Cari Sesuatu ?

Google

Sunday, November 19, 2017

PENDEKATAN AWAL FILSAFAT ILMU PENGATAHUAN



Materi:
PENDEKATAN AWAL FILSAFAT ILMU PENGATAHUAN
q  Perbedaan antara ilmu dan pengetahuan
q  Dasar ontologi keilmuan
q  Metodologi keilmuan
dosen

Drs.H.Djoko Adi Walujo, S.T.,M.M.,DBA


TUJUAN PERKULIAHAN UMUM
Mahasiswa memahami falsafah keilmuan sebagai pisau analisa untuk memberikan solusi dalam menghadapi problematika keilmuan

TUJUAN PERKULIAHAN KHUSUS
Mahasiswa dapat membedakan antara ilmu dan pengetahuan   
Mahasiswa dapat menjelaskan dasar ontologi keilmuan
Mahasiswa dapat mendefiniskan kajian epistemologi
Mahasiswa dapat menjelaskan tiga asumsi empiris
Mahasiswa dapat menjelaskan  pendekatan rasional dan empirik

Pengantar
Istilah ilmu sudah sangat populer, tetapi seringkali banyak orang memberikan gambaran yang tidak tepat mengenai hakikat ilmu. Terlebih lagi bila pengertian ini dikaitkan dengan berbagai aspek dalam suatu kegiatan keilmuan misalnya matematika, logika, penelitian dan sebagainya.
Apakah bedanya ilmu pengetahuan [science] dengan pengetahuan [knowledge] ? Apakah karakter ilmu ? apakah keguanaan ilmu ? Apakah perbedaan ilmu alam dengan ilmu sosial ? apakah peranan logika ? Dimanakah letak pentingnya penelitian ? apakah yang disebut metode penelitian? Apakah fungsi  bahasa ? Apakah hubungan etika dengan ilmu.
1
M
anusia berfikir karena sedang menghadapi masalah, masalah inilah yang menyebabkan manusia memusatkan perhatian dan tenggelam dalam berpikir untuk dapat menjawab dan mengatasi masalah tersebut, dari masalah yang paling sumir/ringan hingga masalah yang sangat "Sophisticated"/sangat muskil.
Kegiatan berpikir manusia pada dasarnya merupakan serangkaian gerak pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan [knowledge]. Manusia dalam berpikir mempergunakan lambang yang merupakan abstraksi dari obyek. Lambang-lambang yang dimaksud adalah "Bahasa" dan "Matematika"
2
M
eskipun kelihatannya nampak betapa banyaknya serta aneka ragamnya buah pemikiran itu namun pada hakikatnya upaya manusia untuk memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok yakni :

ONTOLOGI

Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui. Apa yang ingin diketahui oleh ilmu? atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telah ilmu


Inilah yang melandasi ONTOLOGI

Suatu pertanyaan


- Obyek apa yang ditelaah ilmu ?
- Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut ?
- Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia [seperti berpikir, merasa dan mengindera] yang membuahkan pengetahuan



Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran orang Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontology. Pada dasarnya tidak ada pilihan bagi setiap orang pemilihan antara “kenampakan”[appearance] dan “kenyataan”[reality]. Ontologi menggambarkan istilah-istilah seperti: “yang ada”[being], ”kenyataan” [reality], “eksistensi”[existence], ”perubahan” [change], “tunggal” [one] dan “jamak”[many].
Ontologi merupakan ilmu hakikat, dan yang dimasalahkan oleh ontologi adalah:
Apakah sesungguhnya hakikat realitas yang ada”rahasia alam” dibalik realitas itu.

Ontologi membahas  bidang kajian ilmu atau obyek ilmu. Penentuan obyek ilmu diawali dari subyeknya. Yang dimaksud dengan subyek adalah pelaku ilmu. Subyek dari ilmu adalah manusia; bagian manusia paling berperan adalah daya pikirnya.
DASAR ONTOLOGI ILMU
Apakah yang ingin diketahui ilmu atau apakah yang menjadi bidang telaah ilmu? Ilmu membatasi diri hanya pada kejadian yang bersifat empiris, mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia atau yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya. Ruang lingkup kemampuan pancaindera manusia dan peralatan yang dikembangkan sebagai pembantu pancaindera tersebut membentuk apa yang dikenal dengan dunia empiris. Dengan demikian obyek  ilmu adalah dunia pengalaman indrawi. Ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris.

Pengetahuan keilmuan mengenai obyek empiris ini pada dasarnya merupakan abstraksi yang disederhanakan. Penyederhanaan ini perlu sebab kejadian alam sesungguhnya sangat kompleks. Ilmu tidak bermaksud "memotret" atau "mereproduksi" suatu kejadian tertentu dan mengabstaraksikannya kedalam bahasa keilmuan. Ilmu bertujuan untuk mengerti mengapa hal itu terjadi, dengan membatasi diri pada hal-hal yang asasi. Atau dengan perkataan lain, proses keilmuan bertujuan untuk memeras hakikat empiris tertentu, menjangkau lebih jauh dibalik kenyatan-kenyataan yang diamatinya yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperkirakan melalui kenyataan-kenyataan iru. Disinilah manusia melakukan transendensi terhadap realitas.

Untuk mendapatkan pengetahuan ini ilmu membuat beberapa andaian [asumsi] mengenai obyek-obyek empiris. Asumsi ini perlu, sebab pernyataan asumstif inilah yang memberi arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan kita.
ASUMSI EMPIRIS

Ilmu memiliki tiga asumsi mengenai obyek empirisnya :

  Asumsi pertama : asumsi ini menganggap bahwa obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain misalnya dalam hal bentuk struktur, sifat da seagaiya Klasifikasi [taksonomi] merupakan pendekatan keilmuan pertama terhadap obyek.

  Asumsi kedua: asumsi ini menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (tidak absolut tapi relatif). Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu obyek dalam keadaan tertentu. Ilmu hanya menuntut adanya kelestarian yang relatif, artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak berubah dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian memungkinkan kita untuk melakukan pendekatan keilmuan terhadap obyek yang sedang diselidiki.

  Asumsi ketiga: asumsi ini menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan/sekuensial kejadian yang sama. Misalnya langit ,mendung maka turunlah hujan. Hubungan sebab akibat dalam ilmu tidak bersifat mutlak. Ilmu hanya mengemukakan bahwa "X" mempunyai kemungkinan[peluang] yang besar mengakibatkan terjadinya "Y".  Determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang [probabilistik]. Statistika adalah teori peluang.

EPISTEMOLOGI


Epistemologi mempermasalahkan kemungkinan mendasar mengenai pengetahuan [very possibility of knowledge].
Pada perkembangannya epistemology menampakkan jarak yang asasi antara rasionalisme dan empirisme, walaupun sebenarnya terdapat kecenderungan beriringan.
Landasan epistemology tercermin secara operasional dalam metode ilmiah . Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh  pengetahuan berdasarkan :
1.      kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun;
2.    menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka tersebut dan
3.   melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud dengan menguji kebenaran pernyataan secara factual.
Metode ilmiah dikenal dengan Logico-hypothetico-verificative atau deducto--hypothetico-verificative.

Suatu pertanyaan


  • Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ?
  • Bagaimana prosedurnya ?
  • Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ?
 Inilah Kajian epistemology 

DASAR EPISTEMOLOGI ILMU

Epistemologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha kita memperoleh pengetahuan.
Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Ilmu lebih bersifat kegiatan dinamis tidak statis. Setiap kegiatan dalam mencari  pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan, adalah sah disebut keilmuan.
Hakikat keilmuan tidak berhubungan dengan "titel" atau "gelar akademik", profesi atau kedudukan, hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut persyaratan keilmuan.


AKSIOLOGI

Pada dasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dengan menitik beratkan pada kodrat dan martabat. Aksiologi adalah wilayah yag membicarakan kegunaan ilmu, dan nilai-nilai


 Permasalahan aksiologi meliputi [1] sifat nilai, [2] tipe nilai, [3] criteria nilai, [4] status metafisika nilai. Untuk kepentingan manusia maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dipergunakan secara komunal dan universal.

Suatu pertanyaan


·        Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan ? bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah moral ?
·        Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
·        Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?


METODE KEILMUAN

Gabungan antara pendekatan rasional dan cara empiris dinamakan metode keilmuan. Rasionalisme memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis. Sedangkan empirisme kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran.
Salah satu aspek metode keilmuan adalah menyusun konsep penjelasan atau berpikir secara teoritis. Pemikiran teoritis ini bersifat deduktif dan pada dasarnya suatu proses berpikir logis dan sistematis, maka disinilah logika memegang peranan yang penting. Kita melihat kegunaan logika dan matematika dalam proses berpikir deduktif untuk menurunkan ramalan atau hipotesis kemudian mengujinya Secara empiris dengan pertolongan metode keilmuan yakni penelitian dikembangkan diatas asas-asas statistika, agar kesimpulan yang ditarik dapat dipertanggung jawabkan secara keimluan.
Dunia rasional adalah koheren, logis dan sistematis, dengan logika deduktif sebagai sendi pengikatnya (abstraksi), Dipihak lain terdapat dunia empiris yang obyektif dan berorientasi kepada fakta sebagaimana adanya.
Simpulan umum yang ditarik dari dunia empiris secara induktif merupakan batu ujian kenyataan dalam menerima atau menolak suatu kebenaran. Ia merupakan wasit dalam "gimnastik" berpikir itu [ilmu dimulai dengan fakta dan diakhir dengan fakta apapun teori yang disusun diantara mereka] ---Albert einstein.
Kebenaran ilmu bukan saja merupakan simpulan rasional yang koheren dan logis dengan sistem pengetahuan yang berlaku, tetapi juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada.
Tesis pokok bahwa metode keilmuan pada hakikatnya merupakan hasil perkembangan dari metode rasionalisme dan empirisme.


[RANGKUMAN]

CATATAN PERIHAL METODE KEILMUAN




Kegiatan berpikir manusia pada dasarnya merupakan serangkaian gerak pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan [knowledge].

Untuk kepentingan manusia maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dipergunakan secara komunal dan universal.

Kebenaran ilmu bukan saja merupakan simpulan rasional yang koheren dan logis dengan sistem pengetahuan yang berlaku, tetapi juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada

  Epistemologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha kita memperoleh pengetahuan.Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan

 Ilmu membatasi diri hanya pada kejadian yang bersifat empiris, mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia atau yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya. Ruang lingkup kemampuan pancaindera manusia dan peralatan yang dikembangkan sebagai pembantu pancaindera [ontologi]

 Permasalahan aksiologi meliputi [1] sifat nilai, [2] tipe nilai, [3] criteria nilai, [4] status metafisika nilai. Untuk kepentingan manusia maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dipergunakan secara komunal dan universal.
EXERCISE

Diskusikan dan lakukan refleksi:
1.  Apakah yag membedakan ilmu degan ilmu lainnya
2. Untuk kepentingan manusia maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Mengapa demikian ?
3.  Kebenaran ilmu bukan saja merupakan simpulan rasional yang koheren dan logis, mengapa demikian /

RUJUKAN YANG DIGUNAKAN
Ahmad Tafsir [2004] Filsafat Ilmu [mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengaetahun] : PT Remaja Rosda Karya Jakartaà  27-45
Alex Lanur OFM  [1993] Hakikat Pengertahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu  : Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama Jakartaà 13:52
Alfon Taryadi  [1989] Epistemologi Pemecahan Masalah [menurut Karl. R. Popper]  : Penerbit  PT Gramedia  Jakartaà Bab V 107:151
Amsal Bakhtiar [2004] Filsafat Ilmu  : PT Raja Grafindo Persada Jakartaà Bab IV 131:164
Jujun Suriasmantri [2004] Ilmu Dalam Perpektif [Sebuah kumpulan karangan tentang hakikat ilmu] : Yayasan Obor Indonesia  Jakartaà Bab I 1:40
--------------------- [2004] Filsafat Ilmu [Sebuah Pengantar Populer] : Yayasan Sinar Harapan  Jakartaà Bab III 63:91, Bab 101:141
---------------------[2004] Ilmu Dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik  Penerbit Gramedia  JakartaBab 10  74:87
Mohammad Muslih [2004] Filsafat Ilmu [Kajian atas asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengethuan]: Penerbit Belukar à Bab I 20, Bab VIII 163:164
Rizal Muntansyir [2001] Filsafat Ilmu: Pustaka Pelajar Jakarta. àBab I; 9:26, Bab II 42:49


















 















Sunday, November 5, 2017

FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU [Sebuah terminologi]



FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU
[Sebuah terminologi]
Filsafat dan Ilmu- Filsafat Ilmu Sistematika- Filsafat iImu


TUJUAN PERKULIAHAN UMUM

Mahasiswa memahami falsafah keilmuan sebagai pisau analisa untuk memberikan solusi menghadapi problematik keilmuan

TUJUAN PERKULIAHAN KHUSUS 
Mahasiswa dapat menjelaskan terminologi filsafat ilmu 
Mahasiswa dapat menjelaskan hal-hal yang menjadi pokok kajian filsafat ilmu 
Mahasiswa dapat menjelaskan sistematika filsafat ilmu




Filsafat Dan Ilmu

Istilah filsafat atau falsafah memiliki banyak arti. Menurut Socrates, filsafat merupakan cara berpikir secara radikal dan menyeluruh [holistic] atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.

Filsafat dalam peranya tidak bertugas menjawab pertanyaan yang muncul dalam kehidupan, namun justru mempersoalkan jawaban yang diberikan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa berfilsafat adalah berpikir radikal [hingga sampai ke-akarnya], menyeluruh dan mendasar.
Wiil Durant adalah seorang-orang yang menggambarkan filsafat sebagai pasukan marinir yang sedang merebut sebuah pantai. Setelah pantai berhasil dikuasai, pasukan infanteri selajutya mempersilakan mendarat. pasukan infanteri adalah  merupakan, “pengetahuan “ yang diantaranya “ilmu”.
Dari realita itulah nampak bahwa ilmu berasal dari filsafat, perkembangan ilmu senantiasa dirintis oleh filsafat. Oleh karena itu untuk memahami ilmu terlebih dahulu harus memahami filsafat.
Filsafat mendorong orang untuk mengetahui apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui.
Dinyatakan pula oleh Wiil Durant bahwa filsafat pada awalnya memiliki dua cabang, yakni :
  • filsafat alami [natural philosophy]
  • filsafat moral [moral philosophy]

Filsafat alami berkembang menjadi ilmu-ilmu alam sedangkan filsafat moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial.
Hal-hal yang menjadi kajian filsafat adalah :

  1. Logika
Logika adalah kajian yang mencari mana yang benar dan yang salah

  1. Etika
Etika adalah kajian yang mencari mana yang baik dan yang tidak baik

  1. Estetika
Estetika adalah kajian untuk menentukan mana yang indah dan mana yang tidak indah
  1. Metafisika
Metafisika adalah kajian yang termasuk ke dalam teori tentang ada atau tentang tidak ada, hakikat keberadaan suatu zat, hakikat pikiran, dan kaitan antara pikiran dan zat.

  1. Politik
Politik adalah kajian mengenai organisasi pemerintahan yang ideal.

 
Simpulan singkat yang kita peroleh adalah :


·         Filsafat bersifat menyeluruh, mendasar dan spekulatif, sedangkan cakupan filsafat hanyalah hal-hal yang bersifat umum.

  • Ilmu memiliki cakupan yang lebih sempit dari filsafat, namun memiliki kedalam dan lebih tuntas. Ilmu mengalami perkembangan, yakni perkembangan tahapan awal dan tahapan akhir. Pada tahapan awal ilmu masih menggunakan norma filsafat sebagai dasarnya dan metode yang digunakan adalah metode normatif dan deduktif. Tahapan berikutnya ilmu menggunakan temuan-temuan sebagai dasarnya dan menyatakan dirinya sebagai sesuatu yang otonom/lepas dari filsafat, dengan menggunakan metode deduktif dan induktif.


FILSAFAT ILMU


Yang dimaksud dengan filsafat ilmu adalah studi sistematik mengenai sifat hakikat ilmu, khususnya yang berkenaan dengan metodenya dan kedudukannya di dalam skema umum disiplin ilmu.
Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian filsafat ilmu dapatlah dicermati rangkuman ranah telaah yang tercakup dalam filsafat ilmu, seperti berikut :

·         Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap symbol-symbol yang digunakan, dan terhadap struktur penalaran tentang system symbol yang digunakan. Telaah kritis diarahkan untuk mengkaji ilmu empirik dan juga ilmu rasional, juga untuk membahas studi-studi bidang etika dan estetika, studi sejarah, antropologi, geologi dll.
 Metode yang diangkat biasanya dinyatakan  dengan istilah induktif, deduktif, hipotesis, data, penemuan dan verifikasi. Selanjutnya secara mendalam dinyatakan dengan istilah ekperimentasi,  pengukuran, klasifikasi, dan idealisasi.

·         Filsafat ilmu adalah suatu upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep dan upaya membuka tabir dasar-dasar empiris (ke-empirisan) dan dasar-dasar rasional (ke-rasionalan). Aspek filsafat sangat erat hubungannya dengan hal ihwal yang logis dan etimologis. Sehingga peran yang dilakukan adalah ganda. Pada sisi pertama filsafat ilmu mencakup analisis kritis terhadap “anggapan dasar”, seperti  waktu, ruang, jumlah /kuantitas, mutu/kualitas dan hukum. Sisi lain filsafat ilmu menelaah keyakinan menganai penalaran proses-proses alami.

·         Filsafat ilmu merupakan studi gabungan yang terdiri dari beberapa kajian, yang diajukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu. Juga berperan untuk menganalisis hubungan atau antar hubungan yang ada pada kajian satu terhadap kajian yang lain.



BEBERAPA TERMINOLOGI FILSAFAT ILMU


  • Menurut Robert Ackermann :
Sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini yang membandingkan dengan pendapat terdahulu yang telah dibuktikan

  • Lewis White Beck:
Mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan

  • Cornelius Benyamin
Cabang pengetahuan filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya, praanggapan-praanggapannya , serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang intelektual

  • May Brobeck :
Sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukiasan , dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.




TUJUAN FILSAFAT ILMU


·         Sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah

·         Usaha merefleksi , menguji, menkritik asumsi dan metode keilmuan


·         Memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Karena setiap metode ilmiah keilmuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan rasional.


MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN


1.      Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai ontologis. Melalui paradigma ontologism diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan spiritual keilmuan yang mampu mengatasi bahaya sekularisme ilmu pengetahuan.

2.      Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan pertindustrian dalam batasan nilai epistemologis. Melalaui paradigma epistemologis diharapkan akan mendorong pertumbuhan wawasan intelektual keilmuan yang mampu membentuk sikap ilmiah


3.      Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan axiology. Melalui paradigma axiologis diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai etis, serta mendorong perilaku adil dan membentuk moral tanggung jawab. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipertanggung jawabkan bukan unntuk kepentungan manusia, namun juga untuk kepentingan obyek alam sebagai sumber kehidupan

4.      Menyadarkan seorang-orang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading”, yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengkaitkan dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. Kenyataan sesungguhnya bahwa setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial kemasyarakatan


  

CATATAN PERIHAL ILMU PENGETAHUAN


1.      Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Penjelasan ini akan memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi

2.      Ilmu dankebenaran ibarat dua sisi dari sekeping mata uang [two sides of some coin]. Dengan kata lain, “ if one were to speak about truth or reality one has to investigate how to know what reality is”

3.      Netralitas ilmu: Ilmu itu sendiri bersifat netral tidak mengenal baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang mempunyai sikap.

4.      Ilmu pengetahuan pada dasarnya lahir dan berkembang sebagai konsekuensi dari usaha-usaha manusia baik untuk memahami realitas kehidupan dan alam semesta maupun untuk menyelesaikan permasalahan hidup yang dihadapi, serta mengembangkan dan melestarikan hasil-hasil yang dicapai manusia sebelumnya.

5.      Dikatakan oleh Einstein, “bahwa ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta apapun juga teori yang disusun diantara mereka”


EXIRCISE

Diskusikan dan lakukan refleksi:

1. Filsafat ilmu memiliki potensi dalam meningkatkan harkat martabat manusia, oleh karenanya sangat relevan dikaji untuk mahasiswa pascasarjana
2.   Filsafat ilmu menjamin pola sikap cinta kebijakan [love of wisdom]


RUJUKAN YANG DIGUNAKAN




Ahmad Tafsir [2004] Filsafat Ilmu [mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan] : PT Remaja Rosda Karya Jakartaà  35-59
Alex Lanur OFM  [1993] Hakikat Pengertahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu : Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama Jakartaà 13:52
Conny Semiawan, Dkk [2005] Panorama Filsafat Ilmu [Landasan pengembangan ilmu sepanjang Zaman] : Penerbit Teraju [PT Mizan Publika]  Bandung à Bab IX .107: 123
Rizal Muntansyir [2001] Filsafat Ilmu : Pustaka Pelajar Jakarta . àBab I ; 1:26, Bab  II 42:49
Shah AB[1986] Metodologi Ilmu Pengetahuan : Yayasan Obor Indoensia – PT Karya Uniper Jakarta à Bab III  24:30





 

Sunday, June 4, 2017

Idola sesat Francis Bacon

Menanggalkan idola yang sesat akan menghasilkan pemikiran yang jernih dan obyektif. Berikut slide yang bisa digunakan untuk memahami idola yang sesat itu.