Cari Sesuatu ?

Google

Sunday, February 8, 2009

FILSAFAT ITU INDAH

MITOS BAHWA FILSAFAT ITU SULIT BERGENTAYANGAN DI KAMPUS
Beberapa mahasiswa saya mengeluh, ketika saya baru pertama memasuki ruangannya, karena mendengar saya akan mengajarkan filsafat ilmu. Usut punya usut ternyata dibenak mereka sudah punya preferen negatif, dan kita dinina bobokan oleh mitos yang acapkali bergentayangan di kampus. Mitos itu mensuarakan bahwa filsafat adalah sebuah mata kulaih yang sulit, dan tidak memiliki manfaat di dunia kehidupan. Secara pragmatis juga dikatakan bahwa filasafat tidak berguna di dunia kerja, dan dunia kehidupan sehari-hari. Agar kita mencitai sekaligus bersemangat mempelajari filsafat, gudang filsafat akan mensadap beberapa pengertian yang mudah cerna, selengkapnya sebagai berikut.
PATOKAN-PATOKAN DASAR/CIRI-CIRI BERFIKIR FILSAFAT:
  • Berpikir sampai ke akar-akar permasalahan atau berpikir secara radikal. Ini berarti kita berpikir samapai ke inti atau hakikat dari obyek pemikiran kita, yaitu permasalahan yang kita hadapi
  • Berpikir universal. Filsafat mencerminkan pengalaman umum manusia. Oele karena itu ciri pemikiran kita haruslah bersifat universal dan bukannya parsial atau bagian-bagian, sebagaimana yang terjadi dalam ilmu
  • Koheren dan runtut atau konsisten: berpikir koheren berarti sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir. Runtut atau konsisten berarti tidak mengandung pertentangan atau kontradiksi
  • Sistematik: berpikir sistematik bearti semua pandangan yang dianalisis selalu berhubungan secara teratur dengan maksud tertentu
  • Komprehensif yang berarti menyeluruh.Filsafat merupakan keterbukaan total terhadap realitas atau totalitas
  • Bebas: pemikiran filosofis adalah hasil pemikiran yang bebas dari prasangka-prasangka sosial historis, kultural dan religius
  • Bertanggung jawab: kita berpikir dan bertanggung jawab atas hasil pemikiran kita dan paling tidak bertanggung jawab terhadap hati nurani kita sediri
DARI PANDANGAN HIDUP MENJADI ILMU
Filsafat dapat kita pandang dari dua sisi, dari perpektif pandangan hidup dan perpektif Ilmu. Kemudian proses-proses yang membawa filsafat dari pandangan hidup menuju ilmu yang bersifat akademis, dipaparkan buku ini sebagai berikut:
  1. Filsafat berkembang menjadi disiplin khusus karena dirinya mampu mengerahkan segenap segala usaha kepada kebijaksanaan, dan selalu memperbanyak refleksi dan berupaya menemukan akar atau kriteria untuk membedakan secara ekstrem antara kebenaran dan kesalahan, keburukan dan kebaikan, atau bagaimana membedakan hal yang bersifat ilusif dan riil. Dengan itu semua filsafat membuka banyak refleksi tentang pengalaman dalam kehidupan sehari-hari
  2. Lewat berbagai refleksi, filsafat juga memahami dirinya sebagai bentuk dari cinta [philia]. Filsafat juga memahami dirinya dalam berbagai keadaan untuk bergerak maju dan selalu mencari pengetahauan yang tidak atau belum diketahui.
FUNGSI DAN TUGAS FILSAFAT DALAM HUBUNGANNYA DENGAN ILMU
Fungsi dan tugas filsafat dalam hubungannya dengan ilmu, buku ini membentangkan pemikiran sebagai berikut:
  1. Secara tradisonal-historis, filsafat dilihat sebagai ratu segala ilmu, kendati ketika ilmu-ilmu mulai memisahkan diri dari filsafat, fungsi seperti ini semakin diakui.
  2. Terdapat beberapa fungsi penting filsafat dalam dunia ilmu, antara lain:
[]Filsafat merangsang hipotesis-hipotesis baru bagi ilmu lain atau teori ilmu pengetahuan
[]Sebagai pendasar filsafat menyelidiki mekanisme mencari pengetahuan dari ilmu tertentu, yakni secara kritis menyelidiki anggapan, pengertian dan metodenya sendiri
[]Fungsi sintesis:Membuat sintesis dari hasil dan pandangan dunia ilmu
[]Fungsi Kritis: mengeritik ajaran-ajaran ideologis dan filosofis, teknik, ekonomi, dan lain-lain [kritik ideologi]
[]Fungsi sosial-konstruktif: kritik terhadap situasi masyarakat demi kebaikkan dan kemanusiaan. Kritik ini tidak didasarkan pada intuisi melainkan berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman, relasi antar manusia, antropologi, sosiologi dan etnologi
[]Fungsi pedagogis:pendidikan untuk berpikir kelas [logis-filosofis], disiplin berpikir dan berbicara
LIMA PRINSIP DALAM DALAM BERFILSAFAT
Buku ini juga mengadopsi pemikiran The liang Gie terkait dengan prinsip-prinsip berfilsafat:
Filsafat menghalau kecongkakan dan kesombongan intelektual yang selalu berprinsip bahwa kita sudah tahu segala sesuatu. Halangan paling utama dalam proses pembelajaran ialah pandangan kita sudah tahu segala sesuatu. Dengan ini kita kehilangan rasa ingin tahu dan kemampuan untuk belajar lebih banyak lagi.
Kesetiaan kepada kebenran dan keberanian untuk mempertahankan kebenaran itu. Ini sudah diperlihatkan oleh bapak filsafat, Sokrates, yang dengan berani menerima hukuman mati secara tidak adil dengan siap menelan pil beracun dan mematikan
Memahami secara sungguh-sungguh pelbagai persoalan filsafat dan berusaha menemukan jawabannya. Dengannya kita terlibat dalam latihan berpikir yang terus menerus [intellectual exercises]
Latihan-latihan intelektual untuk menilai masalah secara kritis dan memecahkannya dapat kita lakukan secara lisan tetapi juga secara terulis. Karena itu latihan untuk berbicara dan mengungkapkan diri dalam dialog dan komunikasi dengan orang lain sangat penting. Juga latihan inteltual terus menerus kita buat melalui karya tulis menulis dalam bentk apa saja
Keterbukaan diri terhadap pelbagai persoalan dan konteks hidup kita. Kita berusaha menghindarkan pelbagai pandangan sempit atau hanya berpihak pada satu pandangan tertentu saja.
Data buku
JUDUL:Filsafat itu Indah
PENULIS:Dr. Konrad Kebung.SVD
PENERBIT:Prestasi Pustakaraya

Thursday, February 5, 2009

REKONSTRUKSI ILMU-CECEP SUMARNA

EMPIRIK-RASIONAL ATEISTIK KE EMPIRIK-RASIONAL TEISTIK
Kegelisahaan sang filsof selalu membuta energi menjadi cahaya, bahkan kekuatan berpikir refketifnya memberikan pencerahan kepada kehidupan. Mungkin hal ini sama dengan kegelisahan yang dihadapi oleh seorang-orang bernama Cecep Sumarna, yakni seorang Dosen yang juga Ketua Program Studi Tadris Ilmu Pengethauan Sosial ekonomi Koperasi STAIN Cirebon. Kegelisahan itu memicu lahirnya sebuah buku yang berjudul "Rekosntruksi Ilmu"
Menurutnya saat ini para saintis telah memasuki wilayah mutlak Tuhan, saintis telah berhasil mengubah ilahiyah yang permanen kepada insaniyah yang immanen.
Dengan penuh semangat buku ini membongkar/mendekonstruksi bangunan filsafat dan Sains Barat Modern yang dainggap sudah tertata rapi, final, dan baku, namun sesungguhnya "kosong melompong" dari makna dan nilai-nilai kemanusiaan. Inilah penggaran axiologi yang amat kentara. Buku ini sangat istimewa ketika pengantar diberikan oleh Dr.Jaih Mubarok yang membentangkan Filsafat Ilmu sangat mendasar sekali, bahkan dengan bahsa yang mudah cerna, melalui garapan yang sistematis. Dengan membaca tulisan Dr. Jaih Mubarok ini, maka orang akan mudah menangkap makna filsasat ilmu, sehingga sangat disarankan para pembaca yang baru saja masuk wilayah Filsafat ilmu membaca buku ini.Hadirnya buku ini tidak lepas dari perenungan dan perhatian penulis melihat fenomena dan fakta empirik yang terjadi. Buku ini mjuga merupakan bagian penting dari literatur yang membicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang termasuk Tradisi Besar [Great Tradition; karena telah berupaya menggambarkan pemikiran modernisme yang diagungkan dan kemudian dinilai gagal. Penilaian gagal ini ditunjukkan oleh kecenderungan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan tuhan yang tidak harmonis. Dan hubungan uitu justru menanggalkan nilai-nilai [filsafat nilai], yang kerap pula kita sebut dengan axiologi. Olah karenanya faham, modernisme harus dan layak didekonstruksi kewilayah yang tetap mengedepankan nilai-nilai. [maaf belum tuntas]
Data buku
JUDUL: Rekonstruksi Ilmu; Dari Empirik-Rasional Ateistik Ke empirik-Rasional Teistik
PENULIS: Drs. Cecep Sumarna, Mag
PENERBIT: Benang Merah Press. Komp. Bumi penyileukan, B-8 No. 1. Cibiru, Bandung 40614. Telp. 081320781073. E-mail: benangmerah_bdg@plasa.com
ISBN: 979-98351-6-X
TEBAL: 188 halaman
CETAKAN: Oktober 2005
[]

Wednesday, January 21, 2009

BERPIKIR SEPERTI FILOSOF

BUKU INI INGIN MEMOTIVASI ORANG BAHWA FILSAFAT ITU MUDAH
Hendra Halomon Sipayung, penulis buku ini, punya niatan mengubah paradigma yang salah dalam mempelajarai filsafat, sekaligus juga ingin menjebol belenggu yang kerap keliru, ketika orang beranggapan bahwa mempelajari filsafat itu sulit. sisi lain ada seorang orang yang membikin sebuah mitos bahwa mempelajari filsafat itu hanya untuk orang-orang tertentu, bahakan tidak semua orang dapat memahami filsafat. Kenyataan itu membuat barier yang kuat sehingga orang memvonis filsafat itu adalah sulit. Sisi lain ada anggapan yang keliru, bahwa mempelajari filsafat akan menjauhkan seorang-oreang dari ranah agama, dan kecederung masuk kedomain atheis, serta sekularis.
Buku ini ini menghapus stigma buruk itu, dan dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang itu berfilsafat, setiap orang melakukan kajain filsafati, kendati tidak disadari.
Rupanya buku ini memotivasi siapapun untuk belajar filsafat dengan mudah, bahkan buku ini terkesan menuntun orang sekaligus memotivasi. Data buku
JUDUL: Berpikir Seperti Filosof
PENULIS: Hendra Halomoan Sipayung
PENERBIT: Ar-Ruzz Media. Modinan Sambilegi No. 194 Manguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Telp: 0274-4332223. E-mail: arruzzwacana@Yahoo.com
ISBN: 978-979-25-4528-9
CETAKAN: Januari 2009
TEBAL: 144 hlm; 12 x 19 cm
Sadapan Ringkas:
SYARAT BERPIKIR ALA FILOSOF
Pertama, Anda harus berani mempertanyakan segala sesuatu termasuk hal-hal yang Anda yakini dan seterusnya
Kedua, Anda harus mampu menjawab segala pertanyaan dan keraguan Anda untuk mendapatkan penjelasan yang holistik. Karena filsafat berupaya untuk mendapatkan kebenaran universal tentang realitas.
TIPS MENGGALI IDE DARI BUKU-BUKU FILSAFAT:
  1. Bacalah keseluruhan sebuah buku filsafat secara sistematis. Cobalah membuat ulasan tentang bukuntersebut, apakah yang sedang dibahas dan gaya penuilisnnya
  2. Kemudian baca dengan lebih berkonsentrasi untuk mengetahuai mana maslah yang sedang dibahas, pandangan-pandangan penulis dan argumen-argumennya
  3. Kajilah setiap bagian yang relevan, coba analisis argumen yang disampaikan. Kemudian buat kerangka tulisan
  4. Cobalah membaca secara akatif. Sewaktu Anda membaca, tanyakan pada diri Anda sendiri: apakah masalah yang sedang dibicarakan? didasarkan pada asumsi apa argumen itu dibangun? apakah argumen valid dan masuk akal? Bagaimana argumen tersebut membentuk karya secara keseluruhan? Jika ada, apakah kesalahan itu instruktif? Mengapa kesalahan itu dibuat dan bagaimnan memperbaikinya?
  5. Jika Anda mempunyai waktu, bacalah kembali keseluruhan karya itu untuk memperoleh pengertian tentang kesimpulan dan tujuan keseluruhannya, lalu berikan evaluasi terhadap keutuhan dan konsistensinya.
TIPS MEMBACA BUKU-BUKU FILSAFAT SECARA POSITIF
Hukum pertama: bacalah buku-buku filsafat secara kritis
Hukum Kedua: Jangan pernah membaca buku filsafat sekali
Hukum Ketiga: Tulisakan apa yang di benak Anda saat membaca karya filsafat
Hukum Keempat: Tetap jaga jarak pribadi dengan buku yang Anda baca

Tuesday, November 18, 2008

RISALAH FILSAFAT EMPIRISME DAVID HUME


Seri Petualangan Filsafat, karya T.Z. Lavine
Kita jadi diingatkan kembali tentang APOSTERIORI, bahwa sebuah ilmu lahir setalah pengamatan. "Post" berarti "setelah" artinya setelah melewati penginderaan sebuah ilmu lahir, pengalaman empiri itu faktual, dengan ekstrem dikatakan bahwa orang yang mengunggul-unggulkan rasio adalah seorang-orang yang hidup di awang-awang. Platonis katanya.
David Hume, adalah orang yang membangkitkan citarasa keilmuan melalui ranah kekuatan pengamatan indrawi.
Empirisme memandang pengamatan pancaindera sebagai satu-satunya sumber pengetahuan terpercaya. Empirisme muncul pada awal tahun-tahun abad XVII.
Kendati buku ini nampaknya membentangkan sepak terjang Filsut David Hume, namun isi buku ini adalah sebuah esensi filsafat empirisme.
Data buku
JUDUL: David Hume--Risalah Filsafat Empirisme
PENULIS: T.Z. LAvine
PENERBIT: Jendela. Jl. Gejayan Gg. Buntu II/5A Yogyakarta 55281./ Telp. 0274-518886.
ISBN: 979-95978-126-3
TEBAL: xii + 87, 12 x 18 cm
Catatan: Diterjemahkan dari: From Socrates to Satre: The Philosophic Quest. New York: Bantam Books, Inc, 1984]

KEBANGKITAN EMPIRISME INGGRIS

Buku ini membentangkan bahwa empirisme berkembang di Inggris. Nama-nama besar filsuf yang mencermati empirisme sebagian besar berkebangsaan Inggris. Inilah yang mengindikasikan bahwa titik tertinggi kemajuan empirisme berada di Inggris dan sekitarnya. Skotlandia, dan Irlandia disebut juga sebagai temapt berkembangkan empirisme, yakni ketika abad XVII dan XVIII. Penganut empirisme Inggris klasik dan karya utamanya dalam teori pengetahuan antara lain:

  1. John Locke [1632-1704]--Essay Concerning Human Understanding [Esai yang berkenaan dengan pemahaman manusia]--1690
  2. George Berkeley [1685-1753] dalam A Treatise Concerning the Principle of Human Knowledge [Risalah mengenai Prinsip-prinsip Pengetahuan Manusia]--1710
  3. David Hume[1711-1776]--A Traetise of Human Nature [Risalaqh Mengenai Sifat Alami Manusia] --1738-1740, selanjutnya direvisi menjadi Enquiry Concerning Human Understanding [Penelitian atas pemahaman Manusia]--1751

[Catatan buku ini menohok penganut Rane Descartes, dan selanjutnya menanamkan kebencian dalam bentuk "Anti Cartesianisme. Buku ini juga menyediakan Glosarium untuk memudahkan khalayak bacanya. Hume dalam buku ini menegasdi Gagasan Jiwa dan Diri, bahkan terungkap secara jelas filosofi Hume mengenai agama. Kritik tajam Hume yang keras juga diungkap jelas, seperti:

  • Kritik Keras Hume atas Bukti Rasional Mengenai Tuhan
  • Kritik Keras Hume atas Deisme
  • Kritik Keras Hume atas Keyakinan pada Mujizat]

Monday, November 17, 2008

APAKAH FILSAFAT DAN FILSAFAT ILMU ?


B. Arief Sidharta membuat manfaat dalam kehidupannya, serta mengisi keunikan diri dengan aktivitas yang jarang dilakukan orang lain pada umumnya. Selalu dalam kehidupnya dijalani dengan penuh pemikiran yang reflektif, sebagai bukti ketika memperingati ulang tahunnya yang ke 70, tetap membuat pancaran yang bermanfaat kepada sesamanya. Ulang tahunnya ditandai dengan meluncurnya sebuah buku filsafat.
Buku yang dinganu dari kempulan tulisan ini berkutak dengan masalah filsafat, dari empat tulisan, terdapat tiga tulisan yang mengkhususkan pada filsafat ilmu. Tiga tulisan itu ialah:

  1. Apakah filsafat ilmu itu?
  2. Filsafat Ilmu
  3. Konsep Ilmu
Apakah filsafat ilmu itu ?
Filsafat ilmu dikupas dengan tahapan rincian sebagai berikut:

  • Tujuan Ilmu [The goal of science]
  • Penjelasan ilmiah [Scientific exolanation]
  • Teori dan hukum ilmiah [ Scientific theories and law]
  • Teori observasi [Theory and observasion]
  • Penilaian dan demarkasi [Assessment and demarcation]
  • Kesatuan ilmu [The unity of Science]
FILSAFAT ILMU

  • Apakah ilmu itu?
  • Metode ilmu
  • Sikaplmiah
  • Klasifikasi ilmu pengetahuan
  • Masalah bebas nilai dan ilmu
  • Pertanggungjawaban ilmu dan etika
KONSEP ILMU:

  • Konsep ilmu dalam filsafat ilmu dewasa ini
  • Konstruksi ilmu
  • Jenis-jenis ilmu
  • Kedudukan ilmu hukum.
Data Buku
JUDUL : Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu
PENULIS : B.Arief Sidharta [Editor]
PENERBIT: Pustaka Sutra.
ISBN-13: 978-979-16086-4-0
CETAKAN: I- April 2008
TEBAL: 114 hlm.

SADAPAN RINGKAS:
[halaman 80]

Bebera ciri pokok yang terdapat dari pengertian ilmu yakni:
  1. Ilmu itu bersifat rasional, artinya proses pemikiran yang berlangsung dalam ilmu itu harus dan hanya tunduk pada hukum-hukum logika
  2. Ilmu itu bersifat empirikal, artinya kesimpulan-kesimpulan yang ditariknya dapat ditundukkan pada pemeriksaan atau verivikasi pencaindera manusia. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan, bahwa ilmu harus menerima prasuposisi-prasuposisi atau kebenaran-kebenaran tertentu, sebagai titik tolak atau dasar, yang dapat atau tidak perlu diverifikasikan oleh pancaindera manusia. Prasuposisi-prasuposisi ini diperoleh dari filsafat, misalnya kaidah-kaidah hukum logika dan hukum kausalitas
  3. Ilmu bersifat sistematikal, yakni cara kerjanya runtut berdasarkan patokan tertentu [metodikal] yang secara rasional dapat dipertanggungjawabkan, dan hasilnya berupa fakta-fakta yang relevan dalam bidang yang ditelaahnya harus disusun dalam suatu kebulatan yang konsisten
  4. Ilmu bersifat umum dan terbuka, artinya harus dapat dipelajari oleh tiap orang; jadi tidak bersifat esoterik [terbatas hanya bagi sekolompok orang tertentu]
  5. Ilmu bersifat akumulatif, yakni kebenaran diperoleh selalu dapat dijadikan dasar untuk memperoleh kebenaran baru.

Tiga perangkat Kriteria:
[Halaman 105]

Menurut Harold Berman, keberadaan ilmu harus memenuhi tiga perangkat kreteria, antara lain yakni:

  1. Kriteria Metodologikal
  2. Kriteria Nilai
  3. Kriteria Sosiologikal
Kriteria Metodologika:
Dalam peritilah metodologi, ilmu dalam arti modern dapat didefiniskan sebagai berikut:
  • seperangkat pengethuan yang terintegrasi
  • yang di dalamnya kejadian-kejadian atau gejala khusu secara sistematis dijelaskan
  • dalam peristilahan asas-asas dan kebenaran umum
  • pengetahuan tentang gejala, asas dan kebenaran umum [hukum] itu diproleh sebagai kombinasi:
  • Hipotesis-verifiksi
  • sejauh dimunkinkan : eksperimen
  • metode ilmiah penelitian dan sistematisasi, emskipun memiliki ciri-ciri umum yang sama, anmun tidak sama untuk semua ilmu, melainkan harus disesuaikan pada jenis-jenis khas kejadian atau gejala yang menjadi pokok telaah ilmu yang bersangkutan
KRITERIA NILAI:
Ilmu dalam kegaitannya harus mengacu primis-primis nilai :

  • obyektivitas ilmiah
  • bebas pamrih [disinterestedness]
  • skeptisisme terorganisasi
  • toleransi terhadap kekeliruan
  • keterbukaan terhadap kebenaran ilmiah baru
KRITERIA SOSIOLOGIKAL:
  • Pembentukan komunitas ilmuwan, dalam rangka tanggung jawab kolektif berkenaan dengan pelaksanaan penelitian, pelatihan/pendidikan anggota baru, berbagi pengetahuan ilmiah [publikasi], dan otensitas pencapaian ilmiah di dalam dan di luar disiplin
  • Penautan berbagai disiplin ilmiah dalam komuniats penstudi
  • Status sosial yang menyandang hak istimewa komuniats para ilmuawan, misalnya kebebasab pengajaran dan penelitian, dan tanggung njawab memberikan pelayanan demi ilmu itu sendiri, metodenya, nilai-nilai dan fungsi sosialnya


[disadap hanya sebagian]

Tuesday, November 11, 2008

PINTU MASUK DUNIA FILSAFAT: Dr. HARRY HAMERSA


Mempelajari filsafat orang mengatakan susah, mendengar kata filsafat gudah gelisah, kini tentunya berbeda. Banyak kunci masuk filsafat dengan mudah. Studi filsafat seakan berangkat wisata ke sebuah pantai indah yang belum terjamah, orang boleh memberikan makna apa saja. Tidak ada batas yang hitam dan putih, yang ada hanya tajamnya sebuah refleksi. Memang filsafat sering dimitoskan sebagai materi kuliah yang sangat sulit, dan setiap orang harus memiliki talenta belajar yang khusus. Itu semua tidak selalu benar. Siapa saja tanpa mengenal perbedaan, apakah bertalenta, atau bukan, mempelajarai filsafat itu mudah. Karl popper pernah memotivasi kita melalui kata-kata. Semua orang adalah filsuf, termasuk kita semua.
Data Buku
JUDUL: Pintu Masuk Dunia Filsafat
PENULIS: Dr. Harry Hamersma
PENERBIT: KANISIUS. Jl. Cempaka 9 Deresan, Yogyakarta 55281 Kotak Pos 1125/YK. Yogyakarta 55281. Website: www.kanisiusmedia.com. E-mail: office@kanisiusmedia.com
ISBN: 978-979-413-188-6
CETAKAN: Edisi pertama terbit tahun 1981 [hingga cetakan ke - 23]
Edisi kedua tahun 2008
TEBAL : 80 halaman

Sampul belakang buku bertutur. Jika Anda ingin mencicipi dan berkenalan sejenak dengan ilmu pengetahuan yang disebut filsafat, yang kon adalah "ibu segala ilmu", buku ini adalah pintu masuk yang tepat. Dengan cara bertutur yang padat dan enak dibaca. Harry Hamersma akan menutun Anda dalam sebuah wista singkat intelektual yang penuh daya pikat.
Yang dibahas buku ini antara lain:
  • Filsafat dan ilmu pengetahuan
  • Ikhtisar sejara filsafat
  • Cabang-cabang filsafat
  • Mengapa belajar filsafat
  • Tugas filsafat menurut filsuf-filsuf
  • Petunjuk-petunjuk studi filsafat
Buku ini membedakan antara filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai berikut
FILSAFAT:
Filsafat adalah pengethuan metodis , sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan

ILMU PENGETAHUAN:
Ilmu pengetahuan adalah pengethuan metodis, sistematis, dan koheren [bertalian] tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan

MENGAPA ORANG BERFILSAFAT
Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat: keharanan, kesangsian dan kesadaran keterbatasan.

Keheranan:
Banyak filsuf menunjuk rasa heran [Yunani : thaumasia] sebagai asal filsafat. Plato, misalnya, mengatakan: "MAta kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat."Pada kuburan Immanuel Kant [1725-1824] tertulis "coelum stellum suora me, lex moralis intra me". Kedua gejala yang paling mengherankan, menurut Kant, adalah "langit berbintang di atasnya" dan "hukum moral dalam hatinya"

Kesangsian:
Filsuf-filsuf lain seperti Augustinus [354-430] dan Descartes [1596-1650], menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran kemudian ia ragu-ragu. Apakah ia tidak ditipu oleh pancainderanya kalau ia heran? Apakah kita tidak hanya melihat yang ingin kita lihat? Di mana dapat di temukan kepastian, karena dunia ini penuh macam-macam pendapat, keyakinan dan intepretasi? Sikap ini, sikap skeptis[Yunani: penyelidikan], sangat berguna untuk menemukan suatu titik pangkal yang tidak da pat diragukan lagi. Titik pangkal ini dapat berfungsi sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut.

Kesadaran akan keterbatasan:
Filsuf-filsuf lainnya lagi mengatakan bahwa manusia mulai berfilsafat ketika ia menyadari betapa kecil dan lemah dirinya bila dibandingkan dengan alam semesta sekelilingnya. Semakin manusia terpukau oleh keterhinggaan sekelilingnya, semakin ia heran akan eksistensinya. Dengan keterbatasan itu manusia terdorong untuk berupaya mengatasi segenap kegagalan, kelemahan atau problema lainnya.

Cabang Filsafat:
Cabang-cabang filsafat menurut buku ini terbagi atas empat kelompok yakni:
  1. Filsafat tentang pengetahuan yang terdiri dari[ epistemologi, logika, dan kritik ilmu-ilmu]
  2. Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, yang terdiri dari metafisika umum [ ontologi] dan metafisika khusu [teologi metafisik, antropologi, kosmologi]
  3. Filsafat tentang tindakan, yang terdiri dari etika dan etestika;
  4. Sejarah filsatat
Buku ini juga membentangkan ikhtisar sejarah filsafat, juga meneropong bagaimana implementasi filsafat dalam praktik.

Sunday, November 2, 2008

HAKIKAT TEKNOLOGI

Dalam mengkaji Filsafat Ilmu, dapat dipastikan akan terhubung dengan teknologi, maknanya ketika seorang-orang melakukan perenungan lebih mendalam, maka akan menemukan bahwa teknologi adalah anak kandung dari filsafat ilmu.
Gudang ini merasa perlu mengangkat hakikat teknologi, karena masih banyak ditemui pemahaman yang masih karut marut. Gudang telah mempersiapkan SARING-Sadapan Ringkas,. Terkait dengan hakikat teknologi, namun untuk kali ini, tidak diambil dari buku filsafat. Materi dari buku ”Etika dan Teknologi”. Urgensi pengambilanitu, karena keinginan mendekatkan teknologi dengan value-valuenya. Tetapi jika dicermati lebih mendalam maka buku ini dapat juga diketegorikan sebagai buku filsafat ilmu, karena dalam kaidah filsafat ilmu itu, pilar ketiganya adalah pencermatan terhadap nilai-nilai [value]—”Axiologi”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketika etika difungsikan untuk meneropong sebuah teknologi, mulai dari aplikasi dan dampak yang ditimbulkannya, maka kita telah masuk kubangan filsafat ilmu. Di sinilah teknologi sebagai anak kandung disentuhkan dengan ibunya, yakni filsafat ilmu.
[catatan : pada bulan Oktober yang lalu seorang kawan menginginkan pembahasan terkait dengan ranah teknologi, mudah-mudahan bahasan ini cukup mengobati]
Data Buku:
JUDUL : Etika dan Teknologi
PENULIS: Ir. Herus Santosa, M.Hum
PENERBIT : Tiara Wacana. Jalan Kaliurang Km. 78, Banteng , Sleman Yogyakarta. Telp./Fax. 880683. http://www.tiarawacana.co.id/
E-mail: yogya@tiarawacana.co.id
ISBN: 979-1262-04-7
TEBAL : xviii+189 halaman

SARING—SADAPAN RINGKAS
Hakikat Teknologi:
Teknologi bukanlah sekedar produk ilmu pengetahuan beserta temuan-temuannya yang berupa mesin, pesawat, reaktor, ataupun fasilitas fisik lainnya yang serba canggih, melainkan juga termasuk sistem organisasi, struktur sosial beserta kekuasaan yang terlintas padanya.
Menurut Kunto Wibisono:
”Merupakan hasil penerapan secara sistematik ilmu pengetahuan, sebagai suatu himpunan rasionalistik empirik dari berbagai komponen pendukungnya, dengan maksud hendak mengusai atau mengendalikan gejala-gejala yang dihadapinya melalui proses produktif secara ekonomis.”

Karakter Teknologi:
Ada beberapa karakter teknologi :
Pertama: teknologi pada hakikatnya adalah ”tangan” untuk melaksanakan kekuasaan yang dimiliki ilmu, hal ini harus disadari oleh manusia. Teknologi dihasilkan dari penerapan ilmu yang sudah mengalami penelitian dan pengembangan lebih lanjut hingga manfaatnya menjadi jelas bagi kehidupan manusia/.

Kedua: teknologi bersifat dialektik, artinya teknologi dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia, akan tetapi pemecahan masalah tersebut menimbulkan permasalahan yang baru , dan permasalah yang baru ini harus dipecahkan dengan teknologi yang baru pula.

Ketiga, teknologi memerlukan energi yang sangat besar. Pada umumnya, di negara-negara industri maju, konsumsi energi perkapita sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara yang laju konsumsinya rendah. Sehingga tampak adanya korelasi antara pendapatan nasional bruto [GNP] dengan konsumsi energi

FILSAFAT TEKNOLOGI?
Filsafat teknologi adalah salah satu cabang filsafat khusus yang melakukan analisis filsafat tentang teknologi dan berbagai unsur serta seginya.
Menurut salah seorag tokoh pelopor filsafat teknologi Carl Mitcham [1980:305], persoalan-persoalan filsafat tentang teknologi ada dua jenis, sebagai berikut:

Jenis Pertama:
”menyangkut soal-soal teoritis tentang sifat dasar teknologi, hubungannya dengan ilmu, struktur tindakan teknologi, intisari mesin, dan perbedaan mesin dengan manusia

Jenis Kedua:
”bersifat praktis, menyangkut persolan-persoalan etis mengenai keterasingan dalam masyarakat industri, senjata nuklir, pencemaran dam parktik keinsinyuran yang profesional
Filsafat teknologi Menurut Mario Bunge
Filsafat teknologi dapat dipandang sebagai gabungan dari lima cabang filsafat yang masih merupakan kuncup bunga yang hampir mekr,--Mario Bunge [1979:72] menjelaskan:
  1. technoepistemology
  2. technometaphysic
  3. technoaxiology
  4. technoethics
  5. technopraaxiology

Technoepistemology:
Adalah telaah filsafat tentang pengetahuan teknis. Persoalan yang dibebaskan, antara lain adalah membedakan pengetahuan teknologi dan pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah, atau metode teknologi yang sejajar dengan metode ilmiah serta aturan-aturannya

Technometaphysic:

Adalah telaah filsafat tentang sifat dasar sistem-sistem buatan dari mesin-mesin sederhana sampai sistem-sistem barnag manusiawiyang rumit. Persoalan yang dibahasnya antara lain adalah prasyarat-prasyarat ontologis dari teknologi atau kekhasan dari semua barang teknologi yang membedakannya dari benda-benda alamiah

Technoaxiologi:
Adalah telaah filsafat tentang penilaian yang dilakukan oleh para ahli teknologi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan teknologi mereka. Persoalan yang dibahasnya, antara lain adalah, nilai-nilai yang dipegang oleh para ahli teknologi kognitif, moral, ekonomi, sosial atau politis dan petunjuk-petunjuk niali nilai teknologi yang paling dapat dipercaya; Perbandingan kemanfaatan atau biaya, pemasaran kebutuhan sosial atau lainnya

Tecnoethics

Adalah cabang etika yang menyelidiki pokok-pokok pertikaian moral yang dihadapi oleh para ahli teknologi dan masyarakat umum dalam hubungannya dengan dampak sosial dari proyek-proyek teknologi yang berskala besar

Technopraxiologi

Adalah telaah filsafat tentang tindakan manusia yang dibimbing oleh teknologi. Persoalan yang dibahasnya, antara lain mengenai konsep tindakan rasional yang dapat diwujudkan secara pasti ata bagaimana seorang dapat ,erumuskan dalam istilah istilah umum, derajat efisiensi dari suatu sasaran terhadap suatu tujuan.