Cari Sesuatu ?

Google

Saturday, June 23, 2018

POSTMO FILATELIA


POSTMO-FILATELIA
Oleh Djoko Adi Walujo
Kreativitas sulit dibendung apaladi dizaman yang penuh dengan derasnya arus teknologi. Teknologi mampu menggerus apa saja, dan mampu mempoleferasi apa saja. Kemajuan teknologi informasi yang secara bersamaan memunculkan media sosial yang dahsyat membuat semua yang nyaman menjadi goyah. Zaman yang sekarang disebut dengan era disruption dengan mudah disebut pula sebagai  era penggoda. Tahta yang sulit dijamah mudah patah, tiada lagi dinasti, semua menjadi rentan terhadap perubahan. Semua relung aktivitas manusia tidak memiliki daya tangkal menghentikan kecuali daya adaptasi yang mampu mengawal eksistensi. Termasukjuga domain hobi, kini hobi menjadi berkembang baik kualita dan kuantitanya. Dulu swap benda-benda filetali penuh dengan aleta yang menutupi, hanya berbekal sebuah ceruta tanpa melihat visual, kini sekarang menjadi terang benderang bahkan real time.
     Exibition fileteli dulu terhitung dengan durasi  tahunan baru dapat terselenggara, bahkan harus menyiapkan properti yang begitu lama, kini setiap detik orang bisa memamerkan karena wahana sudah tersedia dengan percuma. Pameran filateli seakan nir biaya, karena aplikasi komputer mengundangnya. Seorang filetelis bisa pamer diberbagai belahan dunia, tanpa harus datang membawa benda-benda filateli kesayangan. Seorang filatelis bisa berpamer ria dalam waktu yang bersamaan pada domain yang berbeda. Mereka bisa berpamer di media sosial yang menjadi pilihannya, namun juga bisa semua digunakan. Hari ini pamer di dinding Facebooknya, besuk sudah pindah di Instagramnya, dan secara bersamaan berpamer di Piterest.
Lembaga filatelis yang cukup wibawa akan serta merta pudar dan terkubur bersama aturan detil yang dimiliki dan sudah lama bertahta. Aturan filatelis lama lama terlanggar oleh kemajuan teknologi. Dulu dalam exibisi ada aturan ketat bagaikan menyusun sebuha tesis atau desertasi, sekarang berubah menjadi tema-tema yang lebih detil dan sesuai perkembangan zaman. Sensasi kejadian juga mengundang tema untuk merespon dengan cepat dan kecanggihan desain yang sangat canggih dan cepat.
Tema prangko yang menghadirkan tokoh-tokoh kendati sekarang masioh eksis, namun muncul pula postmo feletelia, yang tema prangko yang menuruti pasar dan kekinian. Tiba tiba secara mendunia muncul tema Hello Kitty, Tintin, Wonder Women, Superman, Ultraman dll. Belum lagi muncul prangko prisma yang sangat privasi sekali
Kini seorang filetelis sedang diuji, jika kekeh dan maladaptip, berarti tertinggal dengan kemajuan.
Kini muncul juga berbagai kelompok atau komunitas pecinta prangko secara maya, lalu muncul  komunitas posttcrossing, bahkan masih banyak lagi yang sifatnya sangat mendunia.
Saya secara pribadi tidak ingin lebih dari ranah kemajuan ini, dan saya menamakan sekaligus mendeklarasikan sendiri sebagai penganut POSTMO-FITELA sebuah terminologi yang saya buat sendiri. Inilah saya yang ingin berbeda tapi masih menghormati pada mereka yang juga berbeda. Salam semoga semuanya bahagia.        

Tuesday, April 3, 2018

Episteme selalu berbicara dihoti (mengapa) bukan hanya hoti (tentang apa)


Dalam berpikir episteme pengetahuan tidak hanya mengajarkan kita berpeikira sekedarnya, atau aladarnya.  Episteme mengajarkan kita untuk menghindari Claim of truth yang hanya sepihak tanpa membiarkan otak manusia bersetuhan langsung  luas dengan horizon tanpa batas.
     Farancis Bacon memperigatkan kita, tak boleh menjadi manusia picik hanya berada didalam gua yang sepi dan zone terseteril lingkungan, namun harus membuka diri dengan daya nalarnya. Francis mengingatkan jangan seperti “katak dalam tempurung”, hindari idola sesat yang membuat pikiran terpuruk, hanya menjadi obyek, tapi tak menjadi obyek yang sekaligus subyek. The Idols of Cave, demikian kata Bacon, sebuah idola yang membuat karya pikir manusia tergurus pada pembenaran diri dengan super ego yang amat kental. Ketika kita menuruti pikiran itu, maka kemapuan dalam memahami fakta lemah, pemahaman logika acap sesat (fallacy), lalu analisis kita tumpul, dan pada akhirnya kemampuan evaluasi menjadi runyam. Inilah solipsistik atau dalam frasa Jawa dikenal dengan  nggungu karepe dewe” lalu menganggap dirinya paling benar  “ nggugu benere dewe”.
Kita diharapakan untuk tidak tidah berpangku pada “tentang” yang dalam bahasa Yunani tertulis “hoti”, namun kita harus selalu menanyakan lebih dalam yakni “mengapa” atau dalam bahasa Yunani “dihoti”. Itulah harapan episteme untuk berpikir secara radikal dan holistik.     
Bepikir radikal itu sesungguhnya akan menguliti sebuah masalah sampai akar-akarnya, tidak sekedar “surface” (permukaan), gali sedalam dalamnya. Benar kita tidak hanya ‘Quod” yang dalam bahasa latin berarti hanya perkir terbatas pada “tentang” saja,  seharusnya lepas dari keterkungkungan  ke arah “propter quod” yakni pola pikir yang terus menerus mengawal menuju kedalaman. Holisitik menyeluruh yang sangat diharapkan dalam berpikir kita, tidak atomistik alia terkotak kecil.
Orang Jawa dengan pikiran sederhana sering berucap, “jembarna pikiranmu” (luaskan pikiranmu:Jawa), lalu masih diikuti sikap rendah hati (humble).
Kemudian untungnya apa dalam epistemologi menyarankan berpikir sedalam-dalamnya? Tentu mengarahkan kita tidak mudah dan sepat memvonis, dan jauh dari sifat berbicara tanpa fakta, atau menggunjing karena data yang kering. Di sinilah episte menjadi sebuah metoda pengetahun untuk meneropong segala permasalahan selalu tidak terburu-buru.    
   

Saturday, March 17, 2018

NILAI AKSIOLOGIS DI ERA ABUNDANCE

Memanfaatkan Era Abundance . (Opini pagi - djoko adi walujo).

Era abundance, semuanya menjadi berkelimpahan, data dan informasi lengkap beserta visualisasi yang jelita tersedia cuma cuma di dunia maya. Pada era abundance ini kita diberikan kesempatan memilah dan memilih untuk kepentingan kita. Kendali pilihan juga menentukan jati diri kita, karena era yang disebut sebagai era kelimpahan ini tak terbatas kualitas dan kuantita yang disediakan. Baik yang membawa nilai nilai kebahagiaan kadang juga membawa ikutan nilai negatif. Ketika kita Ingin belajar agama sudah tersedia, juga tersedia berbagai sumber pilihan yang serba esay use juga esay touch. Namun belajar negatif juga tiada batas yang dapat kita peroleh dengan sekali sentuh. Ingin menghadirkan visual artis cantik tanpa busana dan goyangan yang menggiurkan hanya tinggal mengarahkan jari jemari kita bisa memilihnya. Di sinilah manusia mendapat manfaat sekaligus bisa menggandeng mudharat. Bagi seorang pembelajar era ini menghadirkan perpustakaan besar dirumah kita, bahkan dapat dikatakan perpustakaan seluas pulau Kalimantan bisa berada di saku kita dan selalu mendampingi kita dimana saja. Sebuah era yang mampu memperpendek waktu, tapi juga memperpendek jarak. Kita bisa bertemu dengan sang maestro dunia, kita dapat mengenal dekat profesor yang tersohor karena citra akademisnya, dan kita juga bisa dekat ribuan dan dekapan ulama besar yang kita kagumi.  

Sejatinya kita adalah kontributor
Data yang berkelimpahan di dunia itu sejatinya adalah lapangan amal kita, karena sesungguhnya adalah seorang kontributor setiap, setiap hari kita memberikan data. Tulisan kita juga memadati pustaka besar dunia yang nir batas ini, foto kita, video kita  bahkan slide pembelajaran kita juga tersimpan di almari besar dunia ini jika kita titipkan di aplikasi gratis slide share. Slide yang kita kontribusikan ternyata mampu memberikan pencerahan, itulah yang dimaksud dengan slide kita beramal. Kemudian mesin  canggih dengan artifisial inteligen itu juga mencatat secara valid karya karya kita. Kadang saya harus bersimpuh syukur karena sebuah slide saya yang amat sangat sederhana telah dilihat sebanyak 15.776  orang. Padahal hanya sebuah slide yang menurut hitungan pribadi saya berkadar remeh temeh. 

Memasang nilai etika, estetika dan aksiologi
Ketika sadar sebagai kontributor sekaligus user sebaiknya kita harus masuk pada nilai nilai spiritual yang bagus. Memasang moralitas yang dalam, mengunggulkan nilai etika, bahkan mengharuskan kita untuk berada di wilayah aksiologis. Wilayah yang memberi makna kegunaan tapi berlandaskan pada etika. Modesty adakah sebuah keluhuran yang dicatatkan bahwa kesantunan itulah merupakan puncak sebagai pengguna. 
Tentu kita harus akui banyak WA kita yang banyak menyalin data lalu meneruskan ke WA kawan, dengan mudah mengambil data di dunia maya yang nir bayar. Kita telah menjadikan diri kita sebagai user yang hanya copy-paste. Kita bangga karena tersedia di wilayah maya. Gambar yang lucu hingga visual yang menggiurkan telah kita nikmat. Setiap hari jemari kita ikut dalam festival copy pasti, meminta mesin pencari untuk searching, lalu dalam sekejap terpoliferasi ke mana~mana. 

Jangan hanya menjadi user tapi jadilah maker 


Era ini memang menyenangkan kita karena semua tersedia, namun juga melemahkan kita karena kita dipaksa dan terpaksa hanya sebagai pengguna. Inilah yang dapat menumpulkan idea dan kreativita. Padahal manusia itu ternilai dari kreativitasnya dan moralitas idealnya. Manfaatkan era ini seharusnya difungsikan untuk menarik syaraf kreativitas kita, jadikan pematik dan pemicu lahirnya karya yang Original dan novelty.

Thursday, November 23, 2017

PAHAM TEORI KEBENARAN




 Materi:
KEBENARAN
Teori Korespondensi -Teori Koherensi -Teori Pragmatis
dosen

Drs.H.Djoko Adi Walujo, S.T.,M.M.,DBA


TUJUAN PERKULIAHAN UMUM
Memahami Teori kebenaran  dalam hubungannya dengan filsafat ilmu.

TUJUAN PERKULIAHAN KHUSUS
Mahasiswa dapat mendifinisikan teori korespondensi
Mahasiswa dapat mendifinisikan teori koherensi
Mahasiswa dapat mendifinisikan teori pragmatis



TEORi KORESPONDENSI

Teori yang pertama ialah teori korespondensi [Correspondence Theory of Truth], yang kadang kala disebut The accordance Theory of Truth. Menurut teori ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian [correspondence] antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya.
a proposition (or meaning) is true if there is a fact to which it corresponds, if it expresses what is the case

[Suatu proposisi atau pengertian adalah benar jika terdapat suatu fakta yang selaras dengan kenyataannya, atau jika ia menyatakan apa adanya].

"Truth is that which conforms to fact; which agrees with reality; which corresponds to the actual situation."

[Kebenaran adalah yang bersesuaian dengan fakta, yang beralasan dengan realitas, yang serasi (corresponds) dengan situasi actual].

Truth is that which to fact or agrees with actual situation. Truth is the agreement between the statement of fact and actual fact, or between the udgment  and the environment  situation of which the judgment  claim to be an interpretation

[Kebenaran ialah suatu yang sesuai dengan fakta atau sesuatu yang selaras dengan situasi aktual. Kebenaran ialah persesuaian(agreement) antara pernyataan (statement) mengenai fakta dengan fakta aktual; atau antara putusan (Judgment) dengan situasi seputar (Enviroment situation) yang diberinya intepretasi.

if a judgment corresponds with the facts, it is the true; if not, it is false."

[Jika  suatu putusan sesuai dengan fakta, maka dapat dikatakan benar ; Jika  tidak maka dapat dikatakan salah].

Teori korespondensi ini sering dianut oleh realisme/empirisme.
K. Rogers, adalah seorang orang penganut realisme kritis Amerika, yang berpendapat bahwa : keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara  (1). "esensi atau arti yang kita berikan" dengan (2) "esensi yang terdapat didalam obyeknya".

"Epistemological realism.à The view that there is an independent reality apart from minds, and we do not change it when we come to experience or to know it; sometimes called objectivism"

[Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independence (tidak tergantung), yang terlepas dari pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahami. Itulah sebabnya realisme epitemologis kadangkala disebut obyektivisme]. Dengan perkataan lain: realisme epistemologis atau obyektivisme
berpegang kepada kemandirian sebuah kenyataan tidak tergantung pada yang di luarnya. 
Dalam perpustakaan Marxis dapat dibaca:

If our sensations, perception, notions, concepts and theories corresponds to objective reality, if reflect if faithfully, we say that they are true, while true statement, judgment or theories are called the truth

[Jika sensasi kita, persepsi kita, pemahaman kita, konsep dan teori kita bersesuaian dengan realitas obyektif, dan jika itu semua mencerminkannya dengan cermat, maka kita katakan itu semua benar: pernyataan, putusan dan teori yang benar kita sebut kebenaran].
"Dialectical materialism understands truth as that knowledge of an objective/ with correctly reflect this objectives, i.e. correspond to it"

 [Materialisme dialektika memahamkan kebenaran sebagai pengetahuan tentang sesuatu obyek, yang mencerminkan obyek tersebut secara tepat, dengan perkataan lain, bersesuaian dengan obyek yang dimaksud]
"For example, the scientific propositions that  "Bodies consists of atoms", that the " Earth prior to man", that "the people are makers of history", etc. are true"
[misalnya pengertian ilmiah bahwa "tubuh terdiri dari atom-atom"' bahwa "Bumi lebih dahulu ada dari pada manusia", bahwa "rakyat adalah pembuat sejarah", dan lain sebagainya, adalah benar].

In contrast to idealism, dialectical materialism maintains that truth is objective. Since truth reflects the objectively existing word, its content does not depend on man’s consciousness

Objective truth, LENIN Wrote, is the content of our knowledge, which neither on mans, nor on mankind. The content of truth is fully determined by the objective process it reflects

Berlawanan dengan idealisme, maka meterialisme dialektika mempertahankan bahwa kebenaran adalah obeyektif. Selama kebenaran mencerminkan dunia wujud secara obyektif, maka wujudnya itu tergantung pada kesadaran manusia. Kebenaran obyektif, tulis Lenin, adalah kandungan pengetahuan kita yang tidak tergantung, baik kepada manusia maupun kepada kemanusiaan. Kandungan kebenaran sepenuhnya ditentukan oleh proses obyektif yang tercerminkannya.

LENIN menulis:
"From live contemplation to abstract thinking and from that to practice, such is the dialectical process of cognizing the truth, of cognizing objective reality.

[Dari renungan yang hidup menuju ke pemikiran yang abstrak, dan dari situ menuju praktek, demikianlah proses dialektis tentang pengenalan atas kebenaran, atas realitas obyektif].
Selajutnya kaum Marxist mengenal dua macam kebenaran, yaitu (a) kebenaran mutlak dan (b) kebenaran relatif.

"Absolute truth is objective truth in its entirety, an absolutely exact reflection of reality"

[Kebenaran mutlak ialah kebenaran yang selengkapnya obyektif, yaitu suatu pencerminan dari realitas secara pasti mutlak]

Relative truth is incomplete correspondence of knowledge to reality. Lenin called this truth the relatively true reflection of an object which is independent of man"

[Kebenaran relatif adalah pengetahuan mengenai relaitas yang kesesuaianya tidak lengkap, tidak sempurna. Menurut Lenin, kebenaran relatif adalah pencerminan dari obyek yang relatif  benar, yang terbatas dari manusia].

Every truth is objective truth”

[setiap kebenaran adalah kebenaran yang obyektif].
"Relative truth is imperfect, incomplete truth.


[kebenaran relatif adalah kebenaran yang tidak sempurna, tidak lengkap]
Mengenai Teori Korespondensi tentang kebenaran dapat disimpulkan sebagai berikut:
Kita mengenal dua hal, yaitu : pertama pernyataan dan kedua keyataan. Menurut teori ini : kebenartan ilah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu sendiri. Sebagai contoh dapat dikemukakan: " Surabaya adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur sekarang"  ini adalah sebuah pernyataan; dan apabila kenyataannya memang Surabaya  adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur ", maka pernyataan itu benar, maka pernyataan itu adalah suatu kebenaran.
Rumusan teori korespondensi tentang kebenaran itu bermula dari ARIETOTELES, dan disebut teori penggambaran yang definisinya berbunyi sebagai berikut:

VERITAS EST ADAEQUATIO INTELLECTUS ET RHEI




 [kebenaran adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan].

TEORI KONSISTENSI TENTANG KEBENARAN
  
Teori yang kedua adalah Teori Konsistensi.
 The Consistence Theory Of Truth, yang sering disebut dengan The coherence Theory Of Truth.
According to this theory truth is not constituted by the relation between a judgment and something else, a fact or really, but by relations between judgment themselves "

(Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgment) engan sesuatu yang lalu, yakni fakta atau realitas, tetapi atas hubungan  antara putusan-putusan itu sendiri].
Dengan demikian, kebenaran ditegakkan atas hubungan  antara putusan yang baru dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui benarnya terlebih dahulu.
Jadi suatu proposisi itu cenderung untuk benar jika proposisi itu coherent [saling berhubungan] dengan proposisi yang benar, atau jika arti yang terkandung oleh proposisi tersebut koheren dengan pengalaman kita.
"A belief is true not because it agrees with fact but because it agrees, that is to say, harmonizes, with the body knowledge that we presses”

[Suatu kepercayaan  adalah benar, bukan karena bersesuaian dengan fakta, melainkan bersesuaian/selaras dengan pengetahuan yang kita miliki]

"It the maintained that when we accept new belief as truths it is on the basis of the manner in witch they cohere with knowledge we already posses”  

[Jika kita menerima kepercayan-kepercayaan baru sebagai kebenaran-kebenaran, maka hal itu semata-mata atas dasar kepercayaan itu saling berhubungan [cohere] dengan pengetahuan yang kita miliki]
“A judgment is true it if consistent with other judgment that are accepted or know to be true. True judgment is logically coherent with other relevance judgment


[suatu putusan adalah benar apabila putusan itu konsisten dengan putusan-putusan yang terlebih dahulu kita terima, dan kita ketahui kebenarannya. Putusan yang benar adalah suatu putusan yang saling berhubungan  secara logis dengan putusan-putusan lainnya yang relevance]
Jadi menurut teori ini, putusan yang satu dengan putusan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lainnya.

"The truth is systematic coherence”

 [Kebenaran adalah saling hubungan yang sistematik]

"Truth is consistency”

[kebenaran adalah konsistensi, selaras, kecocokan]
Selanjutnya teori konsistensi/koherensi ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama :
Kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan lainnya yang lebih dahulu kita akui/ terima/ ketahui kebenarannya.

Kedua:

Teori ini dapat juga dinamakan teori justifikasi tentang kebenaran, karena menurut teori ini suatu putusan dianggap benar apabila mendapat justifikasi  putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah dikatahu kebenarannya.

Misalnya:

Bungkarno, adalah ayahanda Megawati Sukarno Puteri, adalah pernyataan yang kita ketahui, kita terima, dan kita anggap benar.
Jika terdapat penyataan yang koheren dengan pernyataan tersebut diatas, maka pernyataan ini dapat dinyatakan Benar. Kerena koheren dengan pernyataan yang dahulu:
Misalnya.
-          Bungkarno memiliki anak bernama Megawati Sukarno Putri
-          Anak-anak Bungkarno ada yang bernama Megawati Sukarno Putri
-          Megawati Sukarno Putri adalah keturunan Bungkarno
-          Dll

TEORI PRAGMATISME

Teori ketiga adalah teori pragmatisme tentang kebenaran, the pragmatic [pragmatis] theory of truth. Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma, artinya yang dikerjakan, yang dapat dilaksanakan, dilakukan, tindakan atau perbuatan.
Falsafah ini dikembangan oleh seortang orang bernama William James di Amerika Serikat.
Menurut  filsafat ini dinyatakan, bahwa sesuatu ucapan, hukum, atau sebuah teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan  manfaat.
Suatu kebenaran atau suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori, hipotesa atau ide adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, jiak membawa akibat yang memuaskan, dan jika berlaku dalam praktik, serta memiliki nilai praktis, maka dapat dinyatakan benar dan memiliki nilai kebenaran.
Kebenaran terbukti oleh kegunannya, dan akibat-akibat praktisnya. Sehingga kebenaran dinyatakan sebagai segala sesuatu yang berlaku.
Menurut William James “ ide-ide yang benar ialah ide-ide yang dapat kita serasikan, jika kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa.
Menurut penganut praktis, sebuah kebenaran dimaknakan jika memiliki nilai kegunaan [utility] dapat dikerjakan [workability], akibat atau pengaruhnya yang memuaskan [satisfactory consequence].
Dinyatakan sebuah kebenaran itu jika memilki “hasil yang memuaskan “ [Satisfactory result], bila :
  1. Sesuatu yang benar jika memuaskan keinginan dan tujuan manusia
  2. Sesuatu yang benar jika dapat diuji benar dengan eksperimen
  3. Sesuatu yang benar jika mendorong atau membantu perjuangan biologis  untuk tetap ada.


EXERCISE

Diskusikan dan lakukan refleksi:


  • Kebenaran adalah saling hubungan yang sistematik
  • Kebenaran karena otoritas acap kali menipu mengapa demikian ?
  • Jika  suatu putusan sesuai dengan fakta, maka dapat dikatakan benar ; Jika  tidak maka dapat dikatakan salah, mengapa demikia



RUJUKAN


Alex Lanur OFM  [1993] Hakikat Pengertahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu  : Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama Jakartaà 91:99
Alfon Taryadi  [1989] Epistemologi Pemecahan Masalah [menurut Karl. R. Popper]  : Penerbit  PT Gramedia  Jakartaà Bab III   67:89
Amsal Bakhtiar [2004] Filsafat Ilmu  : PT Raja Grafindo Persada Jakartaà Bab III 85 : 1224
Jujun Surisamantri [2004] Ilmu Dalam Perpektif [Sebuah kumpulan karangan tentang hakikat ilmu]: Yayasan Obor Indonesia  Jakartaà Bab IV  61:70
--------------------- [2004] Filsafat Ilmu [Sebuah Pengantar Populer] : Yayasan Sinar Harapan  Jakartaà Bab V 165:211, 
---------------------[2004] Ilmu Dalam Perpektif Moral, Sosial dan Politik  Penerbit Gramedia  JakartaBab 10  74:87 Bab XI 81:87
Mohammad Muslih [[2004] Filsafat Ilmu [Kajian atas asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan] : Penerbit Belukar à Bab V 89:119
Mohammad Zaenudin[2003] Menggoyang Pikiran [ Menuju Alam Makna]  : Penerbit Pustaka Remaja à Bab VII  62 : 79
Noeng Muhadjir [2001] Filsafat Ilmu [Positivisme, Postpositivisme, dan Postmodernisme] : Penerbit Rake Sarasin Yogyakartaà Bab III  51 : 54