Cari Sesuatu ?

Google

Saturday, August 21, 2010

FILSAFAT ILMU - DARSONO PRAWIRONEGORO


Wednesday, May 12, 2010

FILSAFAT JIWA DAN FILSAFAT ILMU

Penulis buku ini ingin mendialogkan antara filsafat jiwa dengan filsafat ilmu kontemporer pasca reduksionis.

Tuesday, April 27, 2010

ILMU USHUL FIQIH DI MATA FILSAFAT ILMU

Buku ini ingin memaparkan dimensi epitesmologi (metodologi keilmuan) sebagai salah satu pilar keilmuan untuk meneropong atau dengan istilah cantiknya mendiskusikan jatidiri ILMU USHUL FIQIH. Filsafat ilmu telah mematok harga, bahwan suatu ilmu dikatakanOntologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui. Apa yang ingin diketahui oleh ilmu? atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telah ilmu atau disebut ilmu jika memiliki tiga kerangka dasar ilmu, (ontologi, epistemologi, dan aksiologi) .
Ontologis meneropong:
  • Obyek apa yang ditelaah ilmu Ushul Fiqh ?
  • Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek ilmu Ushul Fiqh?
  • Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia [seperti berpikir, merasa dan mengindera] yang membuahkan pengetahuan.

Buku ini memberikan jawaban secara ontologis Ilmu Ushul Fiqh memiliki obyek telaah bagaimana manusia menangkap hukum Allah, dan bagaimana segenap persoalan serta cara-cara memahami maksud Tuhan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dengan menitik beratkan pada kodrat dan martabat. Aksiologi adalah wilayah yang membicarakan kegunaan ilmu, dan nilai-nilai.

Selanjutnya telaah diarahkan kepada teropongan aksiologi (kegunaan ilmu). Sedikitnya ada tiga pertanyaan terkait dengan aksiologi:

  • Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu Ushul Fiqh itu dipergunakan ?
  • Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah moral ?
  • Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

Buku ini memberikan jawaban bahwa secara aksiologi ilmu ushul fiqh mengantarkan manusia agar memahami maksud Tuhan, sehingga mendapatkan kebahagiaan di dumia dam kahirat.

Kemudian bagaimana pembahasan terkait dengan Epistemologi?

Landasan epistemology tercermin secara operasional dalam metode ilmiah . Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan :

  • Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun;
  • Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka tersebut dan
    Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud dengan menguji kebenaran pernyataan secara factual.

Buku ini telah memberikan jawabnya.(sila membaca lajut dalam buku aslinya)

Catatan: [Buku semacam ini telah lahir banyak sekali, ketika dan transformasi berani dari berubahnya IAIN menjadi UIN. Tradisi keilmuan terbuka lebar dan beberapa informasi bergulat tan filter lagi. Sekarang metode Hermeneutika mendapat tepat. Tentunya hal ini penuh perdebatan seru antara setuju dan menunggu]

JUDUL: Ilmu Ushul Fiqh
PENULIS: Dr. Muhyar Fanani
PENERBIT: Walisongo Press. Jl. Walisongo No. 3-5 Semarang 50185 Telp: (024) 7615923; 081325639165
ISBN: 978-979-1596-68-8
TEBAL: xii + 180 halaman;14 x 20 cm
CETAKAN: Nopember 2009. Cetakan I
[]

Tuesday, March 16, 2010

FILSAFAT ILMU: ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI, DAN LOGIKA ILMU PENGETAHUAN

Sebelumnya telah diterbitkan (2007-2008) dengan judul Filsafat Ilmu dan Logika. Pada penerbitan ini, judul diubah sesuai dengan isi yang terdapat didalamnya, sehingga judul yang dipilih adalah, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan. Judul ini menurut penulisnya dianggap tepat dan lengkap karena judul menyerminkan landasan utama dalam membahas filsafat ilmu, melalui empat pilar utamanya. Terkait denganjudul bahasan berpusar pada Bab keempat, bab kelima dan bab ketujuh.
Bab keempat, menjelaskan tentang landasan penelaahan ilmu, dan yang dibahas meliputi ontologi, epistemologi, aksiologi, yang selanjutnya dikaitkan dengan signifikansi ilmu pengetahuan kembali ke filsafat. Selanjutnya bab empat ini juga membentangkan relevansi Ontologi, Epitemologi dan Aksiologi dengan Ilmu Politik. Relevansi Ontologi, epistemologi dan aksiologi juga dikaitkan dengan Ilmu antropologi. Gudang filsafat ini tertarik untuk membahas kedua relevansi tersebut.
Bab kelima, menjelaskan tentang struktur atau bangunan ilmu pengetahuan terdiri dari: metode ilmiah; teori; hipotesis; logika, data informasi, pembuktian, evaluasi dan paradigma
Bab ketujuh membahas tentang logika ilmu dan metode berfikir dan metode ilmiah, engertian metode berfikirbilmiah logika, pengertian logika dan penlaran ilmiah, macam-macam logika, kegunaan logika, bahasa keilmuan, model dan kriteria motode berfikir ilmiah, metode berfikir rasional: asas dalam berpikir, serta hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode rasional.
RELEVANSI ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI TERHADAP ILMU POLITIK DAN ANTROPOLOGI.
Buku ini mengangkat Relevensi pilar keilmua Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dikaitkan dengan Ilmu Politik dan Antropologi, tentunya memiliki alasan kuat mengapa hanya dikaitkan dengan Ilmu Politik dan Antropologi?
Gudang Filsafat ini memandang bahwa buku ini sengaja dirancang untuk kebutuhan pembelajaran mahasiswa di departemen Antropologi dan Ilmu-ilmu Politik. Barangkali inilah yang mendorong diunggahnya relevansi Antropologi dan Ilmu Politik terhadap pilar keilmuan (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi).
Selanjutnya tingkat relevansi diurai jelas sebagai berikut:
Dasar ontologi ilmu. Pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu politik. Adapun...belum tuntas.
Data buku
JUDUL: Filsafat Ilmu : ontologi, Epistemologi ,Aksi0ologi dan Logika Ilmu Pengethauan
PENULIS: Drs.H. Muhammad Adib, MA
PENERBIT: Pustaka Pelajar Celeban Timur UH III/548 Yogyakarta 55167. tELP: (0274) 381542. E-mail; pustakapelajar@telkom,net
ISBN: 978-602-8479-93-6
TEBAL: xxv + 280 halaman; 21 cm
CETAKAN: Edisi ke 2 Cet Pertama Pebruari 2010
[]

FILSAFAT ILMU

Buku ini didesain sebagai wacana filsafati untuk siapa saja yang tertarik untuk mengembangkan wawasan filsafati. Tidak ada segmen khusus, namun bagi siapa saja yang sesungguhnya berminat di ranah filsafat utamanya filsafat ilmu, buku ini akan memberikan bantuan. Melalui buku maka refleksi pikir yang mendasar dan integral terkait hakikat ilmu pengetahuan akan mudah dipahami. Dengan tidak terasa akan trampil dalam menilai metode-metode pemikiran ilmiah, sekaligus juga akan memproses sikap ilmiah. Materi dalam buku ini disusun berdasarkan pendekatan/sistematika filsafat ilmu :Ontologi, Epistemologi, dan aksiologi. Adapun cakupan meteri yang dibentangkan buku ini antara lain:
  • Sejarah perkembangan ilmu
  • Filsafat, ilmu dan filsafat lmu
  • Dasar-dasar pengetahuan
  • Dimensi Keilmuan
  • Sarana berfikir ilmiah
  • Ilmu dan teknologi
  • Ilmu dalam strategi insani
[]. CATATAN RINGAN YANG MEMBANTU.
(Manfaat mempelajari filsafat)
  • Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berpikir lebih mendalam, kita mengalamai dan menyadari kerohkanian kita. Rahasia hidup yang kita selidiki justru memaksa kita berpikir, untuk hidup dengan sesadar-sadarnya, dan memberikan isi kepada hidup kiota sendiri.
  • Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari. Orang yang hidup secara dangkal saja, tidak mudah melihat persoalan-persoaln, apalagi melihat pemecahannya. Dalam filsafat kita dilatih melihat lalu apa yang menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat mutlak untuk memecahkannya
  • Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung akuisme dan akusentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku)
  • Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri, hingga kita tak hanya ikut-ikutan, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, mempunyai pendapat sendiri, berdiri sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.
  • Filsafat memberikan dasatr-dasar, baik untuyk hidup kita sendiri (terutama dalam etrika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa,ilmu mendidik, dll
(Manfaat mempelajari filsafat ilmu)
Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. Maknanya seorang ilmuwan harus memilki sikap kritis terhadap bidang ilmunya sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solipistik, yakni menganggap hanya pendapatnya yang paling benar
Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengritik asumsi dan metode keilmuan. Sebab kecenderungan yang terjadi di kalangan para ilmuwan menerapkan suatu metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmuu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang sesuai diperlukan di sini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai yang sesuai dengan struktur ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya.
Data buku
JUDUL
(Belum tuntas)

Wednesday, February 10, 2010

DIALOG EPISTEMOLOGI

Buku mendialogkan dua pemikir Mohammad Iqbal dan Charles S. Peice. Epistemologi adalah materi yang didialogkan. Ketajaman kedua pemikir itu memilki citarasa yang berbeda ketika melihat epistemologi dari berbagai dimensi. Dalam buku ini kedia pemikir mengritisi para filsuf terdahulu dalam memandang ilmu, sekaligus juga mempertontonkan kelemahan-kelemahan para pemikir pendahulunya. Dengan lantangnya mulai Plato, Rene Decartes hingga Imanuel Kant dikritisi.
SIAPA MOHAMMAD IQBAL DAN CHARLES S.PIERCE ?
Mohammad Iqbal (1876-1983)
Lahir pada 24 Dzulhijah 1289 atau 22Pebruari 1873 di Sialkot Punjab dan meninggal pada 20 April 1938. Berasal dari keluarga kasta Brahma Kasymir. Iqbal adalah seorang agamawan yang salih dan filsuf cemerlang yang menghayati tradisi intelektual muslim dan pemikiran modern. Iqbal mendalami prinsip-prinsip dasar serta ide-ide modern fisika, biologi, dan hidup sosial. Disamping agamawan juga dikenal sebagai seorang eksitensialis karena pemikiran-pemikirannya. Epistemologi Iqbal termasuk dalam tipe modern karena epistemologinya lebih menekankan pada "Teori Ilmu Pengetahuan" dan "Sumber-sumner ilmu"
Charles S.Pierce (1839-1914)
Dikenal sebagai perintis dan tokoh utama aliran filsafat pragmatisme. Pierce juga termasuk salah satu pioner dalam logika matematika abad ke-19. Secra profesional, ial adalah seorang ilmuwan praktisi: ahli geodesi, astronomi, dan kimia. Epistemologi Peirce berlatar belakang prgamatis dan ahli logika, epistemologinya banuak disampaikan melalui mlogikanya, oleh karenanya epitemologi Pierce digolongkan sebgai epistemologi kontemporer
PIKIRAN IQBAL:
  • Ilmu pengetahuan merupakan kekuatan jika disertai tindakan. Kekuatan inilah yang memberi bentuk pada lingkungannya
  • Menemukan bahwa diri manusia itu sendiri terdapat seperangkat alat yang berfungsi untuk memperoleh ilmu pengetahuan, seperti pancaindera, akal dan intuisi.
  • Menekankan pada "asal-usul ilmu" dan daya tangkap manusia dalam memperoleh ilmu, seperti negindera, berpikir, dan merasa.
  • Sering menggunakan istilah akal dengan kata reason, thought, dan intelect. Intellect (akal) bagi Iqbal adalah suatu keniscayaan karena dia akan memformulasi ide-ide, memegangi maknanya, mengakses manfaatnya, membuat, menguji dan melaksanakan rencana-rencana.
  • Berusaha memadukan antara pancaindera, akal, dan intuisi
  • Alam dalam pandangan Iqbal merupakan kosmos dari kekuatan yang saling berhubungan. Hendaknya, ilmu dinilai dengan konkret. Hanya kekuatan intelektual yang menguasai, yang konkretlah yang akan memberi kemungkinan kecerdasan manusia manusia melampaui konkret.
  • Pada era modern, pengetahuan harus bersandar pada pengalaman indera, tetapi untuk mencapai wahyu, secara langsung tidak dapat dilakukan melalui panca indera dan rasio, tetapi harus melalui pengalaman yang khususyang disebut intuisi. Melalui intuisi manusia dapat menangkap dan meamahami realitas mutlak.
Telah membedakan fungsi intuisi dan indera, serta akal yang melahirkan ide, bahwa yang pertma memiliki fungsi metafisik-teologis, sedangkan dua terakhir memiliki fungsi epistemologis
Sumbangan Pikiran Pierce:
Kebenaran trnsendental (Trancendental Truth), kebenaran yang berada secara inherent dalam setiaqp setiap sesuatu "sebagai sesuatu itu sendiri"(Think As Think). Kebenaran merupakan karakter real (real character) yang dimiliki oleh ssesuatu obyek, baik diketahui maupun tidak.
  • Kebenaran komplek (Complex truth) yang berupa kebenaran-kebenaran proporsional. Jenis ni dapat dibagi menjadi jenis-jenis yang lebih rinci, seperti kebenaran etik (ethical truth) atau Veracity yang berdasar pada kesesuaian sebuah proposisi denga keyakinan seorang pembicara (atau penulis). serta kebenaran logis (logical truth) yang kriterianya adalah kesesuaian sebuah proposisi terhadap realitas.
  • Ilmu pengetahuan digambarkan sebagai pencarian manusia yang memiliki karakter khusus, ketika kejujuran terus menerus menampakkan diri, seperti metabolisme dalam tubuh dan tumbuh: Science as pursuit of living men, and that its most marked characteristic is that when it is guine, it is in an incessant state of matebolishm and growth"
  • Ilmuwan harus m,enjadi orang tulus, baik terhadap diri sendiri maupun ornag lain. sementara cintanya terhadap kebenaran lambat laun menjadi satu hingga ia menjadi orang jujur dan terbuka: A Scientific man must be singgle minded and cincere with himself. Otherwise, his love of truth will melt away, at once. He can therefore, hardly be otherwise than an honest, fair-minded man.
  • Kemajuan nyata dari ilmu pengetahuan bergantung, baik pada praksis ilmiah maupun pada ide-ide spekulatif. Idealisme tidak menjadikan teorinya sebagai pokok kemajuan ilmiah, sedangkan materialisme tidak meningkatkan praksisnya dengan teori-teori yang berarti.
  • Teori yang baik harus mengarah pada penemuan-penemuan fakta-fakta baru dan konsekuensi pemikiran yang sungguh-sungguh logis dan terbuka untuk pengujian dalam rangka konsekuensi-konsekuensi yang dapat diramalkan.
  • Konstruksi logika Peirce bertumpu pada tiga macam argumen, yaitu ninduksi, deduksi, dan abduksi.
  • Kebenaran sebuah teori betapa pun baiknya harus tetap diterima secara tentative, dalam arti kebenarannya dapat diterima sepanjang belum ditemukan teori lain yang lebih powerful. Prinsip bahwa sebuah teori tidak boleh diperlakukan mutlak, a priori dan hanya bersifat tentative, dikenal dengan prinsip Fallibilism
  • Bahwa pengetahuan ilmiah bukabnlah sesuatu yang pasti sempurna dan melampui pencaian obyeknya. Ilmu pengtahuan tidak pernah mencapai formulasi yang final absolut mengenai alam semesta.
  • Fallibilism bukan rasa tidak percaya terhadap pengetahuan ilmiah, tetapi diwataki oleh keyakinan argumentasi, bahwa pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang terbaik yang kita miliki, dan bahwa metode ilmiah, hanyalah metode yang dapat dipercaya untuk menetapkan.
PEIRCE filsafat dan ilmu pengetahuan:
Pertama: metode itu akan memberiarti pada ide-ide filosofis dalam rangka ekperimen
Kedua: menyusun dan memperluas ide-ide dan kesimpulan sampai mencakup fakta-fakta baru.
Data buku
JUDUL: Dialog Epistemologi Mohammad Iqbal dan Charles S. Pierce
PENULIS: Dr. Rodliyah Khuza'i M.Ag
PENERBIT: PT Refika aditama. Jl. Mengger Girang No. 98. Bandung 40254. Telp: [022-5205985. E-mail: refika@rad.net.id.
CETAKAN: Pertama; Januari 2007
ISBN: 979-1073-30-9
TEBAL: xvii + 176 halaman
Bab yang dibahas:
  • Epistemologi Modern dan Kontemporer
  • Latar Belakang Sosial Politik Intelektual di India dan Amerika Abad ke 19
  • Konstruksi Pemikiran Epistemologi M. Iqbal dan Charles S. Pierce
  • Logika Intuitif Versus Logika Ilmiah

Thursday, February 4, 2010

INTEGRASI ILMU DAN AGAMA

"Hubungan ilmu dan agama, baik dalam ranah ontologis, epistemologis maupun aksiologis selalu menyisakan persolan yang tidak pernah selesai dibicarakan"
Buku ini berusaha menjawab hubungan ilmu dan agama melalui pendekatan filosofis, karena menurut pendapat [penulis buku ini, filsafatlah yang secara netral dan proporsional dapat menjembatani sekaligus mempertemukan dua domain ini. Buku ini akan menjawab dua pertanyaan pokok: 1). Bagaimana konsep hubungan ilmu dan agama ini dibicarakan secar5a akademik, dan 2). bagaimana ahkikat integrasi ilmu dan agama baik dalam ranah ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Dalam mengekplorasi hubungan ilmu dan agama ini, penulis menggunakan pandangan-pandangan seorang pemikir Islam kelahiran Persia, Yaitu Mulla Sadra (1572-1641).
pemikiran Mulla Sadra, sebagai bagian dari fragmentasi perkembangan pemikiran Islam, secara cerdas dan jernih menempatkan kedudukan ilmu dan agama pada posisi yang sangat harmonis. Tidak salah tentunya apabila ada ungkapan bahwa kemajuan pemikiran Islam terjadi manakala agama secara mutualis menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu. Agama bukan perkembangan ilmu sebagaimana terjadi di Barat tetapi justru merupakan pendorong sekaligus ruh bagi karakteristik keilmuan Islam.
ILMU DAN AGAMA SALING SAPA:
Ilmu dan Agama, tidak ada yang dapat diperbandingkan satu dengan yang lain dan keduanya tidak dapat ditempatkan pada posisi bersaing atau konflik.
Pendukung pendekatan ini menekankan bahwa permainan yang dimainkan ilmu menguji dunia natural, sedangkan permainan agama ialah mengungkapkan makna melampaui dunia nautral. Ilmu memusatkan perhatian bagaimana segala sesuatu terjadi di alam ini, sedangkan agama pada mengapa sesuatu itu terjadi dan ada (eksis). Ilmu berurusan dengan sebab-sebab, sedangkan agama makna. Ilmu berurusan dengan berbagai masalah yang dapat dipecahkan, sedangkan agama berurusan dengan misteri yang tidak mudah dipecahkan. Ilmu berusaha menjawab berbagai persoalan menyangkut cara kerja alam, sedangkan agama berurusan dengan landasan akhir alam. Ilmu memberi perhatian kepada kebenaran partikular sedang agama tertarik untuk menjelaskan kebenaran universal.
Ilmu dan agama mempunyai bahasa sendiri karena melayani fungsi yang berbeda dalam kehidupan manusia, agama berurusan dengan nilai dan makna tertinggi, sedangkan ilmu menelusuri cara benda-benda dan berurusan dengan fakta obyektif, agama rentan dengan perubahan karena sifatnya yang deduktif, sedangkan ilmu setiap saat bisa berubah karena sifatnya yang lebih induktif. Ilmu dan agama adalah dua domain independen yang dapat hidup bersama sepanjang mempertahankan "jarak aman" satu sama lain. Ilmu dan agama berada pada posisi sejajar dan tidak saling mengintervensi satu dengan yang lain.
KACAMATA PANDANG MULLA SADRA:
Dalam menyelami antara ilmu dan agama, membedakan dalam dua ranah pencermatan, pertama dilihat dari sisi wacana akademik, dan sisi lainnya dari hakikat hubungan.
[Wacana Akademik]
Dalam wacana akademik secara umum, hubungan ilmu dan agama dapat dibedakan dalam empat tipologi yaitu konflik, independen, dialog dan integrasi. Dalam tipologi konflik digambarkan bahwa oilmu dan agama sebagai dua entitas yang tidak dapat dipertemukan bahkan saling berlawanan. Kebenaran ilmu menegasikan kebenaran agama, demikian pula sebaliknya. Dalam tipologi independensi digambarkan bahwa ilmu dan agama meskipun tidak dapat dipertemukannamun keduanya tidak saling berlawanan. Tipologi ini dipandang sebagai tipologi yang cukup aman, karena masing-masing menghormati otoritas kebenaran masing-masing, sehingga tidak terjadi konflik. Namun, bagi ilmuwan yang religius, tipe ini membingungkan dan menimbulkan keputusasaan karena dalam saat yang sama ia harus menerima dua kebenaran yang berbeda/berlawanan, yaitu kebenran ilmiah yang dipahami akal dan kebenaran agama yang dipahami oleh iman.Dalam tipologi dialog digambarkan bahwa ilmu dan agama memiliki bahasa metode dan ukuran kebenaran yang masing-masing berbeda, namun tidak saling berlawanan bahkan saling mengisi dan menjelaskan satu sama lain.
REFLEKSI MULLA SADRA( KONSEP INTEGRASI ILMU DAN AGAMA)
Dalam merefleksikan integrasi ilmu dan agama, Mulla Sadra menggunakan pendekatan Otologis, Epistemologis dan Axiologis.
Konsep Ontologis:
Konsep Epistemologis
Konsep Exiologis [Belum tuntas]
Data buku
JUDUL:Integrasi Ilmu dan Agama Perspektif Filsafat Mulla Sadra
PENULIS: DR.Arqom Kuswanjono
PENERBIT: Badan Penerbit Filsafat UGM d/a Gedung Unit C, Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jl. Olahraga Bulaksumu Yogyakart. Telp. 0274-901193. E-mail: BPFU@Filsafat.ugm.ac.id Dan Penerbit Lima d/a RT08/40 KD II Jaranan, Bangun Tapan Bantul, Yogyakarta 55981 Telpon +628121588233 E-mail: Lima_bookmaker@yahoo.co.id
ISBN: 978-979-25-3687-4
TEBAL: vii + 184.
[]
CETAKAN: I Januari 2010