, tetapi ia hanya sebagai perangsang pikiran. Seorang-orang bernama Descartes merupakan bapak rasionalisme yang berusaha menemukan kebenaran [pengetahuan] dengan menggunakan metode berpikir deduktif.&lt;br /&gt;Seorang pengikut rasionalisme menggunakan pikir untuk memperoleh kebenaran-kebenaran yang harus dikenalnya, bahkan sebelum adanya pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah Empirisme?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Paham ini mementingkan pengalaman indera. Pengetahuan diperoleh lewat pengalaman indera. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan dan membandingkan gagasan-gagasan yang diperoleh dari penginderaan serta refleksinya. Akal manusia hanya merupakan tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil pengeinderan kita.&lt;br /&gt;Jhon Locke adalah seorang-orang tokoh empirisme dengan teorinya yang kerap disebut dengan “tabula-rasa”.&lt;br /&gt;Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkret dan diungkap lewat penginderaan gejala bila ditelaah lanjut akan menghasilkan pola yang teratur mengenai kejadian tertentu. Dengan mengumpulkan pengalaman, kita akan bisa melihat kesamaan dan perbedaan gejala yang ada, yang selanjutnya menjadi pengetahuan.&lt;br /&gt;Bagaimana kata akhir pertentangan antara Rasionalisme dengan Empirisme?&lt;br /&gt;Perang pikir antara Empirisme dan Rasionalisme, ternyata dipadamkan oleh faham “fenomenalisme” ajaran Immanuel Kant [1724-18-04]. Oleh karenanya ia dianggap mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur “apriori” dalam pengenalan, terlepas dari segala pengalaman. Empirisme menekankan unsur-unsur “Aposteriori”, yang berarti unsur yang berasal dari pengalaman.&lt;br /&gt;Menurut Kant keduanya berat sebelah. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa pengetahuan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dan unsur aposteriori. Dari sintesis tersebut dapat dirumuskan beragam yang lengkap baik secara empiris maupun dilandasi penalaran yang logis dan dapat lebih jelas dirumuskan kaitan [sebab-akibat] dari suatu gejala yang terjadi di alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Koento Wibisono Siswomihardjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Merujuk buah pikir Van Peursen:&lt;br /&gt;Menghadapi perkembangan pemikiran umat manusia dewasa ini, ternyata dapat diskemakan dengan tiga tahapan pemikiran yakni :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mistis&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ontologis&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fungsional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Apa tahapan pemikiran Mistis?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam tahapan ini kebenaran atau kenyataan adalah sesuatu yang “given”, mistis, dan tidak perlu ditanyakan&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa tahapan pemikiran Ontologis?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada tahapan ini manusia dan masyarakat mendambakan kebenaran substansial&lt;br /&gt;Apa tahapan pemikiran Fungsional?&lt;br /&gt;Pada tahapan ini kebenaran dan kenyataan diletakkan pada fungsi atau relasi kemanfaatannya.&lt;br /&gt;Aktualisasi ketika dinamika perkembangan manusia, dalam bidang keilmuan:&lt;br /&gt;Orang mulai mempertanyakan”apa hakikat ilmu pengetahuan” itu, yang jawabnya tidak semudah sebagaimana diperkirakan. Implikasi dari perkembangan manusia membuahkan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, cabang ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain. Garis demarkasi antara ilmu-ilmu murni dan ilmu-ilmu terapan menjadi kabur;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt; dengan semakin kaburnya garis demarkasi itu, timbullah persoalan mengenai sejauh mana nilai-nilai etik dan moral dapat intervensi dalam kegiatan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt; dengan kehadiran teknologi yang mendominasi kehidupan manusia di segala bidang, timbul pertanyaan filsafati apakah dengan dominasi ilmu pengetahuan itu kehidupan menjadi maju atau justru sebaliknya. Itulah sebabnya filsafat menjadi actual, khususnya filsafat ilmu yang kita butuhkan dari interdependensi antar cabang ilmu yang satu dengan cabang ilmu yang lain, juga dengan filsafat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa Filsafat ilmu?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Filsafat ilmu [Philosophy Of Science, Wissenchaftlehere, Wetenschapleer] merupakan penerusan dalam pengembangan filsafat pengetahuan, sebab pengetahuan ilmiah tidak lain adalah ‘a higher level dalam perangkat pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, obyek kedua cabang filsafat ini disana sini berhimpitan, namun berbeda salam aspek pembahasannya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Strategi Pengembangan Ilmu.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berbicara tentang strategi pengembangan ilmu, dewasa ini terdapat tiga macam pendapat:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt; ilmu berkembang dalam otonomi tertutup, dalam hal ini pengaruh konteks dibatasi, bahkan disingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, ilmu harus lebur dalam konteksnya, tidak hanya merupakan refleksi, melainkan juga memberikan alasan pembenaran konteksnya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga,&lt;/em&gt; ilmu dan konteksnya saling meresapi dan saling mempengaruhi untuk memberi kemungkinan bagi timbulnya gagasan-gagasan baru yang actual dan relevan bagi pemenuhan kebutuhan sesuai dengan waktu dan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wusana kata&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Filsafat ilmu bukanlah sekedar metodologi ataupun tata cara penulisan karya ilmiah. Filsafat ilmu merupakan refleksi secara filsafati akan hakikat ilmu yang tidak akan mengenal titik henti dalam menuju sasaran yang akan dicapai., yaitu kebenaran dan kenyataan.&lt;br /&gt;Memahmi filsafat ilmu berarti memahami seluk beluk ilmu pengetahuan sehingga segi-segi dan sendi-sendinya yang paling mendasar, untuk dipahami pula perspektif ilmu, kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar [cabang] ilmu yang satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;Filsafat ilmu perlu disebarluaskan untuk dikuasai oleh para tenaga pengajar dan peneliti, agar memungkinkan mereka untuk mensublimasikan disiplin ilmu yang ditekuninya ke dataran filsafati sehinga sanggup memikirkan spekulasi-spekulasi yang terdalam untuk menciptakan paradigma-paradigma baru yang relevan dengan budaya masyarakat bangsanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-751968524588228014?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/751968524588228014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=751968524588228014' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/751968524588228014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/751968524588228014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/catatan-ringkasan-filsafat-ilmu-buku.html' title='CATATAN RINGKASAN FILSAFAT ILMU, BUKU THOYIBI'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R6FP-WAYo4I/AAAAAAAAASs/dP3Y640vXhY/s72-c/Thoyibi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-8420084287808281001</id><published>2008-01-28T00:05:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T19:30:00.834-08:00</updated><title type='text'>CATATAN RINGAN FILSAFAT ILMU</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R52Q3mAYo0I/AAAAAAAAASI/dhTfVBkb6kk/s1600-h/Rizal.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160440032805823298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R52Q3mAYo0I/AAAAAAAAASI/dhTfVBkb6kk/s200/Rizal.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;CARING &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;[Catatan Ringan]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : FILSAFAT ILMU [Drs. Rizal Mustansir M.Hum + Drs. Misnal&lt;/span&gt; Munir M.Hum]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pengertian Filsafat :&lt;br /&gt;Filsafat secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “Philosophia”, Philos aratinya suka, cinta atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Shopia artinya kebijaksanaan. Dengan demikian secara sederhana filsafat dapat diartikan cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan.&lt;br /&gt;Definisi Filsafat:[berdasarkan watak dan fungsinya]&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sekumpulan sikap kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentrisme&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Ciri berfikir kefilsafatan:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Radikal: artinya sampai keakar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Universal: artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jaspers terletak pada aspek keumumannya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Konseptual;p artinya merupakan hasil generalisasi dan abstarksi pengalaman manusia. Misalnya: apakah kebebasan itu ?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Koheren dan Konsisten [runtut]: Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sitematik: artinya pendapat merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Komprehensif; artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bebas : artinya samapai batas-batas yang luas, pemikiran kefilsafatan boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, histories, cultural, bahkan religius.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bertanggungjawab : artinya seorang orang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sekaligus bertanggung jawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Delapan hal penting yang mempengaruhi struktur pikiran manusia, yaitu:&lt;br /&gt;1. Mengamati [&lt;em&gt;observes]&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;2. Menyelidiki [&lt;em&gt;inquires&lt;/em&gt;]&lt;br /&gt;3. Percaya [&lt;em&gt;believes&lt;/em&gt;]&lt;br /&gt;4. Hasrta [&lt;em&gt;desires&lt;/em&gt;]&lt;br /&gt;5. Maksud [&lt;em&gt;intends&lt;/em&gt;]&lt;br /&gt;6. Mengatur [&lt;em&gt;organizes&lt;/em&gt;]&lt;br /&gt;7. Menyesuaikan [&lt;em&gt;adapts&lt;/em&gt;]&lt;br /&gt;8. Menikmati [&lt;em&gt;enjoys&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ciri Pengenal Pengetahuan ilmiah&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berlaku Umum: artinya jawaban atas pertanyaan apakah sesuatu ahal itu layak atau tidak layak, tergantung pada factor-faktor subyektif&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mempunyai kedudukan mandiri [otonomi]: artinya meskipun factor-faktor di luar ilmu juga ikut berpengaruh, tetapi harus diupayakan agar tidak menghentikan pengembangan ilmu secara mandiri&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mempunyai dasar pembenaran: artinya cara kerja ilmiah diarahkan untuk memperoleh derajat kepastian yang sebesar mungkin&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sistematik : artinya ada system dalam susunan pengetahuan dan dalam cara memperolehnya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Intersubyektif: artinya kepastian pengetahuan ilmiah tidaklah didasarkan atas institusi-institusi serta pemahaman-pemahaman secara subyektif, melainkan dijamin oleh sistemnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Prasyarat yang harus dimiliki seorang ilmuwan:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Prosedur ilmiah yang harus ditempuh agar hasil kerja ilmiah itu diakui oleh para ilmuwab lainnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode ilmiah yang harus dipergunakan, sehingga kesimpulan atau hasil temuan ilmiah itu bisa diterima oleh para ilmuwan, terutama bidang ilmu sejenis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;diakui secara akademis karena gelar atau pendidikan formal yang ditempuhnya.&lt;br /&gt;Ilmuwan yang baik juga harus mempunyai rasa ingin tahu [curiosity]&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Pengertian Filsafat Ilmu:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Robert Ackermann: Filsafat Ilmu adalah sebuah tinjaun kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan dengan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lewis White Beck: Filsafat Ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikian ilmiah, sera mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cormnelius Benyamin : Filsafat Ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya, dan praangapan-anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang pengetahuan intelektual&lt;/li&gt;&lt;li&gt;May Brodbeck: Filsafat Ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan, dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Tujuan Filsafat Ilmu :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. Maksudnya seorang-orang ilmuwan harus memiliki sikap kritis terhadap bidang ilmu yang digelutinya, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solipsistic. Solipsistik adalah pola sikap yang mengganggap dirinya paling benar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metiode keilmuan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Oleh karenannya setiap metode keilmuan yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Implikasi:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bagi seorang-orang yang mempelajari filsafat ilmu diperlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu. Baik ilmu alam maupun ilmu sosial, sehingga antar ilmu dapat saling menyapa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyadarkan seorang-orang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara-gading”. Yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengkaitkannya dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;DETAIL BUKU:&lt;br /&gt;JUDUL :&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; Filsafat Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PENGARANG : Ds. Rizal Mustansyir M.Hum + Drs. Misnal Munir M.Hum&lt;br /&gt;PENERBIT : Pustaka Pelajar Jl. Celeban Timur UH III/548 Tyogyakarta 55167 Telp [0274] 381542. E-mail : &lt;a href="mailto:pustaka@yogya.wasantara.net.id"&gt;pustaka@yogya.wasantara.net.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;CETAKAN : I Maret 2001&lt;br /&gt;ISBN : 979-9289-48-3&lt;br /&gt;JUMLAH HALAMAN:180&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-8420084287808281001?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/8420084287808281001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=8420084287808281001' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/8420084287808281001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/8420084287808281001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/catatan-ringan-filsafat-ilmu.html' title='CATATAN RINGAN FILSAFAT ILMU'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R52Q3mAYo0I/AAAAAAAAASI/dhTfVBkb6kk/s72-c/Rizal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-3498121741908153458</id><published>2008-01-24T21:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T16:53:04.660-08:00</updated><title type='text'>HUBUNGAN TEORI &amp; FAKTA</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;HUBUNGAN TEORI &amp;amp; FAKTA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[Sarana berpikir ilmiah]&lt;br /&gt;Pemahaman teori &amp;amp; Pemahaman fakta&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 204, 102);" align="justify"&gt;TEORI:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Teori adalah sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala social maupun natura yang dijadikan pencermatan. Teori merupakan abstarksi dari pengertian atau hubungan dari proposisi atau dalil.&lt;br /&gt;Menurut Kerlinger [1973] teori dinyatakan sebagai sebuah set dari proposisi yang mengandung suatu pandangan sistematis dari fenomena.&lt;br /&gt;Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mencermati lebih jauh mengenai teori, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri dari konstrak [construct] yang sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut secara jelas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori menjelaskan hubungan antar variable atau antar konstrak sehingga pandangan yang sistematik dari fenomena fenomena yang diterangkan oleh variable dengan jelas kelihatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasi variable satu berhubungan dengan variable yang lain.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Teori sebagai alat ilmu&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Teori dinyatakan pula sebagai alat dari ilmu [tool of science], sedangkan perannya meliputi :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mendifinisikan orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi terhadap jenis-jenis data yang akan dibuat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori memberikan rencana konseptual, dengan rencana fenomena-fenomena yang relevan disistematisasi, diklasifikasi dan dihubung-hubungkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dan system generalisasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori memberikan prediksi terhadap faktaTeori memperjelas celah-celah dalam pengetahuan kita&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Fakta adalah pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris. Fakta dalam prosesnya kadangkala dapat menjadi sebuah ilmu namun juga sebaliknya. Fakta tidak akan dapat menjadi sebuah ilmu manakala dihasilkan secara random saja. Namun bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa system serta dilakukan secara sekuensial, maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah teori.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;HUBUNGAN FAKTA &amp;amp; TEORI&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hubungan fakta dan teori dapat divisualisasikan sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160446690005132114" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R52W7GAYo1I/AAAAAAAAASQ/_5E96tc4BIU/s320/HUB.jpg" border="0" /&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;ü &lt;/span&gt;Teori memprediksi fakta :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Penyingkatan fakta-fakta yang dilakukan oleh teori akan menghasilkan uniformitas dari pengamatan-pengamatan. Dengan adanya uniformitas maka dapat dibuat prediksi [ramalan] terhadap fakta-fakta yang akan datang dengan kata lain bahwa sebuah fakta baru akan lahir berdasarkan pengamatan fenomena-fenomena sekarang/saat ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;ü &lt;/span&gt;Teori memperkecil jangkauan:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fungsi utama dari teori adalah memberikan batasan terhadap ilmu dengan cara memperkecil jangkauan [range] dari fakta yang sedang dipelajari. Dalam dunia empiri banyak fenomena yang dapat dijadikan bahan pencermatan namun untuk pendalaman dan penajaman tertentu diperlukan batasan, sehingga teori berperan membatasi dalam lingkup [aspek] tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;ü &lt;/span&gt;Teori meringkas fakta :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;Teori melakukan perannya meringkas hasil penelitian. Melalui sebuah teori generalisasi terhadap hasil penelitian mudah dilakukan. Teori dengan mudah memberikan kemampuannya dalam memandu generalisasi-generalaisasi, bahkan teori mampu meringkas hubungan antar generalisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;ü &lt;/span&gt;Teori memperjelas celah kosong:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kemampuannya meringkas fakta – fakta saat ini dan melakukan prediksi, maka teori dapat memberikan petunjuk dan memperjelas kawasan mana yang belum dijangkau ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;ü &lt;/span&gt;Fakta memprakarsai teori :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdapat berbagai fakta yang kita dijumpai secara empiri yang mampu melahirkan sebuah teori baru, karena secara tidak langsung fakta sebagai muara terciptanya sebuah teori.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;ü &lt;/span&gt;Fakta memformulasikan kembali teori yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak semua fakta mampu dijadikan teori, tetapi fakta dari hasil pengamatan dapat membuat teori lama menjadi teori baru /dikembangkan menjadi teori baru. Teori harus disesuaikan dengan fakta dengan demikian fakta dapat mengadakan reformulasi terhadap teori.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;ü &lt;/span&gt;Fakta dapat menolak teori :&lt;br /&gt;Jika banyak diperoleh fakta yang menujukkan sebuah teori tidak dapat diformulasikan maka fakta berhak menolak teori tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;ü &lt;/span&gt;Fakta memberi jalan mengubah teori :&lt;br /&gt;Fakta mampu memperjelas teori dan mengajak seseorang untuk mengubah orientasi teori . Dengan hadirnya orientasi baru dari teori akan bersekuensi logis pada penemuan fakta-fakta baru.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;SIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;q &lt;/span&gt;Teori meningkatkaan keberhasilan penelitian karena teoridapat menghubungkan penemuan penemuan yang nampaknya berbeda-beda ke dalam suatu keseluruhan serta memperjelas proses-proses yang terjadi didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;q &lt;/span&gt;Teori dapat memberikan penjelasan terhadap hubungan –hubungan yang diamati dalam suatu penelitian.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 0);"&gt;RUJUKAN YANG DIGUNAKAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="color: rgb(102, 204, 204);"&gt;Burhanuddin Salam [1993] Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi ] : Penerbit Reneka Cipta Jakarta 36-48&lt;/li&gt;&lt;li style="color: rgb(102, 204, 204);"&gt;Moh. Nazir [1985] Metodologi Penelitian : Penerbit PT Galia Indonesia Jakarta 9-25 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 204, 204);"&gt;Sonny Keraf [2001] Ilmu Pengeta&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 255);"&gt;huan [Sebuah tinjauan Filosofis] : Penerbit Kanisius Yogyakarta Bab VIII 118 -130&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;ANDA DAPAT DOWNLOAD POWERPOINT "&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/38067786/daf83f50/PERANAN_TEORI_DALAM_PENELITIAN.html"&gt;PERANAN TEORI DALAM PENELITIAN&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;"&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-3498121741908153458?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/3498121741908153458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=3498121741908153458' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3498121741908153458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3498121741908153458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/hubungan-teori-fakta.html' title='HUBUNGAN TEORI &amp; FAKTA'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R52W7GAYo1I/AAAAAAAAASQ/_5E96tc4BIU/s72-c/HUB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-6930422870435204580</id><published>2008-01-23T21:06:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T19:30:01.606-08:00</updated><title type='text'>PENEMUAN KEBENARAN</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5l25WAYoxI/AAAAAAAAARw/bdvJZivdOcI/s1600-h/Langkah.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5gjPWAYosI/AAAAAAAAARI/MnYSZxqT0vk/s1600-h/7007.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158912119665107650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5gjPWAYosI/AAAAAAAAARI/MnYSZxqT0vk/s200/7007.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;PENEMUAN KEBENARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;[Sarana berpikir ilmiah]&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Penemuan kebenaran melalui penelitian ilmiah&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengantar&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[Metodologi Ilmiah Dalam Proses Berpikir]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cara mencari kebenaran yang dapat dipandang sebagai ilmiah manakala dilakukan melalui penelitian. Penelitian dan proses berpikir adalah dua sisi yang saling mengisi bagi dari segi proses maupun tujuannya . Ditinjau dari sisi proses penelitian dan berpikir harus dilakukan secara sistematik dan didukung oleh bukti-bukti; dan dilihat dari sisi produk, penelitian dan berpikir ditujukan untuk menemukan kebenaran, menelorkan teori atau melahirkan hipotesis. Seperti halnya yang diungkapkan F.I Withney [1960] bahwa penelitian merupakan suatu metode berpikir kritis yang diawali dengan munculnya “rasa sulit” dan diakhiri dengan kesimpulan atau masalah baru.&lt;br /&gt;Penelitian adalah penyelidikan yang dilakukan dengan pencermatan secara kritis dan sistematik untuk menemukan fakta-fakta dari gejala hubungan antar gejala tertentu.&lt;br /&gt;Dalam proses penelitian selalu terjadi kombinasi antara fakta hasil pengamatan dan penalaran [Ostle, 1964]. Dengan demikian dapat memberikan makna terhadap fakta yang diperoleh melalaui observasi atyau fakta yang diobservasi, diperlukan daya dukung penalaran atau kemampuan berpikir. Berpikir pada hakikatnya merupakan kapasitas berimprovisasi atau kemampuan merefleksi aneka fakta yang dibangun dari satu atau dari beberapa gejala. Seorang-orang bernama John Dewey [1933] proses berpikir divisualisikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158908314324083330" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5gfx2AYooI/AAAAAAAAAQo/PFrJ404c31U/s400/Jhon+Dewey.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;METODE ILMIAH :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Motode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis.&lt;br /&gt;Oleh karenanya idealitas dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan kesangsian systematis.&lt;br /&gt;Menurut Almack [1939] metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedanghkan Oltle [1075] menyatakan bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh interelasi.&lt;br /&gt;Metode ilmiah dalam meneliti mempunyai criteria serta langkah tertentu dalam bekerja. Berikut Visualisasi langkah-langkah metode ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159285884899074850" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5l3LWAYoyI/AAAAAAAAAR4/VlOnIVY0XuY/s400/KL.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;METODOLOGI ILMIAH DAN REALITAS ALAM&lt;br /&gt;Manusia dalam berbagai situasi terdapat kesamaan dengan hewan, yang membedakannya adalah kemampuan yang dimiliki [Capability] menalar dan rasa ingin tahu [curiosity].&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu manusia mengantarkan manusia merekayasa dirinya melalui penemuan-penemuan baru yang diawali dari penemuan yang sifatnya “asal-asalan” - [non scientific seperti diungkap pada pertemuan III] hingga pada penemuan ilmiah [scientific finding] yang memiliki aplikasi praktis taraf tinggi. Melalui rasa ingin tahunya maka setiap penemuan selalu diiringi dengan keinginan mencari penemuan baru lagi, dan demikian seterusnya.&lt;br /&gt;Motivasi kuat untuk tumbuh dan berkembang secara intelektual-ilmiah tersebut ditopang oleh realitas yang ada pada alam, serta beberapa hal yang ada dibalik reaslitas fakta atau fakta–fakta alam tersebut. Alam yang dijadikan titik tolak pencermatan akhirnya membuah kepiawaian manusia sebagai insan yang memiliki sarana pikir, serta secara terus menurus berpikir.&lt;br /&gt;Realitas alam inilah yang mendidik manusia untuk menemukan gejala, ataupun misteri-misteri lainya. Dengan kehandalan pikirnya maka terbentuk kemampuan melaksanakan telaah secara sistematik yang disebut dengan metodologi ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;PENEMUAN KEBENARAN MELALUI PENELITIAN ILMIAH&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu pada diri manusia. Untuk sampai pada penyaluran yang tinggi tarafnya disertai oleh keyakinan-keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, dan bahwa suatu gejala yang nampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah.&lt;br /&gt;Penelitian merupakan suatu proses yang terjadi dari suatu rangkaian langkah yang dilakukan secara terencana dan istematis untuk memperoleh jawaban terhadap sejumlah pertanyaan.&lt;br /&gt;Pada setiap penelitian ilmiah melekat cirri-ciri universal seperti : &lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pelaksanaan dan proses yang serba metodis &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mencapai suatu totalitas yang logis dan koheren &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Memiliki nilai obyektivitas yang tinggi.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;PENELITIAN HARUS OBYEKTIF:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap penelitian ilmiah harus obyektif, artinya terpimpin oleh obyek dan tidak mengalami distorsi karana adanya prejudice [prasangka]. Agar penelitrian dapat mewujudkan tingkat obyektivitasnya maka tuntutan intrasubyektivitas perlu dipenuhi. Penelitian harus diverivikasi secara ilmiah dan mampu/handal diverifikasi oleh semua peneliti yang relevan, Atau dapat disirtilahkan bahwa prosedur ilmiah yang dilakukan harus terbuka untuk diperiksa oleh ilmuwan lain. Titik tolak inilah yang mendorong penelitian iliah memiliki keharusan untuk &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;PENGGUNAAN BAHASA DALAM PENELITIAN ILMIAH.&lt;br /&gt;Penelitian ilmiah sangat diharapkan menggunakan bahasa yang komunikatif yang dapat dimengerti oleh siapa saja yang ingin mengetahui hasil penelitian, tetapi memang ada pula penelitian yang menggunkan bahasa khusus atau artifisisal yang hanya dimengerti oleh beberapa ahli tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;PENELITIAN ILMIAH DISEBUT PULA DENGAN ISTILAH PROGRESIVITAS:&lt;br /&gt;Maksud progresivitas adalah gambaran suatu jawaban ilmiah yang benar-benar memiliki sifat ilmiah karena jawaban yang diberikan tersebut mengandung sebuah masalah-masalah yang baru [Novelty]. Istilah yang erat kaitannya dengan sifat progresivitas adalah sikap kritis yang diberikan oleh setiap penelitian ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;PENELITIAN ILMIAH HARUS BERMUATAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP MANUSIA:&lt;br /&gt;Pada era global atau era yang sarwa modern ini hasil-hasil penelitian diharapkan mempunyai kontribusi pada apeningkatan taraf hidup manusia, oleh karenanya meruipakan kewajiban bahwa penelitian ilmiah harus menempatkan “Axiologi” sebagai tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;PENELITIAN ILMIAH DAN KARAKTERNYA:&lt;br /&gt;Meskipun telah disebutkan sejumlah ciri umum ilmu sebagai karakter ilmu, ternyata masih diperlukan pula pemahaman terhadap nuansa yang terdapat diantara ilmu alam [natural science] dengan ilmu-ilmu yang bersifat hermeneutic.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159284879876727554" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5l2Q2AYowI/AAAAAAAAARo/L10OGz2BSvU/s400/Akhir.jpg" border="0" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;RUJUKAN YANG DIGUNAKAN:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Alex Lanur OFM  [1993] &lt;em&gt;Hakikat Pengertahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu &lt;/em&gt; : Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 91:99 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alfon Taryadi  [1989] &lt;em&gt;Epistemologi Pemecahan Masalah&lt;/em&gt; [enurut Karl. R. Popper]  : Penerbit  PT Gramedia  Jakarta Bab III   67:89&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Amsal Bakhtiar [2004] &lt;em&gt;Filsafat Ilmu&lt;/em&gt;  : PT Raja Grafindo Persada Jakartaà Bab III 85 : 1224 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jujun Suriamantri [2004] &lt;em&gt;Ilmu Dalam Perpektif [Sebuah kumpulan karangan tentang hakikat ilmu]&lt;/em&gt;: Yayasan Obor Indonesia  Jakarta Bab IV  61:70&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-6930422870435204580?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/6930422870435204580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=6930422870435204580' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6930422870435204580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/6930422870435204580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/penemuan-kebenaran.html' title='PENEMUAN KEBENARAN'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5gjPWAYosI/AAAAAAAAARI/MnYSZxqT0vk/s72-c/7007.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-3032165077566151955</id><published>2008-01-22T22:50:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T19:30:01.888-08:00</updated><title type='text'>PENDEKATAN AWAL FILSAFAT ILMU PENGATAHUAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5bqo2AYokI/AAAAAAAAAQI/wmjbgIYeXyU/s1600-h/4139.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158568410612277826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5bqo2AYokI/AAAAAAAAAQI/wmjbgIYeXyU/s200/4139.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;PENDEKATAN AWAL FILSAFAT ILMU PENGATAHUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;1&lt;/span&gt;Perbedaan antara ilmu dan pengetahuan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;1&lt;/span&gt;Dasar Ontologi keilmuan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;1&lt;/span&gt;Metodologi keilmuan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengantar:&lt;br /&gt;Istilah ilmu sudah sangat populer, tetapi seringkali banyak orang memberikan gambaran yang tidak tepat mengenai hakikat ilmu. Terlebih lagi bila pengertian ini dikaitkan dengan berbagai aspek dalam suatu kegiatan keilmuan misalnya matematika, logika, penelitian dan sebagainya.&lt;br /&gt;Apakah bedanya ilmu pengetahuan [science] dengan pengetahuan [knowledge] ? Apakah karakter ilmu ? apakah keguanaan ilmu ? Apakah perbedaan ilmu alam dengan ilmu sosial ? apakah peranan logika ? Dimanakah letak pentingnya penelitian ? apakah yang disebut metode penelitian? Apakah fungsi bahasa ? Apakah hubungan etika dengan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Manusia berfikir karena sedang menghadapi masalah, masalah inilah yang menyebabkan manusia memusatkan perhatian dan tenggelam dalam berpikir untuk dapat menjawab dan mengatasi masalah tersebut, dari masalah yang paling sumir/ringan hingga masalah yang sangat "Sophisticated"/sangat muskil.&lt;br /&gt;Kegiatan berpikir manusia pada dasarnya merupakan serangkaian gerak pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan [knowledge]. Manusia dalam berpikir mempergunakan lambang yang merupakan abstraksi dari obyek. Lambang-lambang yang dimaksud adalah "Bahasa" dan "Matematika"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Meskipun kelihatannya nampak betapa banyaknya serta aneka ragamnya buah pemikiran itu namun pada hakikatnya upaya manusia untuk memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ONTOLOGI :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui. Apa yang ingin diketahui oleh ilmu? atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telah ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pertanyaan:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Obyek apa yang ditelaah ilmu ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaiman wujud yang hakiki dari obyek tersebut ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia [seperti berpikir, merasa dan mengindera] yang membuahkan pengetahuan.&lt;br /&gt;[&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Inilah yang melandasi ONTOLOGI&lt;/span&gt;]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran orang Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontology. Pada dasarnya tidak ada pilihan bagi setiap orang pemilihan antara “kenampakan”[&lt;em&gt;appearance&lt;/em&gt;] dan “kenyataan”[&lt;em&gt;reality&lt;/em&gt;]. Ontologi menggambarkan istilah-istilah seperti: “yang ada”[being], ”kenyataan” [reality], “eksistensi”[&lt;em&gt;existence&lt;/em&gt;], ”perubahan” [&lt;em&gt;change&lt;/em&gt;], “tunggal” [&lt;em&gt;one&lt;/em&gt;] dan “jamak”[&lt;em&gt;many&lt;/em&gt;].&lt;br /&gt;Ontologi merupakan ilmu hakikat, dan yang dimasalahkan oleh ontology adalah:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Apakah sesungguhnya hakikat realitas yang ada”rahasia alam” dibalik realitas itu?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ontologi membahas bidang kajian ilmu atau obyek ilmu. Penentuan obyek ilmu diawali dari subyeknya. Yang dimaksud dengan subyek adalah pelaku ilmu. Subyek dari ilmu adalah manusia; bagian manusia paling berperan adalah daya pikirnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;DASAR ONTOLOGI ILMU&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Apakah yang ingin diketahui ilmu atau apakah yang menjadi bidang telaah ilmu? Ilmu membatasi diri hanya pada kejadian yang bersifat empiris, mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia atau yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya. Ruang lingkup kemampuan pancaindera manusia dan peralatan yang dikembangkan sebagai pembantu pancaindera tersebut membentuk apa yang dikenal dengan dunia empiris. Dengan demikian obyek ilmu adalah dunia pengalaman indrawi. Ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pengetahuan keilmuan mengenai obyek empiris ini pada dasarnya merupakan abstraksi yang disederhanakan. Penyederhanaan ini perlu sebab kejadian alam sesungguhnya sangat kompleks. Ilmu tidak bermaksud "memotret" atau "mereproduksi" suatu kejadian tertentu dan mengabstaraksikannya kedalam bahasa keilmuan. Ilmu bertujuan untuk mengerti mengapa hal itu terjadi, dengan membatasi diri pada hal-hal yang asasi. Atau dengan perkataan lain, proses keilmuan bertujuan untuk memeras hakikat empiris tertentu, menjangkau lebih jauh dibalik kenyatan-kenyataan yang diamatinya yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperkirakan melalui kenyataan-kenyataan iru. Disinilah manusia melakukan transendensi terhadap realitas.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk mendapatkan pengetahuan ini ilmu membuat beberapa andaian [asumsi] mengenai obyek-obyek empiris. Asumsi ini perlu, sebab pernyataan asumstif inilah yang memberi arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan kita.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;ASUMSI EMPIRIS :&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ilmu memiliki tiga asumsi mengenai obyek empirisnya :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Asumsi pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : Asumsi ini menganggap bahwa obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain misalnya dalam hal bentuk struktur, sifat dsb. Klasifikasi [taksonomi] merupakan pendekatan keilmuan pertama terhadap obyek.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Asumsi kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: asumsi ini menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (tidak absolut tapi relatif ). Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu obyek dalam keadaan tertentu. Ilmu hanya menuntut adanya kelestarian yang relatif, artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak berubah dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian memungkinkan kita untuk melakukan pendekatan keilmuan terhadap obyek yang sedang diselidiki.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Asumsi ketiga&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; : Asumsi ini menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan/sekuensial kejadian yang sama. Misalnya langit ,mendung maka turunlah hujan. Hubungan sebab akibat dalam ilmu tidak bersifat mutlak. Ilmu hanya mengemukakan bahwa "X" mempunyai kemungkinan[peluang] yang besar mengakibatkan terjadinya "Y". Determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang [probabilistik]. Statistika adalah teori peluang.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;EPISTEMOLOGI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Epistemologi mempermasalahkan kemungkinan mendasar mengenai pengetahuan [very possibility of knowledge].&lt;br /&gt;Pada perkembangannya epistemology menampakkan jarak yang asasi antara rasionalisme dan empirisme, walaupun sebenarnya terdapat kecenderungan beriringan.&lt;br /&gt;Landasan epistemology tercermin secara operasional dalam metode ilmiah . Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun; &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka tersebut dan melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud dengan menguji kebenaran pernyataan secara factual.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Metode ilmiah dikenal dengan :&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Logico-hypothetico-verificative atau deducto--hypothetico-verificative&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Suatu pertanyaan:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaiman proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana prosedurnya ?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah kriterianya ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Inilah Kajian epistemology&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;DASAR EPISTEMOLOGI ILMU&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Epistemologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha kita memperoleh pengetahuan.&lt;br /&gt;Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Ilmu lebih bersifat kegiatan dinamis tidak statis. Setiap kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan, adalah sah disebut keilmuan.&lt;br /&gt;Hakikat keilmuan tidak berhubungan dengan "titel" atau "gelar akademik", profesi atau kedudukan, hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut persyaratan keilmuan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;AKSIOLOGI &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Permasalahan aksiologi meliputi [1] sifat nilai, [2] tipe nilai, [3] criteria nilai, [4] status metafisika nilai.&lt;br /&gt;Pada adasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dengan menitik beratkan pada kodrat dan martabat.&lt;br /&gt;Untuk kepentingan manusia maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dipergunakan secara komunal dan universal.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Suatu pertanyaan:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan ? bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah moral ? &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;METODE KEILMUAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Gabungan antara pendekatan rasional dan cara empiris dinamakan metode keilmuan. Rasionalisme memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis. Sedangkan empirisme kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran.&lt;br /&gt;Salah satu aspek metode keilmuan adalah menyusun konsep penjelasan atau berpikir secara teoritis. Pemikiran teoritis ini bersifat deduktif dan pada dasarnya suatu proses berpikir logis dan sistematis, maka disinilah logika memegang peranan yang penting. Kita melihat kegunaan logika dan matematika dalam proses berpikir deduktif untuk menurunkan ramalan atau hipotesis kemudian mengujinya Secara empiris dengan pertolongan metode keilmuan yakni penelitian dikembangkan diatas asas-asas statistika, agar kesimpulan yang ditarik dapat dipertanggung jawabkan secara keimluan.&lt;br /&gt;Dunia rasional adalah koheren, logis dan sistematis, dengan logika deduktif sebagai sendi pengikatnya (abstraksi), Dipihak lain terdapat dunia empiris yang obyektif dan berorientasi kepada fakta sebagaimana adanya.&lt;br /&gt;Simpulan umum yang ditarik dari dunia empiris secara induktif merupakan batu ujian kenyataan dalam menerima atau menolak suatu kebenaran. Ia merupakan wasit dalam "gimnastik" berpikir itu [ilmu dimulai dengan fakta dan diakhir dengan fakta apapun teori yang disusun diantara mereka] ---Albert einstein.&lt;br /&gt;Kebenaran ilmu bukan saja merupakan kesimpulan rasional yang koheren dan logis dengan sistem pengetahuan yang berlaku, tetapi juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada.&lt;br /&gt;Tesis pokok bahwa metode keilmuan pada hakikatnya merupakan hasil perkembangan dari metode rasionalisme dan empirisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUJUKAN YANG DIGUNAKAN:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ahmad Tafsir [2004] &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Filsafat Ilmu [mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengaetahun]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; : PT Remaja Rosda Karya Jakarta: 27-45 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alex Lanur OFM [1993] &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hakikat Pengertahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu : Penerbit&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta : 13:52 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alfon Taryadi [1989] &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Epistemologi Pemecahan Masalah[menurut Karl. R. Popper]&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : Penerbit PT Gramedia Jakarta : Bab V 107:151&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Amsal Bakhtiar [2004] &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Filsafat Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; : PT Raja Grafindo Persada Jakartaà Bab IV 131:164 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jujun Suriamantri [2004] &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ilmu Dalam Perpektif&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;[Sebuah kumpulan karangan tentang hakikat ilmu]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; : Yayasan Obor Indonesia Jakarta : Bab I 1:40&lt;/li&gt;&lt;li&gt;--------------------- [2004] &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Filsafat Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; [&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Pengantar Populer] &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;: Yayasan Sinar Harapan Jakarta Bab III 63:91, Bab 101:141 ---------------------[2004] Ilmu Dalam Perpektif M &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-3032165077566151955?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/3032165077566151955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=3032165077566151955' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3032165077566151955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/3032165077566151955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/pendekatan-awal-filsafat-ilmu.html' title='PENDEKATAN AWAL FILSAFAT ILMU PENGATAHUAN'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5bqo2AYokI/AAAAAAAAAQI/wmjbgIYeXyU/s72-c/4139.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-2976268851072119397</id><published>2008-01-22T21:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T19:30:02.321-08:00</updated><title type='text'>FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5bgBGAYoiI/AAAAAAAAAP4/I0LhYLS0Em0/s1600-h/5240.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158556732596199970" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5bgBGAYoiI/AAAAAAAAAP4/I0LhYLS0Em0/s200/5240.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[Sebuah terminologi]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;=&lt;/span&gt;Filsafat dan Ilmu&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;=&lt;/span&gt; Filsafat Ilmu Sistematika&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;=&lt;/span&gt; Filsafat iImu&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Istilah filsafat atau falsafah memiliki banyak arti. Menurut Socrates, filsafat merupakan cara berpikir secara radikal dan menyeluruh [holistic] atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.&lt;br /&gt;Filsafat dalam peranya tidak bertugas menjawab pertanyaan yang muncul dalam kehidupan, namun justru mempersoalkan jawaban yang diberikan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa berfilsafat adalah berpikir radikal (hingga sampai ke-akarnya], menyeluruh dan mendasar.&lt;br /&gt;Wiil Durant adalah seorang-orang yang menggambarkan filsafat sebagai pasukan marinir yang sedang merebut sebuah pantai. Setelah pantai berhasil dikuasai, pasukan infanteri dipersilahkan mendarat. Pasukan infanteri adalah merupakan, “pengetahuan “ yang diantaranya “ilmu”.&lt;br /&gt;Dari realita itulah nampak bahwa ilmu berasal dari filsafat, perkembagan ilmu senantiasa dirintis oleh filsafat. Oleh karena itu untuk memahami ilmu terlebih dahulu harus memahami filsafat.&lt;br /&gt;Filsafat mendorong orang untuk mengetahui apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui.&lt;br /&gt;Dinyatakan pula oleh Wiil Durant bahwa filsafat pada awalnya memiliki dua cabang, yakni :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;filsafat alami [natural philosophy] &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;filsafat moral [moral philosophy]&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Filsafat alami berkembang menjadi ilmu-ilmu alam sedangkan filsafat moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial.&lt;br /&gt;Hal-hal yang menjadi kajian filsafat adalah :&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Logika&lt;br /&gt;Logika adalah kajian yang mencari mana yang benar dan yang salah&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Etika&lt;br /&gt;Etika adalah kajian yang mencari mana yang baik dan yang tidak baik&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Estetika&lt;br /&gt;Estetika adalah kajian untuk menentukan mana yang indah dan mana yang tidak indah&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Metafisika&lt;br /&gt;Metafisika adalah kajian yang termasuk ke dalam teori tentang ada atau tentang tidak ada, hakikat keberadaan suatu zat, hakikat pikiran, dan kaitan antara pikiran dan zat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Politik&lt;br /&gt;Politik adalah kajian mengenai organisasi pemerintahan yang ideal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Simpulan singkat yang kita peroleh adalah :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat bersifat menyeluruh, mendasar dan spekulatif, sedangkan cakupan filsafat hanyalah hal-hal yang bersifat umum.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu memiliki cakupan yang lebih sempit dari filsafat, namun memiliki kedalam dan lebih tuntas. Ilmu mengalami perkembangan, yakni perkembangan tahapan awal dan tahapan akhir. Pada tahapan awal ilmu masih menggunakan norma filsafat sebagai dasarnya dan metode yang digunakan adalah metode normatif dan deduktif. Tahapan berikutnya ilmu menggunakan temuan-temuan sebagai dasarnya dan menyatakan dirinya sebagai sesuatu yang otonom/lepas dari filsafat, dengan menggunakan metode&lt;em&gt; deduktif dan induktif&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;FILSAFAT ILMU&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Yang dimaksud dengan filsafat ilmu adalah studi sistematik mengenai sifat hakikat ilmu, khususnya yang berkenaan dengan metodenya dan kedudukannya di dalam skema umum disiplin ilmu.&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian filsafat ilmu dapatlah dicermati rangkuman ranah telaah yang tercakup dalam filsafat ilmu, seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap symbol-symbol yang digunakan, dan terhadap struktur penalaran tentang system symbol yang digunakan. Telaah kritis diarahkan untuk mengkaji ilmu empirik dan juga ilmu rasional, juga untuk membahas studi-studi bidang etika dan estetika, studi sejarah, antropologi, geologi dll. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Metode yang diangkat biasanya dinyatakan dengan istilah induktif, deduktif, hipotesis, data, penemuan dan verifikasi. Selanjutnya secara mendalam dinyatakan dengan istilah ekperimentasi, pengukuran, klasifikasi, dan idealisasi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat ilmu adalah suatu upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep dan upaya membuka tabir dasar-dasar empiris (ke-empirisan) dan dasar-dasar rasional (ke-rasionalan). Aspek filsafat sangat erat hubungannya dengan hal ihwal yang logis dan etimologis. Sehingga peran yang dilakukan adalah ganda. Pada sisi pertama filsafat ilmu mencakup analisis kritis terhadap “anggapan dasar”, seperti waktu, ruang, jumlah /kuantitas, mutu/kualitas dan hukum. Sisi lain filsafat ilmu menelaah keyakinan menganai penalaran proses-proses alami.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filsafat ilmu merupakan studi gabungan yang terdiri dari beberapa kajian, yang diajukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu. Juga berperan untuk menganalisis hubungan atau antar hubungan yang ada pada kajian satu terhadap kajian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;BEBERAPA TERMINOLOGI FILSAFAT ILMU:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Robert Ackermann :&lt;br /&gt;Sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini yang membandingkan dengan pendapat terdahulu yang telah dibuktikan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lewis White Beck:Mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cornelius Benyamin&lt;br /&gt;Cabang pengetahuan filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya, praanggapan-praanggapannya , serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang intelektual&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;May Brobeck :&lt;br /&gt;Sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukiasan , dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;TUJUAN FILSAFAT ILMU&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Usaha merefleksi , menguji, menkritik asumsi dan metode keilmuan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Karena setiap metode ilmiah keilmuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan rasional.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai ontologis. Melalui paradigma ontologism diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan spiritual keilmuan yang mampu mengatasi bahaya sekularisme ilmu pengetahuan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan pertindustrian dalam batasan nilai epistemologis. Melalaui paradigma epistemologis diharapkan akan mendorong pertumbuhan wawasan intelektual keilmuan yang mampu membentuk sikap ilmiah&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan axiology. Melalui paradigma axiologis diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai etis, serta mendorong perilaku adil dan membentuk moral tanggung jawab. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipertanggung jawabkan bukan unntuk kepentungan manusia, namun juga untuk kepentingan obyek alam sebagai sumber kehidupan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menyadarkan seorang-orang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading”, yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengkaitkan dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. Kenyataan sesungguhnya bahwa setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial kemasyarakatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;CATATAN PERIHAL ILMU PENGETAHUAN&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Penjelasan ini akan memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu dankebenaran ibarat dua sisi dari sekeping mata uang [two sides of some coin]. Dengan kata lain, “ if one were to speak about truth or reality one has to investigate how to know what reality is”&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Netralitas ilmu: Ilmu itu sendiri bersifat netral tidak mengenal baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang mempunyai sikap.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu pengetahuan pada dasarnya lahir dan berkembang sebagai konsekuensi dari usaha-usaha manusia baik untuk memahami realitas kehidupan dan alam semesta maupun untuk menyelesaikan permasalahan hidup yang dihadapi, serta mengembangkan dan melestarikan hasil-hasil yang dicapai manusia sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dikatakan oleh Einstein, “bahwa ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta apapun juga teori yang disusun diantara mereka”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-2976268851072119397?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/2976268851072119397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=2976268851072119397' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2976268851072119397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/2976268851072119397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/filsafat-ilmu-dan-filsafat-ilmu.html' title='FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5bgBGAYoiI/AAAAAAAAAP4/I0LhYLS0Em0/s72-c/5240.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-482923527708229664.post-5651216285394467357</id><published>2008-01-20T21:58:00.001-08:00</published><updated>2008-12-08T19:30:02.574-08:00</updated><title type='text'>TEORI KEBENARAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5biaWAYojI/AAAAAAAAAQA/NrZEL5wXaV8/s1600-h/9261.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158559365411152434" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5biaWAYojI/AAAAAAAAAQA/NrZEL5wXaV8/s200/9261.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;TEORI KEBENARAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;=&lt;/span&gt;Teori Korespondensi &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;=&lt;/span&gt;Teori Koherensi &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;=&lt;/span&gt;Teori Pragmatis&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;Banyak mencuplik buah pikiran “Endang Safiudin”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;dalam bukunya : Ilmu, Filsafat dan Agama : PT Bina Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah kebenaran itu, suatu pertanyaan yang sangat menukiki bila kita sedang mendebatkan masalah. Apakah itu masalah ekonomi hingga politik yang rumit.&lt;br /&gt;Kebenaran acapkali diperdebatkan, namun makna sebenarnya acapkali ditinggal.&lt;br /&gt;“Jika anak kecil digigit anjing maka yang benar anak tersebut harus berganti menggigit anjing”, apakah ini juga suatu kebenaran ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEORI KORESPONDENSI TENTANG KEBENARAN&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teori yang pertama ialah teori korespondensi [&lt;em&gt;Correspondence Theory of Truth&lt;/em&gt;], yang kadang kala disebut &lt;em&gt;The accordance Theory of Truth&lt;/em&gt;. Menurut teori ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian [&lt;em&gt;correspondence&lt;/em&gt;] antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a proposition (or meaning) is true if there is a fact to which it corresponds, if it expresses what is the case&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;[Suatu proposisi atau pengertian adalah benar jika terdapat suatu fakta yang selaras dengan kenyataannya, atau jika ia menyatakan apa adanya].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Truth is that which conforms to fact; which agrees with reality; which corresponds to the actual situation."&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;[Kebenaran adalah yang bersesuaian dengan fakta, yang beralasan dengan realitas, yang serasi (corresponds) dengan situasi actual].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Truth is that which to fact or agrees with actual situation. Truth is the agreement between the statement of fact and actual fact, or between the judgment and the environmental situation of which the judgment claims to be an interpretation."&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;[Kebenaran ialah suatu yang sesuai dengan fakta atau sesuatu yang selaras dengan situasi aktual. Kebenaran ialah persesuaian (agreement) antara pernyataan (statement) mengenai fakta dengan fakta aktual; atau antara putusan (Judgment) dengan situasi seputar (Enviromental situation) yang diberinya intepretasi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“&lt;em&gt;if a judgment corresponds with the facts, it is the true; if not, it is false."&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;[Jika suatu putusan sesuai dengan fakta, maka dapat dikatakan benar ; Jika tidak maka dapat dikatakan salah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori korespondensi ini sering dianut oleh realisme/empirisme.&lt;br /&gt;K. Rogers, adalah seorang orang penganut realisme kritis Amerika, yang berpendapat bahwa : keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara "esensi atau arti yang kita berikan" dengan "esensi yang terdapat didalam obyeknya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Epistemological realism.The view that there is an independent reality apart from minds, and we do not change it when we come to experience or to know it; sometimes called objectivism"&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;[Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independence (tidak tergantung), yang terlepas dari pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahami. Itulah sebabnya realisme epitemologis kadangkala disebut obyektivisme]. Dengan perkataan lain: realisme epistemologis atau obyektivisme&lt;br /&gt;berpegang kepada kemandirian sebuah kenyataan tidak tergantung pada yang di luarnya.&lt;br /&gt;Dalam perpustakaan Marxis dapat dibaca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;If our sensations, perception, notions, concepts and theories corresponds to objective reality, if reflect if faithfully, we say that they are true, while true statement, judgment or theories are called the truth.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;[Jika sensasi kita, persepsi kita, pemahaman kita, konsep dan teori kita bersesuaian dengan realitas obyektif, dan jika itu semua mencerminkannya dengan cermat, maka kita katakan itu semua benar: pernyataan, putusan dan teori yang benar kita sebut kebenaran].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dialectical materialism understands truth as that knowledge of an objective/ with correctly reflect this objectives, i.e. correspond to it"&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;[Materialisme dialektika memahamkan kebenaran sebagai pengetahuan tentang sesuatu obyek, yang mencerminkan obyek tersebut secara tepat, dengan perkataan lain, bersesuaian dengan obyek yang dimaksud]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;For example, the scientific propositions that "Bodies consists of atoms", that the " Earth prior to man", that "the people are makers of history", etc. are true&lt;br /&gt;"&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;[misalnya pengertian ilmiah bahwa "tubuh terdiri dari atom-atom"' bahwa "Bumi lebih dahulu ada dari pada manusia", bahwa "rakyat adalah pembuat sejarah", dan lain sebagainya, adalah benar].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;In contrast to idealism, dialectical materialism maintains that truth is objective. Since truth reflects the objectively existing word, its content does not depend on man’s consciousness.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Objective truth, LENIN Wrote, is the content of our knowledge, which neither on mans, nor on mankind. The content of truth is fully determined by the objective process it reflects&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Berlawanan dengan idealisme, maka meterialisme dialektika mempertahankan bahwa kebenaran adalah obeyektif. Selama kebenaran mencerminkan dunia wujud secara obyektif, maka wujudnya itu tergantung pada kesadaran manusia. Kebenaran obyektif, tulis Lenin, adalah kandungan pengetahuan kita yang tidak tergantung, baik kepada manusia maupun kepada kemanusiaan. Kandungan kebenaran sepenuhnya ditentukan oleh proses abyektif yang tercerminkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LENIN Menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;From live contemplation to abstract thinking and from that to practice, such is the dialectical process of cognizing the truth, of cognizing objective reality. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;[Dari renungan yang hidup menuju ke pemikiran yang abstrak, dan dari situ menuju praktek, demikianlah proses dialektis tentang pengenalan atas kebenaran, atas realitas obyektif].&lt;br /&gt;Selajunya kaum marxist mengenal dua macam kebenaran, yaitu (a) kebenaran mutlak dan (b) kebenaran relatif]&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Absolute truth is objective truth in its entirety, an absolutely exact reflection of reality"&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;[Kebenaran mutlak ialah kebenaran yang selengkapnya obyektif, yaitu suatu pencerminan dari realitas secara pasti mutlak]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" &lt;em&gt;Relative truth is incomplete correspondence of knowledge to reality. Lenin called this truth the relatively true reflection of an object which is independent of man&lt;/em&gt;" &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;[Kebenaran relatif adalah pengetahuan mengenai relaitas yang kesesuaianya tidak lengkap, tidak sempurna. Menurut Lenin, kebenaran relatif adalah pencerminan dari obyek yang relatif benar, yang terbatas dari manusia].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Every truth is objective truth”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;[setiap kebenaran adalah kebenaran yang obyektif].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Relative truth is imperfect, incomplete truth. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;[kebenaran relatif adalah kebenaran yang tidak sempurna, tidak lengkap]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIMPULAN :&lt;br /&gt;Mengenai Teori Korespondensi tentang kebenaran dapat disimpulkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Kita mengenal dua hal, yaitu : pertama pernyataan dan kedua keyataan. Menurut teori ini kebenartan iaah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu sendiri.&lt;br /&gt;Sebagai contoh dapat dikemukakan : " Surabaya adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur sekarang" ini adalah sebuah pernyataan; dan apabila kenyataannya memang Surabaya adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur ", pernyataan itu benar, maka pernyataan itu adalah suatu kebenaran.&lt;br /&gt;Rumusan teori korespondensi tentang kebenaran itu bermula dari ARIESTOTELES, dan disebut teori penggambaran yang definisinya berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“VERITAS EST ADAEQUATIO INTELCTUS ET RHEI”&lt;br /&gt;[kebenaran adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;TEORI KONSISTENSI TENTANG KEBENARAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teori yang kedua adalah Teori Konsistensi.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The Consistence Theory Of Truth, yang sering disebut dengan The coherence Theory Of Truth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" According to this theory truth is not constituted by the relation between a judgment and something else, a fact or really, but by relations between judgment themselves "&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;[Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgment) dengan sesuatu yang lalu, yakni fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri].&lt;br /&gt;Dengan demikian, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui benarnya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Jadi suatu proposisi itu cenderung untuk benar jika proposisi itu coherent [saling berhubungan] dengan proposisi yang benar, atau jika arti yang terkandung oleh proposisi tersebut koheren dengan pengalaman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" &lt;em&gt;A belief is true not because it agrees with fact but because it agrees, that is to say, harmonizes, with the body knowledge that we presses” &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;[Suatu kepercayaan adalah benar, bukan karena bersesuaian dengan fakta, melainkan bersesuaian/selaras dengan pengetahuan yang kita miliki]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"It the maintained that when we accept new belief as truths it is on the basis of the manner in witch they cohere with knowledge we already posses”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;[Jika kita menerima kepercayan-kepercayaan baru sebagai kebenaran-kebenaran, maka hal itu semata-mata atas dasar kepercayaan itu saling berhubungan [cohere] dengan pengetahuan yang kita miliki]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;A judgment is true it if consistent with other judgment that are accepted or know to be true. True judgment is logically coherent with other relevance judgment&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;[suatu putusan adalah benar apabila putusan itu konsisten dengan putusan-putusan yang terlebih dahulu kita terima, dan kita ketahui kebenarannya. Putusan yang benar adalah suatu putusan yang saling berhubungan secara logis dengan putusan-putusan lainnya yang relevance]&lt;br /&gt;Jadi menurut teori ini , putusan yangh satu dengan puitusan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"The truth is systematic coherence&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;[Kebenaran adalah saling hubungan yang sistematik]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;" Truth is consistency”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;[kebenaran adalah konsistensi, selaras, kecocokan]&lt;br /&gt;Selanjutnya teori konsistensi/koherensi ini dapat disimpulkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan lainnya yang lebih dahulu kita akui/ terima/ ketahui kebenarannya.&lt;br /&gt;Kedua:&lt;br /&gt;Teori ini dapat juga dinamakan teori justifikasi tentang kebenaran, karena menurut teori ini suatu putusan dianggap benar apabila mendapat justifikasi putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah dikatahu kebenarannya.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;Bungkarno, adalah ayahanda Megawati Sukarno Puteri, adalah pernyataan yang kita ketahui, kita terima, dan kita anggap benar.&lt;br /&gt;Jika terdapat penyataan yang koheren dengan pernyataan tersebut diatas, maka pernyataan ini dapat dinyatakan Benar. Kerena koheren dengan pernyataan yang dahulu:&lt;br /&gt;Misalnya.&lt;br /&gt;- Bungkarno memiliki anak bernama Megawati Sukarno Putri&lt;br /&gt;- Anak-anak Bungkarno ada yang bernama Megawati Sukarno Putri&lt;br /&gt;- Megawati Sukarno Putri adalah keturunan Bungkarno&lt;br /&gt;- Dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TEORI PRAGMATISME&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Teori ketiga adalah teori pragmatisme tentang kebenaran, the pragmatic [pramatist] theory of truth. Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma, artinya yang dikerjakan, yang dapat dilaksanakan, dilakukan, tindakan atau perbuatan.&lt;br /&gt;Falsafah ini dikembangan oleh seortang orang bernama William James di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;Menurut filsafat ini dinyatakan, bahwa sesuatu ucapan, hukum, atau sebuah teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat.&lt;br /&gt;Suatu kebenaran atau suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori, hipotesa atau ide adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, jiak membawa akibat yang memuaskan, dan jika berlaku dalam praktik, serta memiliki niali praktis, maka dapat dinyatakan benar dan memiliki nilai kebenaran.&lt;br /&gt;Kebenaran terbukti oleh kegunannya, dan akibat-akibat praktisnya. Sehingga kebenaran dinyatakan sebagai segala sesuatu yang berlaku.&lt;br /&gt;Menurut William James “ ide-ide yang benar ialah ide-ide yang dapat kita serasikan, jika kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa.&lt;br /&gt;Menurut penganut praktis, sebuah kebenaran dimaknakan jika memiliki nilai kegunaan [&lt;em&gt;utility&lt;/em&gt;] dapat dikerjakan [&lt;em&gt;workability&lt;/em&gt;], akibat atau pengaruhnya yang memuaskan [&lt;em&gt;satisfactory consequence&lt;/em&gt;].&lt;br /&gt;Dinyatakan sebuah kebenaran itu jika memilki “hasil yang memuaskan “[&lt;em&gt;satisfactory result&lt;/em&gt;], bila :&lt;br /&gt;Sesuatu yang benar jika memuaskan keinginan dan tujuan manusia&lt;br /&gt;Sesuatu yang benar jika dapat diuji benar dengan eksperimen&lt;br /&gt;Sesuatu yang benar jika mendorong atau membantu perjuangan biologis untuk tetap ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RUJUKAN YANG DIGUNAKAN:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Alex Lanur OFM [1993] Hakikat Pengertahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta--91:99 &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Alfon Taryadi [1989] Epistemologi Pemecahan Masalah {menurut Karl. R. Popper] : Penerbit PT Gramedia Jakarta--Bab III 67:89&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Amsal Bakhtiarr [2004] Filsafat Ilmu : PT Raja Grafindo Persada Jakarta--Bab III 85 : 1224 &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Endang Safiudin [1987] Ilmu, Filsafat dan Agama : PT Bina Ilmu--Bab III 85 : 1224&lt;br /&gt;Jujun Suriamantri [2004] Ilmu Dalam Perpektif [Sebuah kumpulan karangan tentang hakikat ilmu] : Yayasan Obor Indonesia Jakarta---Bab IV 61:70&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;--------------------- [2004] Filsafat Ilmu [Sebuah Pengantar Populer] : Yayasan Sinar Harapan Jakarta---ab V 165:211, &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;---------------------[2004] Ilmu Dalam Perpektif Moral, Sosial dan Politik Penerbit Gramedia JakartaBab 10 74:87 Bab XI 81:87&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mohammad Muslih [[2004] Filsafat Ilmu [Kajian atas asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengethuan] : Penerbit Belukar Bab V 89:119&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mohammad Zaenudin[2003] Menggoyang Pikiran [ Menuju Alam Makna] : Penerbit Pustaka Remaja ---Bab VII 62 : 79&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA ANDA MEMBUTUHKAN BAHAN TAYANG BERBENTUK POWER POINT KLIK "&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/39397948/39d89e9a/TEORI_KEBENARAN.html"&gt;TEORI KEBENARAN&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/482923527708229664-5651216285394467357?l=filsafat-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/feeds/5651216285394467357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=482923527708229664&amp;postID=5651216285394467357' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5651216285394467357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/482923527708229664/posts/default/5651216285394467357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/teori-kebenaran.html' title='TEORI KEBENARAN'/><author><name>Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_fHbhlky4wCk/SImr45mph6I/AAAAAAAAA-4/WaG_FwaphCA/S220/Batik.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R5biaWAYojI/AAAAAAAAAQA/NrZEL5wXaV8/s72-c/9261.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
